Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Oktober 2020


Sukoharjo, Harianguru.com – Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah Prof Dr KH Syamsul Ma’arif, M.Ag., didapuk Bidang PENAISZAWA Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah dalam Penguatan Kompetensi Penceramahan Agama di Jawa Tengah, Jumat (23/10/2020) di Hotel Syariah, Karatusara, Kabupaten Sukoharjo.


Prof Syamsul menyampaikan materi bertajuk Gerakan Terorisme Dunia & Upaya Penanggulangan Di Jateng. “Terorisme merupakan kejahatan kemanusiaan, kejahatan luar biasa, dan kejahatan lintas Negara. Terorisme merupakan ancaman bagi keselamatan Negara dan Bangsa Indonesia. Terbukti dengan rangkaian peristiwa sejak bom bunuh diri di Bali taahun 2002 hingga terkuaknya jaringan radikal – teror baru. Upaya penanggulangan terorisme yang paling efektif dilakukan adalah memberdayakan sumber daya nasional, serta berporos pada kemitraan yang efektif antara Negara dan warga masyarakat,” tegasnya.


Kemajuan teknologi digital, lanjutnya, telah dimanfaatkan secara maksimal dalam program pendidikan teroris, propaganda dan perekrutan anggota baru dan penggalangan dana. 


Maka dari itu, Dekan FPK UIN Walisongo itu juga menegaskan pencermah agar memperkuat moderatisme, menanunggulangi penyebaran ajaran radikalisme di tengah masyarakat, dengan cara mensosialisasikan tipologi gerakan radikalisme. “Penceramah harus menarasikan damai, membangun harmoni, dan peduli pada kemanusiaan,” tegasnya.


Pihaknya juga mengenalkan FKPT sebagai organisasi yang dibentuk BNPT yang bertugas menanggulangi terorisme maupun radikalisme. "Sesuai Peraturan BNPT, No. 3 Tahun 2019 Tentang Pedoman Umum FKPT di Daerah, Pasal 1 FKPT adalah organisasi yang dibentuk oleh BNPT di tingkat Daerah sebagai mitra strategis BNPT dalam melaksanakan tugas kordinasi pencegahan terorisme di daerah,” lanjutnya.


Pencegahan tindak pidana terorisme, menurut Prof Syamsul adalah upaya mencegah terjadinya tindak pidana terorisme melalui kesiapsiagaan, kontra radikalisme, dan deradikalisasi.

Hal itu wajib diketahui penceramah di Jawa Tengah, karena menurut Guru Besar UIN Walisongo tersebut, saat ini aksi terorisme sudah disebar melalui cara-cara baru. “Dunia maya, internet, media sosial, adalah cara baru dalam perekrutan anggota kelompok radikal dan teroris. Ide-ide radikal yang berasal dari jaringan teroris, disebarkan secara massif via internet dan/atau media sosial,” bebernya.


Sedangkan cara lama, proses dan pola rekruitmen teroris yaitu melalui tiga hal. Pertama, melalui pengajian umum yang menyebarkan kebencian terhadap kelompok yang dianggap sebagai kafir dan atau thogut. Kedua, ada baiat atau janji setia pada kelompok radikal. Ketiga, ada pertemuan atau pengajian khusus bagi orang-orang yang mulai tertarik pad ide radikalisme.


Untuk membendung hal itu, Prof Syamsul dalam materinya memberikan beberapa solusi. Pertama, Tindakan pencegahan, yaitu mencermati dan mengikuti secara aktif perkembanan yang terjadi di lingkungan sosial sekitarnya sebagai bagian dari deteksi dini terhadap potensi gangguan dan ancaman terorisme.


Kedua, tindakan persuasif. “Merangkul dan melibatkan individu, keluarga, dan kelompok masyarakat pelaku terror dan pendukung serta simpatisannya dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan untuk resosialisasi dan reintegrasi,” lanjutnya.


Ketiga, Tindakan intervensi, yaitu masyarakat bersama-sama dengan aparat menghentikan kegiatan atau tempat yang dijadikan pembibitan, penyebaran ajaran radikalisme dan pelatihan teroris.


Keempat, tindakan nyata. “Membuat rencana untuk menghadapi situasi darurat. Membiasakan diri untuk menghadapi situasi darurat dan penyelamatan diri, Mencatat dan mengetahui nomor-nomor penting yang bias dihubungi dalam menghadapi situasi genting, seperti kerabat, sahabat, ketua RT, ketua RW, Kepala Desa, Kepolisian, Rumah Sakit,Pemadam Kebakaran, dan PLN terdekat,” paparnya.

Hal itu tentu dibutuhkan peran penceramah agama di Jawa Tengah. Mereka harus dapat menjadi agen dalam pencegahan terorisme. (HG10)


Semarang, Harianguru.com – Program Madrasah/Sekolah Inklusi LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah yang dilaksanakan di sejumlah tempat mendapat apresiasi di kancah nasional. Hal itu terungkap dalam pemuatan beberapa foto kegiatan siswa/guru Ma’arif di Majalah United Nations Comprehensive Response to COVID-19 Saving Lives, Protecting Societies, Recovering Better edisi September 2020. Majalah itu resmi diunggah melalui laman unsdg.un.org.

Ketua LP Ma’arif PWNU Jateng R. Andi Irawan mengapresiasi berbagai pihak yang telah menyukseskan kegiatan inklusi di Jawa Tengah sehingga PBB memilih aktivitas madrasah inklusi Ma’arif di kancah global. Hal itu diungkapkannya dalam rapat Pengurus Harian LP Ma’arif PWNU Jateng pada Jumat malam (2/10/2020).

Senada dengan hal itu, Wakil Ketua LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah Fakhrudin Karmani mengatakan bahwa pemilihan foto itu bukan rekomendasi UNICEF, melainkan langsung dari PBB.


Menurut Fakhrudin, dua siswa itu adalah Syaiful (Iful) dan Millah yang muncul di laporan global PBB, pada halaman 36 dan 62. Laporan itu bukan publikasi UNICEF, dan foto-foto kegiatan siswa dan guru Madrasah Inklusi khususnya MI Ma’arif Keji Kabupaten Semarang dan MI Ma'arif Ciberem Banyumas sudah digunakan utk publikasi resmi PBB.

Syaiful adalah siswa MI Ma'arif Ciberem Banyumas dan Millah merupakan siswi MI Ma'arif Keji Kabupaten Semarang.

Pada halaman 36, ditulis “Syaiful, 12 tahun, seorang anak dengan gangguan fisik, studi dengan gurunya Fatikhatus di Banyumas, Jawa Tengah”.

Sementara pada halaman 62, Millah ditulis “Gadis berusia dua belas tahun dengan seorang disabilitas intelektual menerima panggilan video darinya guru saat belajar di rumah di Ungaran, Jawa Tengah.”

Selain masuk di laporan global PBB, kegiatan inklusi LP Ma'arif Jawa Tengah di beberapa madrasah juga dimuat di media resmi Unicef yaitu unicef.org. Pertama bertajuk "Shades in the Crayon Box: The Stories of Kevin and Syaiful". Kedua bertajuk "Keberagaman adalah Sumber Belajar: Kisah Atika". Ketiga bertajuk "Mendaki Puncak Dunia: Kisah Millah".

Pihaknya mengapresiasi terpilihnya foto kegiatan itu karena tanpa disadari dan direkomendasi, dalam laporan PBB ditulis dan dijadikan sebagai laporan global. Hal ini merupakan hal luar biasa untuk memajukan pendidikan inklusi di Jawa Tengah dan umumnya di Indonesia. (*)


Surakarta, Harianguru.com - Bertempat di Hotel Sunan  Surakarta, Kabid Perempuan dan Anak Forum Koordinator Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah  Dra.Atiek Surniati.S,M.Si., mewakili Ketua FKPT Jateng Prof Dr Syamsul Ma’arif pada hari  Jumat, (2/10/2020). 

Dalam kegiatan " Silaturahim Kebangsaan dalam Rangka Pencegahan Paham Radikalisme Terorisme " bersama Forkopimda, Toga, Toma di Prov.Jawa Tengah itu diikuti peserta berjumlah 60 orang. Kegiatan itu guna untuk mencegah penyebaran paham radikalisme dan terorisme.

Hadir secara virtual Gubernur Jawa Tengah H. Ganjar Pranowo, lalu hadir di lokasi Walikota Surakarta diwakili Asisten Pemerintahan, Bupati Karang Anyar, jajaran Forkopimda Surakarta, Toga dan Toma dari pondok pesantren, Kesbangpol, dan perwakilan FKPT Jawa Tengah.

Rangkaian acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dilanjutkan dengan doa, laporan penyelenggara oleh Kol.Sujatmiko, dan pengaraham Gubernur Jawa Tengah secara virtual dengan beberapa penekanan. Menurut Gubernur Jateng, melihat kondisi saat ini dalam upaya menangkal radikalisme, perlu kerja keras semua elemen bangsa untuk menunjukkan kepada mereka, mengajak membaca sejarah apabila ada orang yang ingin mengganti Pancasila secara radikal dengan Ideologi lain berarti mereka tdk memahami terbentuknya negara ini.

“Mari membuat gerakan gerakan dan terlibat langsung dalam menangkal radikalisme. Menggiring anak muda untuk berprestasi , berkegiatan yang dapat menciptakan semangat toleransi, semangat kebersamaan, untuk menyentuh rasa keadilan dan mendorong agar membuat dan menjadi anak  muda yang memiliki narasi  yang baik,” kata Ganjar Pranowo.

Sementara pengarahan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar, pihaknya mengingatkan bahwa tugas BNPT, tidak dapat dikerjakan sendiri tanpa ada dukungan dari semua elemen, membangun kesiap siagaan dari semua golongan, agar dapat mengeliminir gerakan yang ada, yang bisa tertangani secara masif, bisa dihindari dan tidak ada ruang dari pihak-pihak yang dapat berdampak buruk. “Radikalisme Intoleransi dan lainnya harus dihabisi dengan radikal yang lebih kuat yaitu semangat, strategi kita kuatkan dengan nilai nilai kebangsaan,” tegasnya.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi. Kegiatan berjalan lancar berakhir pada pukul 17.00 WIB. (*)

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget