Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Juni 2020

Semarang, Harianguru.com - Pendidikan dan Pelatihan Gerakan Literasi Ma'arif (GLM) LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah edisi ke-4 mengangkat materi Kuliah Artikel Ilmiah, Senin (29/6/2020). Pada kesempatan itu, panitia mendapuk Farid Ahmadi, M.Kom., Ph.D., dosen UNNES dan reviewer jurnal dan Hamidulloh Ibda editor dan reviewer jurnal. Puluhan guru-pelajar Ma'arif, dan dosen serta masyarakat luas turut menyimak kegiatan webinar tersebut.

Dalam pemaparannya, Farid Ahmadi, M.Kom., Ph.D., menjelaskan beberapa strategi publikasi dan dimuat di jurnal ilmiah bereputasi. "Harus ada keunikan dan kualitas karya kita agar berpeluang dimuat," papar dosen kelahiran Kendal tersebut.

Pengurus Pusat ISNU tersebut juga menambahkan, bahwa untuk jurnal terindeks Scopus, perlu menggandeng penulis lain yang sudah H indeks tinggi. "Menulis artikel ilmiah agar tembus Scopus harus menggandeng penulis lain, jangan satu author. Baik itu pembimbing, orang yang terlibat dalam penelitian kita, atau orang yang pakar Bahasa Inggris yang bisa kita ajak kerjasama untuk mentranslate artikel kita, misalnya kita memang tidak bidangnya Bahasa Inggris, itu bisa jadikan partner author dalam artikel kita. Apalagi kita mengajak mereka yang jurnal Scopusnya banyak, pasti lebih dipertimbangkan," beber Koorprodi S2 Pengembangan Kurikulum dan Koorprodi S2 Pendidikan Luas Sekolah Pascasarjana UNNES tersebut.

Pihaknya juga menjelaskan anatomi artikel sesuai kaidah penulisan umum. "Usahakan jurnal atau literatur yang kita rujuk itu bereputasi, dan lima tahun terakhir, karena itu menjadi pertimbangan dimuat atau tidak," tegas dosen yang memiliki 11 dokumen artikel terindeks Scopus tersebut.

Sementara itu, Hamidulloh Ibda juga membeberkan beberapa strategi publikasi di jurnal ilmiah. "Pertama, tulislah artikel ilmiah sesuai disiplin ilmu, karena editor atau redaksi jurnal mempertimbangkan kepakaran kita, bahkan juga disinkronkan dengan akun Google Scholar milik kita. Kalau bidang kita sastra, ya tulislah dan telitilah sastra, jangan memaksa menulis tentang inklusi, meski bisa kita menulis dengan variabel kedunya," papar Kaprodi PGMI STAINU Temanggung tersebut.

Kedua, menurut dia, baca dan taat author guidelines, pedoman penulisan atau gaya selingkung di setiap jurnal yang dituju. "Kalau di sana memakai APA Style, ya artikel kita jangan memakai Chicaho, SPA, atau Harvard Style," lanjut editor Jurnal ASNA tersebut.

Ketiga, menurut Ibda, artikel Anda harus berkualitas dan harus ada kebaruan atau novelty. "Misal, kalau sudah ada kerupuk rasa udang, maka Anda bisa membuat kerupuk rasa durian, yang seperti ini pasti menarik," tandas reviewer JRTIE IAIN Pontianak tersebut.

Keempat, kata Ibda, artikel harus bebas plagiasi atau similarity. "Ketika sudah submit, editor atau redaksi jurnal itu tidak peduli siapa kita, apa sudah doktor, profesor apa belum, yang penting ketika dicek similarity kok di atas 30 persen, ya kalau editornya saya langsung tak decline alias ditolak," papar Koordinator GLM LP Ma'arif PWNU Jateng itu.

Kelima, kata dia, silakan sitasi rujukan bereputasi, bahkan artikel dari jurnal yang Anda tuju. "Keenam, ketika ada review langsung kerjakan revisiannya, sebelum dateline yang ditentukan," tegas penulis buku Guru Dilarang Mengajar! tersebut.

Selanjutnya, kata dia, rajin-rajin lah login di OJS jurnal itu untuk mengecek kemajuan jurnal, dan utamakan berdoa kepada Allah sang penentu kehidupan.

Sesuai rencana, tindaklanjut dari webinar GLM itu akan dijadikan forum pendampingan lewat peminatan yang sudah direncanakan panitia. (Hg99).

Ketua FKPT Jateng Prof Dr Syamsul Maarif 
Semarang, Harianguru.com - Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah, Prof. Dr. Syamsul Maarif mengatakan bahwa local genius terbukti ampuh mencegah tumbuh kembangnya paham radikal terorisme.

“Berdasarkan data hasil penelitian FKPT tahun 2019, kearifan lokal terbukti ampuh untuk menghadang dan memutus ideologi paham radikal intoleran. Oleh karena itu, mari bersama-sama menjaga dan melestarikan kearifan lokal. Ulama dan tokoh masyarakat atau yang biasa disebut dengan istilah Kiai dalam terminologi Jawa merupakan sumber, pelaku dan penjaga kearifan lokal. Dari tangan dingin dan keteladan mereka ajaran Islam mewujud menjadi agama yang menebar kasih sayang kepada semesta alam. Ini merupakan soft power approach dalam mencegah terorisme yang tidak kenal situasi seperti saat covid-19 ini” tuturnya.

Hal ini disampaikan pada acara Halalbihalal Virtual bersama Ulama dan Tokoh Masyarakat yang diadakan oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah pada Jumat, 12 Juni 2020.

Kegiatan yang disiarkan langsung melalui aplikasi Zoom itu dihadiri sejumlah Tokoh dan Ulama Jawa Tengah. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo turut hadir dan menyampaikan dalam sambutan secara live supaya masyarakat Jawa Tengah mengambil sisi positif dari wabah covid-19.

“Sisi positif dari corona ini mengajari kita banyak hal, ada rasa kemanusiaan, saling tolong menolong, toleransi, mau membantu dengan ikhlas, bahkan bumi ini direstart, bumi ini di reinstall, pencemaran udara menurun, ozon tertutup kembali” tuturnya.

Ganjar juga bersyukur karena Jawa Tengah memiliki kearifan lokal yang agung seperti masyarakatnya yang ramah, wajah yang senyum, senang menolong. Semua itu harus dijaga demi relasi sosial masyarakat yang baik, agar lahir situasi bahagia, aman, nyaman dan tentram dalam kehidupan bermasyarakat. Kalau sudah demikian, nanti masalah-masalah bisa dihadapi bersama.

Ganjar berharap supaya masyarakat Jawa Tengah selalu berpikir positif. “Pokoknya Bapak Ibu Sehat terus, bantu masyarakat, ajari pikiran positif, jaga pola hidup sehat, kemudian wajahnya bersinar karena terpancar keikhlasan hati kita semua” pungkasnya.

Kepala BNPT, Komjen Pol. Boy Rafli Amar yang juga hadir dalam giat tersebut menyampaikan apresiasi kepada FKPT Jawa Tengah yang dalam kondisi pandemi tidak membuat patah semangat namun justru mampu beradaptasi menyesuaikan diri dengan terus bergerak mengisi kemerdekaan. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu beradaptasi” tuturnya.

Rafli Amar mengharapkan sinergitas antara ulama dan umaro terus dikuatkan untuk menangkal paham radikal intoleran terorisme. Karena terorisme tidak cukup dihilangkan dengan hukuman terhadap pelaku, tetapi perlu pelurusan pemahaman terhadap ideologi yang keliru. Sehingga sinergitas alim ulama yang bijaksana dengan ulama sangat diperlukan.

Selain Gubernur Jateng, Gus Mus, dan Kepala BNPT, acara yang dimulai pukul 19.00 WIB hingga 22.00 WIB tersebut ini juga dihadiri sejumlah ulama dan tokoh masyarakat Jawa Tengah, yang masing-masing memberikan sambutan yaitu: KH. Ahmad Daroji (Ketua MUI Jawa Tengah), KH. Tafsir (Ketua PW Muhammadiyah Jawa Tengah), KH. Ubaidillah Shodaqoh (Rais Syuriah PW Nahdlatul Ulama Jawa Tengah), Prof. Dr. Imam Taufiq (Rektor UIN Walisongo Semarang) dan Haerudin, M.H (Kepala Badan Kesbangpol Jawa Tengah).

Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan hiburan dari Keroncong Sekar Banawa dan Duta Damai Dunia Maya BNPT Jawa Tengah. Tausiyah disampaikan oleh KH. Hudallah Ridwan Naim dan diakhiri dengan doa. (Hg44/Ar).

Semarang, Harianguru.com - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengajak masyarakat Jawa Tengah supaya dapat mengambil sisi positif dari wabah corona yang melanda saat ini. Karena jika masyarakat sibuk menyalahkan kondisi hal itu justru tidak menyelesaikan masalah.

“Sisi positif dari corona ini mengajari kita banyak hal, ada rasa kemanusiaan, saling tolong menolong, toleransi, mau membantu dengan ikhlas, bahkan bumi ini direstart, bumi ini di reinstall, pencemaran udara menurun, ozon tertutup kembali” tuturnya.

Ia juga bersyukur karena Jawa Tengah memiliki kearifan lokal yang agung seperti masyarakatnya yang ramah, wajah yang senyum, senang menolong. Semua itu harus dijaga demi relasi sosial masyarakat yang baik, agar lahir situasi bahagia, aman, nyaman dan tentram dalam kehidupan bermasyarakat. Kalau sudah demikian, nanti masalah-masalah bisa dihadapi bersama.

Ganjar juga berharap supaya masyarakat Jawa Tengah selalu berpikir positif.
“Pokoknya Bapak Ibu Sehat terus, bantu masyarakat, ajari pikiran positif, jaga pola hidup sehat, kemudian wajahnya bersinar karena terpancar keikhlasan hati kita semua” pungkasnya.

Hal ini disampaikan pada acara Halalbihalal Virtual bersama Ulama dan Tokoh Masyarakat yang diadakan oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah pada Jumat, 12 Juni 2020, yang disiarkan langsung melalui aplikasi Zoom.

Kegiatan yang dimulai pukul 19.00 WIB hingga 22.00 WIB ini juga menghadirkan KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) sebagai salah satu narasumber. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlotut Thalibin Leteh Rembang ini menyampaikan bahwa pandemi covid-19 merupakan suatu pelajaran yang besar sekali dari Allah SWT. Ketika sebagian dari kita banyak yang melupakan jatidirinya sebagai manusia yaitu hamba Allah yang dipasrahi menjadi kholifahnya di muka bumi ini, Allah betul-betul memukul kita dengan pelajaran yang dahsyat dengan adanya pandemi yang melanda seluruh manusia yang ada di muka bumi ini.

"Kita kadang-kadang terlalu sadar kekhalifahan kita sehingga melupakan kehambaan kita, atau sebaliknya. Kita kadang-kadang menganggap manusia hanya terhadap orang-orang yang kita setujui. Kita hanya menganggap manusia kepada mereka yang kita senangi, kita sukai, kita cintai, segala macam kepentingan-kepentingan duniawi selama ini melupakan bahwa kita sebenarnya bersaudara. Kadang-kadang kita bahkan tega mengalirkan darah saudara-saudara kita sendiri. Seperti yang terjadi dibeberapa belahan dunia. Mudah-mudahan dengan adanya teguran berat atau pelajaran besar dari Allah SWT yang berupa pandemi ini, kita nantinya bisa menjaga jarak dengan dunia ini sehingga kita lebih akrab dengan Allah SWT, kita tetep menjadi hambanya dan menjadi penguasa bumi sebagai kholifahnya” terangnya.

Selain Gubernur, Gus Mus, dan Kepala BNPT, Komjen Pol. Boy Rafli Amar, acara ini juga dihadiri sejumlah ulama dan tokoh masyarakat Jawa Tengah dengan memberikan sambutan, di antaranya KH. Ahmad Daroji (Ketua MUI Jawa Tengah), KH. Tafsir (Ketua PW Muhammadiyah Jawa Tengah), KH. Ubaidillah Shodaqoh (Rais Syuriah PW Nahdlatul Ulama Jawa Tengah), Prof. Dr. Imam Taufiq (Rektor UIN Walisongo Semarang) dan Haerudin, M.H (Kepala Badan Kesbangpol Jawa Tengah).

Prof. Dr. Syamsul Maarif, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah dalam sambutannya menyampaikan pentingnya peran aktif Kiai di tengah pandemi seperti sekarang ini.
“Di masa pandemi seperti sekarang ini, peran ulama dan tokoh masyarakat atau yang biasa orang Jawa menyebutnya dengan kiai ini sangat penting karena penyebaran paham radikal terorisme tidak mengenal pandemi, masyarakat tidak boleh lengah dengan paham radikal terorisme ditengah covid-19 yang justru bisa mencuri momentum dengan memprovokasi masyarakat. Oleh karena itu, para Kiai yang merupakan kearifan lokal diharap dapat menjadi inspirasi dan peneduh dalam beragama yang menebar kasih sayang kepada semesta alam.” Terangnya.

Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan hiburan dari Keroncong Sekar Banawa dan Duta Damai Dunia Maya BNPT Jawa Tengah. Tausiyah disampaikan oleh KH. Hudallah Ridwan Naim dan diakhiri dengan doa. (Hg88/Ar).

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget