Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Imlek: Melek Akulturasi

Oleh Lilik Puji Rahayu, S.Pd., M.Pd.

Perayaan Imlek kini bisa dinikmati di seluruh negeri, sebagaimana masyarakat merayakan adat tradisinya masing-masing. Pengakuan Imlek sebagai bagian budaya nasional ini adalah sumbangsih presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) dengan mencabut beberapa peraturan-peraturan yang dianggap diskriminatif terhadap orang-orang Tionghoa.

Momen Imlek lekat sekali dengan harapan keberuntungan serta keharmonisan keluarga. Menjadi momen tepat untuk berkumpul bersama keluarga, membagikan angpao kepada sanak saudara, hingga beristirahat sejenak dari berbagai kesibukan dunia. Menjadi momen untuk mensyukuri semua hal yang sudah didapat, serta menatap dengan optimis semua tantangan ke depannya.

Imlek tidak hanya menjadi seremoni tahunan bagi etnis tionghoa saja. Banyak sekali makna penting dari perayaan imlek yang dapat diimplementasikan bagi semua orang. Satu yang paling penting adalah menyadarkan kita tentang akulturasi budaya bangsa.

Dimana di setiap daerah memiliki cara unik tersendiri untuk ikut serta merayakan imlek. Seperti contohnya di Semarang, perayaan Imlek disambut dan dirayakan warga lintas etnis. Banyak masyarakat yang mengunjungi beragam festival di kawasan Pecinan. Pasar Imlek Semawis (PIS) menjadi salah satu rujukan penyelenggaraan agenda merayakan Imlek selama berpuluh-puluh tahun di kota Semarang. Sebab ada beragam agenda, seperti festival kuliner dan pertunjukan barongsai yang dipadukan dengan kebudayaan jawa.

Pembaruan lintas etnis inilah yang menjadikan momentum Imlek sebagai momen peraayaan penting. Akulturasi tradisi ini menjadi jembatan untuk menghapus antarsekat etnis dan agama. Keberagaman budaya tak menjadi penghalang bagi persatuan bangsa. Hal ini justru menjadi semakin eratnya persatuan.

Melek Akulturasi
Masyarakat nampaknya semakin menyadari bahwa akulturasi budaya Tionghoa ke Indonesia sudah terjadi jauh-jauh hari dan diterima dengan baik. Contoh diantaranya adalah Barongsai yang merupakan produk akulturasi. Di daerah Jawa sendiri barongan biasanya juga dipertunjukkan dalam kesenian Kuda Lumping. Di Bali juga ada pertunjukan tari barong yang alunan musiknya senada dengan iringan musik barongsai.

Akulturasi di bidang kuliner bahkan lebih terasa. Contohnya bakso, cakwe, lumpia dan kue bolang-baling. Makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat Indonesia ini merupakan makanan adaptasi dari Tionghoa. Lebih baru lagi ketika muncul makanan bernama lontong cap go meh, yang semakin banyak orang ingin menikmatinya. Ada lagi makanan khas perayaan imlek yang berasal dari tepung ketan dan gula jawa yakni kue keranjang. Disebut kue keranjang, karena saat diberikan kepada teman/keluarga di saat perayaan imlek diletakkan dalam keranjang. Sama dengan kue keranjang, di Jawa ada kue sejenis itu, yakni ‘jenang’ yang berasal dari tepung ketan dan gula jawa, yang biasanya disuguhkan saat ada hajatan.

Pengaruh arsitektur Tionghoa pun terlihat pada bentuk masjid-masjid yang bergaya arsitekstur seperti kelenteng. Masjid Jami’ Ceng Ho di Kecamatan Mrebet, Purbalingga contohnya. Masjid ini memperlihatkan arsitektur Tionghoa dimana desain interior dan eksteriornya bernuansa kelenteng. Akan tetapi aktivitas di dalamnya sarat dengan nuansa Islami. Ini menunjukkan bahwa akulturasi budaya sudah diterima dengan baik di Indonesia baik untuk kalangan antaretnis maupun agama.
Berbeda dengan arsitektur bangunan, alat musik seperti gong dan canang/bende sejenis gong kecil, suling, kecapi telah masuk dan menjadi alat musik daerah di Indonesia. Gambang Keromong merupakan perpaduan antara musik jawa dan Tiongkok, pada mulanya adalah musik tradisional dari Betawi yang digunakan untuk mengiringi upacara sembahyang orang keturunan Tionghoa. Namun sekarang berkembang menjadi musik hiburan rakyat.

Akulturasi budaya pun sudah menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat Indonesia. Kebiasaan minum teh yang disuguhkan kepada tamu sudah cukup populer di Indonesia. Biasanya masyarakat menyuguhkan minuman hangat saat ada tamu berkunjung ke rumah, baik suguhan teh hangat, atau dengan mengganti teh dengan kopi.

Kemudian tradisi saling berkunjung dengan memberikan jajanan atau masakan pada hari raya. Ini sama seperti yang dilakukan oleh etnis Tionghoa saat perayaan imlek, yang mahsyur dengan pembagian angpau yang berisi uang dan pembagian kue keranjang pada kerabat, keluarga, teman, tetangga dan orang-orang yang disayangi.
Wayang Potehi di Jawa pun sebagai wujud akulturasi budaya. Kata “Potehi” berasal dari kata Poo berarti kain, Tay (kantong), Hie (wayang). Secara lengkap istilah Po Te Hi memiliki arti wayang kantong atau boneka kantong. Cara memainkannya adalah dengan memasukkan jari tangan ke dalam kantong kain dan menggerakkannya sesuai dengan jalannya cerita.

Dengan bukti-bukti kekayaan kebudayaan Indonesia hasil akulturasi dengan bangsa Tionghoa tidak perlu lagi memperdebatkan dikotomi warga keturunan Tionghoa dengan masyarakat pribumi, karena mereka adalah satu kesatuan NKRI.
Pelajaran penting lain dari imlek adalah rasa syukur. Selama perayaan imlek, masyarakat Tionghoa merayakannya dengan sembahyang Imlek dan perayaan Cap Go Meh yang bertujuan sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapatkan rezeki yang lebih berlimpah barokah. Selamat Tahun Baru Imlek 2020 Gong Xi Fa Chai.

- Penulis adalah Pecinta Budaya, Praktisi Pendidikan. Guru SD Supriyadi Semarang.
Label:

Posting Komentar

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget