Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

November 2020


Ende, Harianguru.com - Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung Hamidulloh Ibda, M.Pd., didapuk Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Kemenag RI mengisi kegiatan “Pelatihan Guru dan Tendik di Daerah 3T” yang diselenggarakan pada tanggal 28 November 2020 sampai 1 Desember 2020 di Syifa Hotel Jl. Gatot Subroto KM3, Kel. Mautapaga, Ende Timur, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur. 


Pihaknya berkesempatan menyampaikan materi bertemakan

"Membangkitkan Gerakan Literasi di Madrasah dalam Pengembangan Diri Guru melalui Forum Kerja Guru di Daerah 3T" pada Ahad (29/11/2020).


Dalam materinya, ia menjelaskan best practice Gerakan Literasi Madrasah yang dilakukan di Jawa Tengah. Menurut dia, literasi adalah perintah Allah pertama kali yang sudah ada di Alquran pada surat Al-Alaq. "Namun harus kita pahami, literasi saat ini harus bergeser. Jika dulu paradigmanya adalah literasi lama saja yaitu membaca, menulis, berhitung, kini kita harus melakukan literasi baru yaitu literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia," beber penulis buku Konsep dan Aplikasi Literasi Baru di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 tersebut.


Jika diterjemahkan, maka ada beberapa jenis karya yang dapat dikembangkan di madrasah. "Ada empat jenis karya yang harus diperkuat di NTT ini. Mulai dari karya tulis jurnalistik, karya tulis ilmiah, karya sastra dan karya digital," beber penulis buku Dosen Penggerak Literasi tersebut.


Dijelaskannya, bahwa skema gerakan literasi yang dapat dilakukan di MI, MTs, MA di NTT dapat dilakukan melalui empat pola. "Yaitu pendidikan-pembelajaran, pembiasaan-pembudayaan dan keteladanan," beber Kabid Bidang Media Massa, Hukum, dan Humas FKPT Jateng tersebut.


Beberapa best practice yang ia sampaikan mulai dari pembiasaan-pembudayaan tradisi Islam Wasatiyah seperti membaca aqoid 50, selawat Nabi, asmaul husna, hafalan surat pendek, burdahan dan lainnya sebagai pengganti kegiatan 15 menit membaca sebelum kegiatan pembelajaran dimulai.


"Madrasah juga perlu mendirikan Lembaga Pers Siswa, media menulis siswa, membuat mading, buletin, tabloid, majalah. Juga perlu membuat media ilmiah penerbit dan percetakan buku, jurnal ilmiah, dan perlu juga menguatkan karya digital seperti pembuatan meme dan video pembelajaran di Youtube," papar Pengurus LTN NU Temanggung tersebut.


Selain itu, skema rencana tindak lanjut juga ia buat. Mulai dari pendidikan-pembelajaran, penerbitan-percetakan, perlombaan. "Forum KKG dan MGMP harus menjadi wadah meningkatkan profesionalisme guru baik secara kompetensi pedagogi, kepribadian, sosial, maupun profesional. Khususnya pada aspek pengembangan diri dan pengembangan keprofesian berkelanjutan," papar penulis buku Sing Penting NUlis Terus tersebut.


Pihaknya juga siap mendampingi Forum KKG dan MGMP di NTT dalam melakukan pendidikan dan pelatihan. Mulai dari diklat karya tulis jurnalistik, diklat karya tulis ilmiah, diklat karya sastra dan diklat karya digital.


"Sesuai yang sudah ada pada form rencana tindak lanjut, segera lakukan analisis SWOT potensi dan sumber daya yang ada untuk menerapkan gerakan literasi madrasah di daerah 3T. Saya yakin akan berbeda. Sekali lagi, tidak semua konsep atau program literasi yang saya sampaikan ini dapat diterapkan. Maka harus menyesuaikan dengan local knowledge (pengetahuan lokal), local genius (kecerdasan lokal), dan local wisdom (kearifan lokal) di masing-masing madrasah," kata penulis buku Media Literasi Sekolah tersebut.


Inti dari literasi, kata dia, harus melakukan tiga pilar. "Kalau menurut Phoenix, ada tiga pilar literasi yaitu membaca, menulis dan mengarsipkan. Sudah saatnya madrasah di NTT ini menjadi pelopor literasi," beber dia. (HG99).


Lasem, Harianguru.com - Dalam pelaksanaan Gerakan Literasi Ma'arif (GLM) yang dihadiri oleh ketua LP Ma'arif dan jajarannya, kepala MANU, SMKNU Lasem beserta anggota yang terdiri dari guru atau karyawan.


Nur Hasan Ketua Ma'arif NU Lasem dengan sambutan yang luar biasa yang menginginkan agar guru dan karyawan dapat mengamalkan apa yang didapat pada acara literasi ini dan ada pantauan dari Ma'arif Jateng, Sabtu (7/11/2020).

Acara ini di gelar sehari dengan nara sumber yang masih muda dan berkompeten dibidangnya bersama Hamidulloh Ibda (Penulis, koordinator GLM LP Ma'arif PWNU Jateng), Eko Sam (cerpenis, Editor Maarifnujateng.or.id) dan Miftakhul Khoiri (Youtuber, content creator, LP Ma'arif PWNU Jateng).

Semua peserta antusias mengikuti acara literasi sampai kelar. Menurut salah satu peserta acara literasi ini, acara ini sangat bagus sekali agar guru dan karyawan melek terhadap literasi. (HG99/HS).


Semarang, Harianguru.com
–  Fakultas Psikologi dan Kesehatan Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang mengadakan Webinar International dengan tema "Islamic Perspective on Psychopathology in the Era  of Disruption yang bertempat di ICT Kampus III UIN Walisongo Semarang pada  Kamis (5/11/2020).

Webinar International ini, diselenggarakan FPK UIN Walisongo bekerjasama dengan: International Institute of Islamic Thought (IIIT), Asosiasi Psikologi Islam (API), dan Asosiasi Psikologi Positif Indonesia (AP2I). Acara ini menghadirkan para pakar praktisi psikopatologi, yaitu Hanan Dover, M.Psych, MA Hons - Clinical and Forensic Psychologist, Psychentral, Sydney-Australia, Dr. Nada Ibrahim - Center for Islamic Thought and Education, UniSA Education Futures, University of South Australia, Olga Pavlova, Ph.D. - Moscow State University of Psychology and Education, Moscow- Russian Federation, Dr. Ahmad Gimmy Prathama Siswadi, M.Si - Islamic Psychology Association (API).


Dekan FPK Prof. Dr. Syamsul Ma'arif, M.Ag., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi  atas terselenggaranya acara ini. "Tema yang diangkat sangat kekinian dan berusaha menjawab berbagai persoalan yang sedang dihadapi masyarakat kontemporer; era disruptif  melahirkan berbagai problem psikologis, seperti stress berkepanjangan, disorientasi, suka marah, dan merasa teraliniasi yang terkadang akumulasi penyakit kesehatan mental ini melahirkan disorder sosial. Sementara menghadirkan prespektif Islam dalam Psikopatologi diyakini, dapat memecahkan berbagai problem masyarakat modern. Sebab Islam akan mengembalikan seseorang untuk mengenali dirinya sendiri, menghadirkan kekuatan keimanan pada Allah Swt., yang menuntun seseorang mengoptimalkan seluruh fungsi akal, hati, dan perilaku secara berimbang dan beriringan,” katanya.


Di samping itu, Prof. Syamsul menyampaikan bahwa salah satu tujuan webinar internasional ini adalah sebagai upaya untuk mendukung pembaharuan fokus dan scope Jurnal Psikohumaniora. Sebelumnya, jurnal Psikohumaniora menerbitkan artikel-artikel penelitian dalam bidang psikologi secara umum, mulai awal tahun 2021 Jurnal Psikohumaniora hanya akan menerbitkan artikel penelitian lapangan tentang kesehatan jiwa, berdasarkan kajian empiris di bidang psikologi dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Saya yakin, acara ini bisa dijadikan kesempatan yang baik untuk memperkuat Jurnal Psikohumaniora menjadi jurnal bereputasi Internasional dan terndiks Scopus dan WoS.


Dr. Baidi Bukhari, selaku Pimred Psikohumaniora secara khusus menyatakan sangat berterimaksih pada semua pihak; terutama kepada Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam yang telah mentapkan Jurnal Psikohumaniora sebagai salah satu penerima bantuan peningkatan kualitas jurnal bereputasi internasional tahun anggaran 2020. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Pimpinan dan seluruh sivitas akademika UIN Walisongo, Editorial Board, editor, reviewer, para penulis, International Institute of Islamic Thought (IIIT) Perwakilan Indonesia, Asosiasi Psikologi Islam (API) Pusat, dan Asosiasi Psikologi Positif Indonesia (AP2I) Pusat, dan panitia yang telah mensukseskan kegiatan seminar ini, baik secara langsung maupun tidak langsung.


Rektor UIN Walisongo dalam Keynote Speechnya merasa senang atas dukungan dan antusiasme Webinar ini yang telah menarik hampir 1.000 peserta dari seluruh dunia, Asia, Eropa, Amerika Serikat, hingga Afrika. Minat dan partisipasi Anda dalam webinar ini akan menjadi kontribusi untuk memperkaya ide tentang bagaimana Islam memandang kesehatan mental dan psikopatologi. Sebagaimana diketahui sudut pandang dalam psikologi dari perspektif Islam, bahwa sebagai manusia, kita secara alami tertarik untuk mencari tahu siapa kita, apa sifatnya, dan bagaimana kita dapat meningkatkan diri kita sendiri untuk mencapai kesehatan mental yang baik.


“Saya mungkin berkata, pikiran yang damai, adalah kunci kesehatan mental. Sebagai Muslim, kami menemukan jawaban atas semua pertanyaan tentang kehidupan di dalam Alquran dan contoh Nabi Muhammad. Psikolog juga ditujukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, tetapi dengan pendekatan, penelitian dan teori yang lebih ilmiah. Islam memandang psikologi sebagai studi tentang jiwa dan semua aspeknya: perilaku emosional, dan proses mental, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Gagasan ini didasarkan pada kenyataan bahwa jiwa adalah elemen dasar, dan entitas kehidupan itu sendiri. Islam menambahkan pengertian jiwa sebagai "jiwa" manusia yang memiliki esensi spiritual dan metafisik. Itu adalah fitrah setiap jiwa manusia, untuk dihubungkan dengan sumbernya, Sang Pencipta, Allah Yang Esa dan satu-satunya,” katanya.


Dijelaskannya, hubungan antara jiwa dan Allah itu seperti makanan, air untuk bertahan hidup. Tanpa makanan, jiwa akan menderita kecemasan, depresi, dan keputusasaan. Ini adalah bagaimana Islam memandang psikopatologi. Ini adalah penyakit di dalam jiwa, bukan hanya dipikiran. Jiwa telah kehilangan makanannya, jauh dari unsur vitalnya, merindukan Allah. Setiap jiwa menuntut untuk terhubung dengan Allah, jadi setelah diabaikan, jiwa terus menjadi tidak lengkap, kehilangan pegangan.


Webinar ini harus diperhatikan tidak hanya dari sudut psikologi Islam dari pandangan tetapi baik dari pandangan psikologi yang lebih luas. Masalah mental kesehatan telah menjadi perhatian global yang diupayakan setiap orang untuk keberlanjutannya. Itu dikonfirmasi secara global seperti yang dinyatakan dalam tujuan ketiga tentang Pembangunan Berkelanjutan Tujuan (SDGs): untuk memastikan hidup sehat dan mempromosikan kesejahteraan untuk semua usia melalui pencegahan, pengobatan, dan untuk meningkatkan kesehatan mental.


“Saya sangat berharap acara ini dapat meningkatkan kesadaran untuk menjaga kesehatan mental masyarakat. Kesadaran global tentang kesehatan mental akan mendapatkan faktor pelindung menentukan kesejahteraan manusia, melawan risiko psikopatologi yang muncul. Itu Perlu dipahami, bahwa kesehatan mental adalah tanggung jawab setiap orang. Di sini, di UIN Walisongo, kami berkomitmen untuk menghormati batasan, keberadaan toleransi dan memelihara lingkungan yang damai. Kami menghargai kebutuhan setiap orang hidup di lingkungan yang damai, menyediakan sistem pendukung untuk meningkatkan mental kesehatan, psikologis dan spiritual,” lanjutnya. (HG33).

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget