Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

2021


Blora, Harianguru.com
- Lembaga Pendidikan Ma'arif NU PWNU Jawa Tengah menggelar kegiatan Pelatihan untuk Pelatihan (Traning of Trainer) Numerasi untuk guru-guru kelas dasar (1-4) MI di MI Assalam 1 Wadu, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora pada 22 sampai 26 Desember 2021.


Kegiatan itu merupakan sinergi antara Kerjasama LPM PWNU, KKMI Ma'arif Blora, NU Circle-Gernas Tastaka (Tuntas Buta Matematika) yang diikuti 43 guru.


Program Gernas Tastaka NU Circle-Paragon Copr bertajuk "Membangun Generasi Emas Indonesia 2045" ini menjadi salah satu terobosan yang dilakukuan LP. Ma’arif NU PWNU Jateng dalam meningkatkan numerasi peserta didik sekaligus pendidiknya.


Dijelaskan Sekretaris LP. Ma'arif NU PWNU Jateng Mahmudi Abduh, bahwa kegiatan itu dilatarbelakangi karena selama ini matematika masih menjadi pelajaran yang menakutkan, menjadi momok yang berat bagi siswa jenjang MI/SD.


"Keprihatinan terhadap peringkat kemampuan matematika bangsa Indonesia menjadi motivasi kami melaksanakan kegiatan ini,” kata Mahmudi, Rabu (22/12/2021).


Ia berharap bahwa kegiatan ini menjadi gerakan untuk memberantas buta matematika dan menghilangkan phobia atau ketakutan terhadap pelajaran matematika.


Trainer Gernas Tastaka Siti Andriani dalam kesempatan itu juga menegaskan bahwa phobia siswa terhadap pelajaran matematika riil adanya. “Hal ini terjadi karena malpraktik pembelajaran matematika,” tegas dia.


Maka melalui ToT itu, pihaknya berharap agar ketakutan itu hilang. Ia bersama Gernas Tastaka yang bersinergi dengan LP. Ma’arif NU PWNU Jateng ingin menuntaskan problem itu.


Ia juga mengatakan bahwa Gernas Tastaka memiliki jargon Bernalar-Kontekstual - Sederhana – Mendasar yang diharapkan mampu memberantas buta matematika di Indonesia. (Red-HG55/HI).


Jakarta, Harianguru.com
- “NU ini luar biasa. Kita harus yakin dan bangga menjadi warga NU ini. Ada lima kekayaan luar biasa yang dimiliki NU yang harus kita jaga dan kita kembangsakan”. Demikian, disampaiakan Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA, ketika memberikan kata sambutan dalam peresmian gedung baru blok B, gedung SMK LP Ma’arif NU PBNU di Grogol Jakarta Barat, Sabtu, 18 Desember 2021. 

Kembali Kiai Sa’id memaparkan, bahwa NU punya lima  kistimewan : Pertama, Tsarawat ijtima’iyyah yaitu kapital sosial , kuantitas jama’ah. Ada sekitar 182 juta warga NU. Kalau diatur dengan baik, jamaah menjadi jamiyyah maka akan dahsyat pengaruhnya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Di NU ini, apa saja kembali kepada kiai. Harus dijaga dari kiai ini, jangan sampai ummat dijauhkan dari kiai dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kontek beragama, berbagsa dan bernegara. 

Kedua; Tsarawat Hadlarah, Budaya , yaitu budaya kitab kuning. Semua masalah dikembalikan kepada kitab kuning. Hanya NU melakukan seperti ini. Selain NU tidak bisa. Budaya kitab kuning ini luar biasa dan mendrive prilaku warga NU. 

Ketiga; Tsawarat Syi’ariyah, kekayaan simnbulis. Simbul NU banyak; peci, kopyah, beduk, cium tangan, akhiran salam wallahul muwaffiq, horamat kiai, habib dst. Termasuk shalawat badar. Itu semua syiar penciri NU yang tidak sekedar ciri. Tapi punya makna yang mendalam bagi warga NU.  Kiai Sa’id menambahkan, Keempat; Tsarawat Siyasiyah, kekayaan politik. Sekalipun NU tidak berpolitik, kembali ke khitthah 1926, NU tetap berpolitik kebangsaan bukan kekuasaan. NU tidak bisa lepas dari politik. Faktanya, Siapapun yang  ingin jadi bupati, gubernur , presiden , sampai anggota DPR pun, jika ingin jadi  akan datang ke NU. NU punya bobot politik. Politik tidak pernah akan lepas dari NU. Namun NU dalam berpolitik kebangsaan punya tata nilai tersendiri.  

Kelima; Tsarawat Maliyah; kekayaan finansial. Nah, di sini tantangan NU terberat ke depan jika ingin NU terpandang terdepan di semua hal dalam berbangasa. Orang-orang top terkaya di Indonesia sedikit sekali dari orang Islam , apalagi dari NU. Bahkan tidak ada sama sekali, baik secara organisasi maupun pribadi-pribadi di aspek kekayaan finansial ini kita lemah. Dari aspek ini, kita msih jauh, penuh tantangan. Mereka yang tidak senngg dengan NU, berupaya jangan sampai kaya raya. Baik wargam=nya maupun organisasinya. Mereka takut tidak kebagian.  Tapi di aspek lain yaitu modal sosial, plitik dan syiar, serta politih kita masih belum tertandingi.

Demikian penjelasan mendalam dari kiai Sa’id yang disampaiakan dihadapan para peserta yang  menyaksikan peresmian ini yaitu para pengurus pusat LP Ma’arif PBNU,  pengurus LP. Ma’arif PW NU DKI Jakarta, Pengurus Cabang NU Jakarta Barat, Pengurus Lembaga dan Banom di lingkungan PC NU Jakarta Barat. 

Sebagaimana disampaikan Ketu LP Ma’arif NU PBNU, KH. Z. Arifin Junaidi, bahwa berdirinya gedung ini adalah atas bantuan dari Badan Ammil Zakat Republik Indonesia, dan Program Kemdikbut Ristek Dikti tahun 2021, dan sumbangan dari UNISMA Malang Jawa Timur. Siswa-siswi SMP-SMK Ma’arif NU Grogol ini sejumlah 800 anak lebih. Mereka rata-rata kalangan menegah ke bawah. LP Ma’arif PBNU ingin menghadirkan layanan pendidikan yang bermutu, mampu bersaing di kehidupan dunia gelobal. LP Ma’arif NU ingin menjadi pemungkin dari hal yang tidak mungkin. Yaitu menghadirkan layanan pendidikan yang bermutu kepada para mustadl’afin di Jakarta. Tambahnya. 

Hadir dalam persemian tersebut, Gubernur DKI Jakarta yang diwakili oleh kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta,  Ketua LP Ma’arif PBNU KH. Z. Arifin Junaidi, Ketua Baznas Republik Indonesia Prof. Dr. Noor Ahmad, MA, Rektor UNISMA Prof. Dr. Masykuri Bakri serta para pejabat kependidikan Provinsi DKI Jakrta. 

Sa’idah Sakwan, ketua panitia pembangaunan gedung menyampaikan, bahwa direncanakan gedung ini akan dibangun empat Blok. Bangunan SMK Ma’arif NU berdiri 4 lantai dan terdiri dari 24 ruangan di Blok B. Sementara itu gedung SMP masih proses penyelesaian di Blok C dan D. Dan hingga kini telah selesai dua blok. Sebelumnya telah diresmikan Blok A bangunan untuk pelatihan SDM LP Ma’arif NU, Ma’arif NU Center (MNU Center) pada bulan maret 2020. Hari ini diresmikan blok B untuk gedung SMK Ma’arif NU, yang peletakan batu pertama pembanginan ini dilakukan Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA. 6 bulan lalu. 

Lembaga ini satu-satunya lembaga milik NU dengan Badan Hukum Perkumpulan NU (BHP NU) di DKI Jakarta. Lainnya adalah lembaga-lembaga pendidikan NU milik yayasan NU atau milik orang-orang NU, yang jumlahnya cukup besar. Sehingga sangat patut jika Gubernur DKI mensuport. (Hg44/ImamBK)

Temanggung, Harianguru.com - Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung Dr. H. Muh. Baehaqi, MM., resmi dilantik oleh Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Asrori pada Sabtu (18/12/2021).



Rektor INISNU Temanggung dilantik berdasarkan Surat Keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan Nomor: 828/A.II.04.d/12/2021 tertanggal 12 Jumadil Ula 1443 H/16 Desember 2021 M.


Kegiatan Pelantikan dan Serah Terima Jabatan Rektor INISNU Temanggung periode 2021-2025 itu dihadiri jajaran PCNU Temanggung, lembaga dan Badan Otonom NU, Bupati, Pejabat Daerah Temanggung, dan sivitas akademika INISNU Temanggung.


Dalam sambutannya, Ketua Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) INISNU Temanggung H. Nur Makhsun mengatakan ada tiga program prioritas yang dilaksanakan. "Pertama akselerasi atau percepatan sarana dan prasarana kampus. Kedua percepatan membangun struktur organisasi INISNU Temanggung. Ketiga percepatan berkompetisi dengan perguruan tinggi," tegas dia.


Dari kota kecil Temanggung, lanjutnya, kita berkomitmen untuk bersaing di kancah nasional maupun internasional. "Ke depan jangan sampai ada dosen dan karyawan yang menentang AD dan ART NU. Tahun 2025 kita mencoba untuk beralih bentuk menjadi UNISNU," harapnya.


Dalam kesempatan itu, Bupati Temanggung yang diwakilkan staf ahli Bupati, Ketua Tanfidziyah PCNU Temanggung KH. Muhammad Furqon dan Rais Syuriah PBNU KH. Said Asrori juga menyampaikan sambutannya yang berharap agar INISNU ke depan di bawah nahkoda Dr. Muh. Baehaqi bisa lebih maju dan membawa nama baik NU. (HG39).


Jakarta, Harianguru.com
- “Gedungnya sudah bagus, bangunan fisik sudah lumayan, tinggal kualitas yang harus kita tingkatkan. SMP-SMK Grogol harus bisa menjadi kebanggaan masyarakat”.

Demikian, disampaiakan Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA, ketika memberikan kata sambutan dalam peresmian gedung baru blok B, gedung SMK LP Ma’arif NU PBNU di Grogol Jakarta Barat, Sabtu, 18 Desember 2021.

Kiai Sa’id melanjutkan, untuk menuju kesana, menjadikanpendidikan kita bermutu setidaknya ada tiga metode dalam pendidikan kita: Pertama, Manhajut Ta’lim, metode pembelajaran. Segala ilmu pengetahuan tidak boleh ketinggalan. Terutama IT . Sekalipun sebagaian besar siswa-siswi kita dari para mustadlafin, namun dari sisi kwalitas dan kemampuan harus tidak boleh kalah dengan yang laian.

Kedua; Manhajut Tadris : imlementasi ilmunya. Percuma hanya ilmu saja jika tidak dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana Nabi dan para shahabat. Beliau-beliau tidak hanya ta’lim tapi juga tadris. Apapun yang dilakukan kanjeng Nabi , di sabdakan dan di setujuai oleh Rasulullah dipantau dan menjadi sunnah nabi, untuk mendidik ummat ini. Seperti di pesantren-lah contohnya, setiap yang senior harus bisa menjadi uswah bagi yang yunior.

Ketiga; Manhajut Ta’dib. Disiplin. Lihatlah Kanjeng Nabi Adam. Beliau intelek, cendikia karena kata al Qur’an:  “ wa allama adama al asma’”. Ternyata nabi adam tidak disiplin melanggar aturan. Yaitu memakan buah khldi. Lantas Nabi Adam mendapatkan kalimatur robi. Kemudian diterima taubatnya. Jalmu saja tidak lah cukup, kalau tidak untuk membangun kedisiplinan. Maka jaga kualitas SMK grogol ini juga akhlaknya.

Kelima; Manhajul Ahlaq, karakter. Akhlak-karakter inilah yang harus menjadi perhatian utama pendidikan kita. Terutama untuk bangsa ini. Pengalaman membuktikan, bangsa itu menjadi bermartabat bukan karena agamanya, tapi akhlaknya. Para ulama juga menyampaikan seperti itu.  Contoh konkritnya adalah negara-negara timur tengah. Mereka agamanya kuat, aqidahnya, syariatnya dan lainny sama dengan kita umat Islam di Indonesia, namun tidak bermartabat, terpecah belah karena akhlaknya, prilakunya. Sedangkan di bagian negara lain, Jepang misalnya. Martabatnya diakui, menjadi bermartabat karena punya karakter akhlak yang kuat.

Syukur-syukur kita ini , kita harapkan bagsa Indoenesia ini , agamanya kuat religius, tapi juga akhlaknya kuat , maka akan menjaadi bermartabat lahir batin.

Dalam pendidikan kita ini, silakan kanan-kiri lingkungan rusak, namun lingkungan pendidikan kita harus tetap baik, tertata penuh akhlak mulia, karena inilah yang akan menyelamatkan anak bangsa ini. Contohnya adalah Nabi Musa AS. Begitu lahir dan besar , beliau berada di lingkungan kemusyrikan kaum Fir’aun, namun katena beliau ada dipangkuan didikan perempuan sholihah, muthiah, dan Abidah, yaitu Sirti Asiah. Maka Nabi Musa sama sekali tidak terpengaruh oleh kemusyrikan lingkunagan. Jadi lingkungan pendidikan kita harus kuat akhlak nya. Demikian, Kiai Sa’id menambahkan.

Sebagaimana disampaikan Ketu LP Ma’arif NU PBNU, KH. Z. Arifin Junaidi, bahwa berdirinya gedung ini adalah atas bantuan dari Badan Ammil Zakat Republik Indonesia, dan Program Kemdikbut Ristek Dikti tahun 2021, dan sumbangan dari UNISMA Malang Jawa Timur. Siswa-siswi SMP-SMK Ma’arif NU Grogol ini sejumlah 800 anak lebih. Mereka rata-rata kalangan menegah ke bawah. LP Ma’arif PBNU ingin menghadirkan layanan pendidikan yang bermutu, mampu bersaing di kehidupan dunia gelobal. LP Ma’arif NU ingin menjadi pemungkin dari hal yang tidak mungkin. Yaitu menghadirkan layanan pendidikan yang bermutu kepada para mustadl’afin di Jakarta. Tambahnya.

Hadir dalam persemian tersebut, Gubernur DKI Jakarta yang diwakili oleh kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta,  Ketua LP Ma’arif PBNU KH. Z. Arifin Junaidi, Ketua Baznas Republik Indonesia Prof. Dr. Noor Achmad, MA, Rektor UNISMA Prof. Dr. Masykuri Bakri serta para pejabat kependidikan Provinsi DKI Jakrta.

Turut menyaksikan peresmian ini adalah  para pengurus pusat LP Ma’arif PBNU,  pengurus LP. Ma’arif PW NU DKI Jakarta, Pengurus Cabang NU Jakarta Barat, Pengurus Lembaga dan Banom-banom di lingkungan PC NU Jakarta Barat.

Menurut laporan ketua panitia pembangaunan, Sa’idah Sakwan, bahwa direncanakan gedung ini akan dibangun empat Blok. Bangunan SMK Ma’arif NU berdiri 4 lantai dan terdiri dari 24 ruangan di Blok B. Sementara itu gedung SMP masih proses penyelesaian di Blok C dan D. Dan hingga kini telah selesai dua blok. Sebelumnya telah diresmikan Blok A bangunan untuk pelatihan SDM LP Ma’arif NU, Ma’arif NU Center (MNU Center) pada bulan maret 2020. Hari ini diresmikan blok B untuk gedung SMK Ma’arif NU, yang peletakan batu pertama pembanginan ini dilakukan Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA. 6 bulan lalu.

Lembaga ini satu-satunya lembaga milik NU dengan Badan Hukum Perkumpulan NU (BHP NU) di DKI Jakarta. Lainnya adalah lembaga-lembaga pendidikan NU milik yayasan NU atau milik orang-orang NU, yang jumlahnya cukup besar. Sehingga sangat patut jika Gubernur DKI mensuport. (ImamBK)

 

 

Jakarta, Harianguru.com - “Badan Amil Zakat Nasional Republik Indonesia sangat bahagia, karena distribusi Baznas aman syar’i, aman regulasi dan aman NKRI jika bekerja sama dengan LP Ma’arif NU. Karena itu, kalau kami Baznas membantu LP Ma’arif itu merasa tentram dan aman”. Demikian disampaian Ketua Baznas RI Prof. Dr. Noor Achma
d, MA,  ketika memberikan kata sambutan dalam peresmian gedung baru blok B, gedung SMK LP Ma’arif NU PBNU di Grogol Jakarta Barat, Sabtu, 18 Desember 2021.

“ Dalam kesempatan ini, Kita bersyukur hari ini bisa bertemu satu majlis dengan orang ranking 16 orang paling berpengaruh di dunia ini. Ini tidak mudah bisa bertemu. Jadi saya sangat bersyukur’. Imbuhnya.

Beliau melanjutkan, Kami berharap masyarakat semakin percaya kepada layanan mutu pendidikan di LP Ma’arif. Kami titip kepada masyarakat sekitar baik pemerintah desa, kecamatan maupun kota  Jakarta Barat di wilayah ini, ikut menjaga dan membantu LP Ma’arif NU. InsyaAllah berkah.

Dalam kesempatan ini, Nor Ahmad pun terpancing oleh profokasi Rektor UNISMA, Prof. Masykuri. “ InsyaAllah UNWAHAS akan ikut cawe-cawe turut membantu perkembangan LP Ma’arif NU di sini”. Katanya.

Sebelumnya, Prof Masykuri, Rektor UNISMA berjanji akan terus membantu pengembangan sekolah-sekolah LP Ma’arif NU, melalui pengembangan SDM dengan memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki UNISMA Malang.

Sementara itu, dalam sambutannya, Ketua LP Ma’arif NU PBNU, KH. Z. Arifin Junaidi menyampaiakan, bahwa berdirinya gedung ini adalah atas bantuan dari Badan Ammil Zakat Republik Indonesia, dan Program Kemdikbut Ristek Dikti tahun 2021, dan sumbangan dari UNISMA Malang Jawa Timur. Siswa-siswi SMP-SMK Ma’arif NU Grogol ini sejumlah 800 anak lebih. Mereka rata-rata kalangan menegah ke bawah. LP Ma’arif PBNU ingin menghadirkan layanan pendidikan yang bermutu, mampu bersaing di kehidupan dunia gelobal. LP Ma’arif NU ingin menjadi pemungkin dari hal yang tidak mungkin. Yaitu menghadirkan layanan pendidikan yang bermutu kepada para mustadl’afin di Jakarta. Tambahnya.

Hadir dalam persemian tersebut, Gubernur DKI Jakarta yang diwakili oleh kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta,  Ketua LP Ma’arif PBNU KH. Z. Arifin Junaidi, Ketua Baznas Republik Indonesia Prof. Dr. Noor Achmad, MA, Rektor UNISMA Prof. Dr. Masykuri Bakri serta para pejabat kependidikan Provinsi DKI Jakrta.

Sa’idah Sakwan, ketua panitia pembangaunan gedung menyampaikan, bahwa direncanakan gedung ini akan dibangun empat Blok. Bangunan SMK Ma’arif NU berdiri 4 lantai dan terdiri dari 24 ruangan di Blok B. Sementara itu gedung SMP masih proses penyelesaian di Blok C dan D. Dan hingga kini telah selesai dua blok. Sebelumnya telah diresmikan Blok A bangunan untuk pelatihan SDM LP Ma’arif NU, Ma’arif NU Center (MNU Center) pada bulan maret 2020. Hari ini diresmikan blok B untuk gedung SMK Ma’arif NU, yang peletakan batu pertama pembanginan ini dilakukan Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA., 6 bulan lalu.

Lembaga ini satu-satunya lembaga milik NU dengan Badan Hukum Perkumpulan NU (BHP NU) di DKI Jakarta. Lainnya adalah lembaga-lembaga pendidikan NU milik yayasan NU atau milik orang-orang NU, yang jumlahnya cukup besar. Sehingga sangat patut jika Gubernur DKI mensuport. (HG10-ImamBK)


Pati, Harianguru.com
– Di setiap tanggal 25 November bagi Guru. Karena ditanggal 25 November merupakan puncak peringatan hari Guru Nasional. Kegiatan ini dilaksanakan baik di  sekolah negeri maupun swasta.

SMK Jamaah Pasrah Dukuhseti yang berada di wilayah kabupaten Pati Jawa Tengah, serta berada dibawah naungan Yayasan Jama'ah Pasrah ikut andil merefleksi hari guru nasional. Namun tahun ini tidak dilaksanakan secara gebyar namun dilakukan secara seremonial dikarenakan masih dalam suasana pandemi covid. SMK Jamaah Pasrah Dukuhseti hanya mengadakan kegiatan syukuran, dengan menata niat karena masih bisa mengemban amanah tugas mulia sebagai agen perubahan moral bangsa.

Minanurul Rohman yang akrab disapa pak Minan kepala SMK Jamaah Pasrah menyampaikan pesan selamat kepada bapak ibu guru. Semoga ikhlas dalam mengemban amanah menjadi agen perubahan moral bangsa di negara kesatuan republik Indonesia yang kita cintai ini. Serta beliau mendoakan peserta didik semoga menjadi insan yang bertaqwa, berakhlaqul karimah dan memiliki karakter bangsa.

Walaupun kita menyelenggarakan pendidikan gratis bagi yatim piatu dan fakir miskin, tetapi kita harus semangat, mendidik dengan hati menuju pendidikan vokasi berbudi pekerti. Guru bukan orang hebat, tetapi orang hebat senantiasa lahir dari para guru bangsa" beber Minan

Mudah-mudahan di hari guru ini kita senantiasa diberikan kesabaran, keikhlasan, keuletan serta kreatif inovatif dalam mengemban tugas mulia. (HG40).


Temanggung, Harianguru.com
- Sebanyak enam mahasiswa Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung siap melanjutkan tahapan Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) PTKI se-Indonesia ke-1 di UIN Arraniry Aceh. 


Hal itu terungkap dalam rapat persiapan dan pengarah yang dihadiri Pjs Warek I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Hamidulloh Ibda dan Pjs Warek II Bidang Keungan, Umum dan SDM Khamim Saifuddin, staf akademik Drasti Noviasari dan enam mahasiswa.


Dari tahapan penyisihan, enam mahasiswa itu lolos tahapan berikutnya yaitu final yang akan dilaksanakan 24 November 2021.


Enam mahasiswa itu yaitu mahasiswa Prodi MPI Dani Anwar, mahasiswa PGMI Muhammad Naufal Hilmi dan Dina Septiyana yang lolos karya inovasi bidang literasi. Sedangkan mahasiswa ES Nurfatihah Amnur, Ardhiyan Fitri Ariyanti dan Kautsar Anwar Haq lolos ke final pada lomba karya inovasi bidang sosial agama.


"Kelolosan ini merupakan pertanda baik, karena ini OASE pertama kalinya, dan kita mewakili PTKIS yang harus berlaga dengan PTKIN di Indonesia," ujar Pjs Warek I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Hamidulloh Ibda.


Hal-hal yang perlu disiapkan, menurut Ibda, adalah kesipan materi dan hal-hal teknis. "Siapkan materi, presentasi, poster, PPT, dan juga dipilih presentator yang akan menyampaikan materi. Sebelum berangkat, nanti kita akan simulasikan presentasi di hadapan kami, sebagai bentuk kesiapan Anda dalam ajang OASE tersebut," lanjutnya.


Ia juga berpesan, bahwa mahasiswa selain harus memiliki keunggulan komparatis juga keunggulan kompetitif melalui perlombaan maupun olimpiade. "Tetap jaga kesehatan, siapkan materi, dan usaha zahir janga dilupakan, termasuk meminta dukungan dan restu dari teman, dosen, Kaprodi, dan juga dari orangtua," pesannya.


Sementara itu, Pjs Warek II Bidang Keungan, Umum dan SDM Khamim Saifuddin mengapresiasi apa yang sudah dilakukan mahasiswa. Ia berharap, dengan dukungan bimbingan bakat, minat, dan juga pendanaan dari kampus memicu spirit mahasiswa dalam berprestasi baik di kancah lokal, nasional maupun internasional. (*)


Makassar, Harianguru.com
- Wakil Menteri Agama Indonesia Dr. H. Zainut Tauhid Sa'adi, M.Si., menegaskan agar di dalam pendidikan harus dihentikan fenomena diskriminasi terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). 


Hal itu terungkap saat penyampaian materi dalam acara Penguatan Pelatihan Pendidik Inklusi di Gammara Hotel Makassar pada hari ketiga, Rabu (27/10/2021). Kegiatan ini digelar Subdit Bina Guru dan Tenaga Kependidikan Raudlatul Athfal Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama.


"Perlakuan diskriminatif terhadap anak berkebutuhan khusus harus kita sudahi. Caranya kita memberikan layanan khusus dan inklusif. Bukan berarti kita mendiskriminasikan mereka, namun itu justru menjadi wujud layanan sesuai tumbuh kembang dan kebutuhan mereka," beber dia.


Pihaknya juga menegaskan bahwa Kementerian Agama memiliki tugas mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanat Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.


"Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan dan mendapat manfaat ilmu pengetahuan teknologi. Hak mendapat pendidikan adalah hak semua warga negara tidak terkecuali anak berkebutuhan khusus," tegasnya.


Berdasarkan data EMIS sampai tahun 2021 ini untuk jumlah Peserta Dididk Berkebutuhan Khusus (PDBK) adalah 47.516. "Ini perlu mendapatkan perhatian serius. Saatnya Kementerian Agama memiliki kepedulian dalam rangka memberikan kepedulian terhadap PDBK," lanjutnya.


Wakil Menteri Agama juga menegaskan bahwa Kementerian Agama ke depan perlu memfasilitasi dan mendukung pendanaan madrasah inklusif melalui dana BOS.


Kami banyak berdiskusi, lanjutnya, beberapa guru curhat bahwa mengajar anak normal saja susah. "Namun bagaimana dengan anak berkebutuhan khusus? Maka ini perlu dilatih dan menjadi tanggungjawab kita. Dulu awal-awal Pak Kakanwil Kemenag Sulses ini saya dukung untuk terus menguatkan pendidikan inklusif di sini," lanjutnya.


Wakil Menteri Agama juga berpesan bahwa dalam rangka penguatan madrasah inklusif, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) supaya menambahkan mata kuliah pendidikan inklusif di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.


Sebelumnya, Kepala Subdirektorat Bina Guru dan Tenaga Kependidikan Raudlatul Athfal Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Dra. Siti Sakdiyah, M.Pd., berharap agar ada dukungan terhadap pendidikan inklusif.


"Semoga ke depan ada program untuk mendukung program inklusi ini," harapnya saat mendapingi Wakil Menteri Agama.


Dalam kesempatan itu hadir pula Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan Drs. Khaerani, M.Si., Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis, narasumber lain dan peserta. (HG44/Ibda).


Makassar, Harianguru.com
- Forum Pendidikan Madrasah Inklusif (FPMI) Provinsi Sulawesi Selatan resmi dikukuhkan pada Rabu (27/10/2021). Hal itu terungkap saat penyampaian materi dalam acara Penguatan Pelatihan Pendidik Inklusi di Gammara Hotel Makassar.

 

Rangkaian kegiatan tersebut digelar Subdit Bina Guru dan Tenaga Kependidikan Raudlatul Athfal Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI.

 

Dalam kesempatan itu, Ketua Umum FPMI Pusat Supriyono melantik jajaran pengurus FPMI Sulawesi Selatan.

 

Mereka dilantik berdasarkan Surat Keputusan Forum Pendidik Madrasah Inklusif Pusat Nomor 005.FPMI.X.2021 Tahun 2021 tentang Penetapan Pengurus Wilayah Forum Pendidik Madrasah Inklusif Provinsi Sulawesi Selatan Masa Khidmat 2021-2026.

 

Dewan Pembina terdiri atas Gubernur Sulawesi Selatan, Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan.

 

Dewan Penasihat terdiri atas Kepala Seksi Guru Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Kepala Seksi Tenaga Kependidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Kepala Seksi Kurikulum dan Kesiswaan Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Kepala Seksi Kelembagaan Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Bidang Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Ketua Pokjawas Madrasah Provinsi Sulawesi Selatan, H. Jamaris, S.Ag., MH., Drs. H. Kasmaruddin, M.Pd., dan Suedi, S.Pd., M.Pd.

 

Dewan Pakar terdiri atas Dr. Lu'mu Taris, M.Pd., Dr. Iis Masdiana, M.Pd., Dr. Usman, M.Si., Dr. Sabara Nuruddin, Ahmad Afif, S.Ag., M.Si., Abd. Rahman Arsyad, M.Si., Dr. H. Hafid, M.Pd., Syamsuddin, S.Pd.I., M.Pd.I., Dr. Muh. Rapi, M.Pd.

 

Ketua Muhammad Jamil, S.Ag., Wakil Ketua Akmal, S.Ag., M.Pd.I, Sekretaris Rosmiati, S.Pd.SD., Wakil Sekretaris Muhammad Amir Hattab, S.Pd., M.Pd., Bendahara Istiqamah, M.Pd., Wakil Bendahara Hj. Harnidah, M.Pd.

 

Bidang Penelitian dan Pengembangan Dra. Hj. Rosmidar, M.Pd., H. Ilyas, M.Pd.I, Rahmad, S.Pd., Kasman, M.Pd., Bidang Data dan Informasi Aminuddin Syamsuddin, S.Pd., Samrina, S.Pd.I., Winahyu, M.Pd., Bidang Perencanaan dan Program Musdalipa, S.Ag., H. Aris, S.Ag., M.Pd., dan Mukarramah, S.Pd., Bidang Pendidikan dan Pelatihan Nelvy, M.Pd.I, Fujiah, S.Pd.I., Nuraeni N, S.Pd.I., Bidang Pemberdayaan Sumber Daya Organisasi Rahman, M.Pd., Indarwati, S.Pd., Kiki Aulia Resky, S.Pd., Bidang Kerjasama dan Organisai Saifuddin, M.Pd.I., Hamriati, S.Pd.I., H. Chalid, S.Pd.I., M.Pd.I., Bidang Advokasi dan Hukum Drs. Syukri, MM. Hanis, S.Pd.I, Handriati, S.Pd.I.

 

Ketua Umum FPMI Pusat Supriyono berharap dengan dilantiknya FPMI Sulawasi Selatan, ke depan madrasah inklusif semakin berkembang. "Perlu ditegaskan bahwa FPMI itu forum pendidik, tidak hanya untuk guru namun juga dosen, widyaiswara, pengawas juga harus berkontribusi memajukan pendidikan inklusif," katanya.

 

Ia juga berharap, FPMI Sulawesi Selatan menjadi agent of change pendidikan inklusif agar Peserta Didik Berkebutuhan Khusus dapat dilayani dengan baik. (*)


Temanggung, Harianguru.com
- Sebagai perguruan tinggi milik Nahdlatul Ulama, Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung diharapkan dapat berkonstribusi dalam mengembangkan moderasi beragama.


Harapan tersebut disampaikan Agen Raharjo dari Badan Intelijen Negara (BIN) saat bersilaturahmi dengan pengurus dan pejabat INISNU Temanggung pada Jumat (24/9/2021) di ruang rektorat.


Dalam pertemuan tersebut juga digagas adanya Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan para pimpinan Ormas dan lembaga untuk membahas internalisasi dan implementasi gerakan moderasi di masyarakat terutama di kalangan muda. 


"Problematika berkembangnya radikalisme dan di kalangan muda disebabkan karena pemahaman keagamaan yang sempit," jelas Sekretaris Badan Pelaksana Penyelenggara INISNU H. Mahsun.


Selanjutnya dijelaskan bahwa perlu ada internalisasi nilai moderasi melalui kajian keagamaan di sekolah dan kampus dengan narasumber yang tepat.


Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Muh Syafi' di kesempatan itu juga mengharapkan agar BIN menjadi mitra strategis INISNU untuk program kewaspadaan dini.


Hal itu diperkuat lagi dengan keterlibatan dosen dan mahasiswa INISNU dalam pengawalan moderasi beragama dalam penelitian. Selain itu PJs Wakil Rektor I Hamidulloh Ibda juga aktif sebagai Ketua Bidang Media, Hukum dan Humas Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah yang selalu mengikutsertakan mahasiswa dalam kegiatan kontra narasi dan deradikalisasi. Seperti melalui webinar dan memasukkan perlombaan dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK).


"Kampus kami siap menjadi agen untuk Mendesiminasi program cegah tangkal radikalisasi," katanya.


Pihak BIN dalam kesempatan tersebut juga mengapresiasi kepada INISNU dan KBIHU Babussalam Nu yang ikut mensukseskan vaksinasi yang diselenggarakan oleh BIN dan Pemkab Temanggung. (HG44).


Temanggung, Harianguru.com
- Dosen Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah dan Kegurun INISNU Temanggung melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) hibah Diktis Kemenag RI tahun 2021 dengan Ketua Tim Hamidulloh Ibda dan anggota Andrian Gandi Wijanarko.


Pada tahap pertama ini yang mengangkat tentang Moderasi Islam melalui Webinar Penguatan Kurikulum Aswaja Annadhliyah LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah dalam Mencegah Radikalisme Agama pada Jumat, (24/09/2021) 


Turut hadir dalam kesempatan itu, Pjs Wakil Rektor I, Hamidulloh Ibda, M.Pd, Pjs Kaprodi PGMI, Andrian Gandi Wijanarko, M.Pd, Pemateri I, II, dan Guru MI, SD, Kepala MI, pengurus LP Ma'arif NU sebagai peserta Webinar.


Kegiatan tersebut menghadirkan Koordinator Tim Penyusun Kurikulum LP Maarif PWNU Jawa Tengah Abdul Khalim, M.Pd., dan Pjs Kaprodi PAI INISNU Temanggung Sigit Tri Utomo, M.Pd.I, yang menjadi pemateri dalam acara yang diikuti oleh 25 peserta yang berasal dari Temanggung, Magelang dan Purworejo. 


Dalam Sambutanya, Pjs Wakil Rektor I, Hamidulloh Ibda, M.Pd., menyampaikan tujuan kegiatan PkM. Dijelaskannya, PkM tersebut merupakan hibah dari bantuan Pengabdian kepada Masyarakat tahun 2020 yang terlaksana tahun ini karena recofusing Covid-19.


“Kegiatan ini kami harapkan mampu memberikan manfaat bagi peserta dalam menganalisis kurikulum Aswaja Annadhliyah. Setelah selesai webinar ini kami harapkan seluruh peserta dapat mengikuti rencana tindak lanjut untuk membedah kurikulum dengan pendampingan bapak Abdul Halim, M.Pd, dari LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah. Kemudian pada tahap dua nanti kita laksanakan secara tatap muka terbatas yang menghasilkan kurikulum Aswaja Annahdliyah atau Ke-NU-an jenjang MI," beber dia.


Kegiatan dilanjutkan kegiatan webinar yang dimoderatori oleh Novia Sari Melati. Dalam kesempatan itu, Pemateri I, Sigit Tri Utomo, M.Pd.I menyampaikan Telaah Kurikulum PAI MI dan Muatan Moderasi Beragama. 


Selanjutnya, Pemateri II, Abdul Halim, M.Pd Bedah Kurikulum Ke-NU-an dan Aswaja Annadhliyah LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah. Kegiatan diakhiri setelah koordinasi terkait rencana tindak lanjut setelah webinar ini yang dipandu oleh Andrian Gandi Wijanarko, M.Pd. (adm)


Lombok, Harianguru.com - Direktorat GTK Kementerian Agama RI melalui program komponen 3  MEQR (Madrasah Education Quality Reform) menyelenggarakan Pelatihan Penguatan Pendidik Inklusif di Hotel Holiday Resort Lombok Barat NTB pada tanggal 18 s.d 24 September 2021.


Hadir sebagai narasumber Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd. selaku Kasubdit Bina Guru dan Tendik RA GTK Madrasah, dengan materi regulasi pendidikan inklusif di direktorat jenderal pendidikan Islam.


Disela-sela pelatihan para peserta mendapatkan tugas observasi, wawancara dan penelitian implementasi pendidikan inklusif di MI NW Tanak Beak Narmada Lombok Barat NTB pada tanggal 23 September 2021, kegiatan ini juga didampingi oleh Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd. dan pengurus Forum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI) Pusat. Kedatangan Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd. beserta rombongan disambut meriah oleh ketua Yayasan, Kepala Madrasah, dewan Guru dan peserta didik MI NW Tanak Beak.


Kepala MI MW Tanak Beak Hj. Nurimin, S.Pd. dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang dan rasa haru yang tidak terkira atas kehadiran Kasubdit Bina Guru dan Tendik GTK beserta rombongan, beliau juga menyampaikan dalam ungkapannya bahwa pelaut yg ulung tidak berlayar di laut yang tenang, jangan sampai menolak anak yang ingin belajar, apapun latar belakangnya, apapun kondisinya, dan pahala itu tergantung jerih payahnya seseorang. setelah itu sambutan dilanjutkan oleh Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd, beliau memberikan apresiasi yang mendalam atas terselenggaranya pendidikan inklusif di MI NW Tanak Beak, beliau berpesan agar terus berjuang dalam memberikan pelayan inklusif untuk anak-anak PDBK, "sebagai seorang pelaut, jangan pernah mundur jika ada badai yang menerjang" imbuhnya.


Setelah pembukaan, Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd dan peserta pelatihan meninjau secara langsung implementasi pendidikan inklusif menuju ke ruang sumber dan beberapa ruang kelas, dalam observasi peserta dibagi menjadi tiga kelompok, 1). Kelompok Akademik, 2) Kelompok Manajerial, 3) Kelompok Layanan Komensatoris, tugas dari masing-masing kelompok membuat laporan berupa vlog durasi 5 menit. Kegiatan ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan dari Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd, Ketua FPMI Pusat dan Bendahara FPMI Pusat.


Pelatihan Penguatan Pendidik Inklusif ditutup bersamaan dengan Pengukuhan Pengurus FPMI NTB, yang dihadiri oleh Direktur GTK Madrasah Dirjen Pendis Dr. Muhammad Zain, Dewan Penasehat FPMI NTB Ir. H. Lalu Winengan, MM. dan Dewan Pakar FPMI NTB Dr. H. Lukman Hakim, M.Pd. melalui virtual, dan hadir secara langsung Kasubdit Bina Guru dan Tendik GTK RA Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd.


Pengurus FPMI NTB dikukuhkan secara langsung oleh Ketua FPMI Pusat, Supriyono, S.Pd.I., M.Pd. didampingi oleh Maskanah, MPd, selaku Ketua I FPMI Pusat, dan bertugas sebagai Pembacaan SK Erwan Hermawan, S.Pd.I., M.Pd, selaku Sekretaris II FPMI Pusat. Adapun pengurus yang dikukuhkan ketua umum Mahruf, S.Pd. M.Pd.I, wakil Ketua H. Ahmad Mujahidin, B.Ed., M.Pd., Sekretaris Ilham Prakoso, Bendahara Dr. Mira Mareta, MA. Bersama pengurus lainnya.


Berita acara pengukuhan ditandatangani oleh Ketua FPMI Pusat selaku yang mengukuhkan, ketua FPMI NTB selaku yang dikukuhkan dan Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd sebagai saksi dalam pengukuhan tersebut.


Sebagai penutup kegiatan pelatihan Penguatan Pendidik Madrasah Inklusif, Direktur GTK Dirjen Pendis, Dr. Muhammad Zain, M.Ag menyampaikan bahwa dalam mengelola madrasah terutama pendidikan inklusif harus didasarkan dengan cinta, segala sesuai yang dilakukan dengan cinta akan berbuah kebaikan. (HG44).

Suasana penyusunan modul di Surabaya

Surabaya, Harianguru.com
- Madrasah memiliki kekhasan tersendiri dalam proses pembelajaran. Kekhasan pembelajaran madrasah bukan saja terletak pada jumlah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab yang jauh lebih banyak dari pada di sekolah, namun justru pada nilai-nilai yang mewarnai proses pembelajaran dan penilaian. Nilai-nilai inilah yang akan diperkuat implementasinya dalam proses pembelajaran di madrasah. Hal ini disampaian Direktur KSKK Madrasah Moh. Ishom secara virtual jarak jauh.

"Madrasah adalah sekolah umum bercirikhas agama Islam. Jadi, dengan demikian lulusan madrasah sama dengan lulusan sekolah dengan nilai tambah tertentu. Nilai tambah tersebut berupa kedalaman pemahaman, penerapan dan internalisasi bahkan transformasinya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan sehari-hari. Cara berpikir, bersikap dan bertindak insan madrasah diwarnai dengan nilai-nilai agama Islam," imbuhnya.

Untuk memperkuat nilai-nilai tersebut dalam proses pembelajaran, Kementerian Agama RI melalui Direktorat KSKK Madrasah menyusun modul pendampingan implementasi pembelajaran PAI dan Bahasa Arab (Angkatan I) di Surabaya pada 22 sampai 24 September 2021.

Dalam sambutan laporannya, Kasubdit Kurikulum dan Evaluasi pada Direktorat KSKK madrasah, Ahmad Hidayatullah menyampaikan, bahwa  modul ini akan disusun secara berbeda sesuai karakteristik mata pelajaran. Asumsinya adalah, bahwa mengajarkan fiqih tentu berbeda dengan bagaimana mengajarkan mata pelajaran aqidah. Demikian juka berbeda cara mengajarkan akhlak, apalagi Bahasa Arab. Karena katakteristik mata pelajaran berbeda. Perbedaan ini berkonsekwensi adanya perbedaan metode, pendekatan dan teknik pembelajarannya.

Tidak hanya itu, modul juga diperkaya dengan konten yang mengimplementasikan pembelajaran abad-21, berbasis literasi dan moderasi beragama. Demikian disampaian Kasubdit Kurikulum dan Evaluasi pada Direktorat KSKK madrasah.

Kegiatan ini diikuti oleh para penyusun modul dari unsur praktisi pendidikan yaitu guru, pengawas dan kepala madrasah, serta unsur akademisi dari perguruan tinggi sesuai bidang keahlian masing-masing, baik ahli konten maupun metodologi dan teknologi pembelajaran.

Diharapkan output rangkaian kegiatan ini akan menghasilkan 22 modul sesuai mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab pada setiap jenjang madrasah. Buku-buku tersebut antara lain; Al-Qur’an Hadis, Akidah Akhlak, Fikih, SKI dan Bahasa Arab untuk jenjang MI, MTs dan MA. Adapun modul pendampingan khusus mata pelajaran MA peminatan/ program Keagamaan antara lain; Tafsir, Hadits, Akhlak-Tashawuf, Ilmu Kalam, Usul Fikih, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, Nahwu-Sharaf, dan Balaghah. Rangkaian penyusunan modul dilakukan secara bauran antara kegiatan daring dan luring dalam semua tahapannya.

Diharapkan modul pendampingan ini akan merubah suasana pembelajaran di madrasah lebih hidup, berkembang dan diwarnai nilai-nilai religiusitas. Yaitu suasana kebatinan yang diwarnai nilai-nilai agama Islam moderat dalam cara berpikir, bersikap dan bertindak para guru, kepala madrasah, pengawas, peserta didik dan warga madrasah lainnya. (Red-Hg99/ImamBk).


Yogyakarta, Harianguru.com - Kegiatan pengabdian masyarakat berjudul “Workshop Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Luaran Penelitian pada KKG Kelas IV Kecamatan Godean” telah dilaksanakan di SD N Semarangan 4 Godean Bantul pada hari Sabtu, 18 September 2021. Tahap pra-pelsksanaan dilakukan untuk mengetahui kondisi dan potensi serta permasalahan yang dimiliki guru-guru KKG Kelas IV Kecamatan Godean. Tahap ini dilaksanakan melalui percapakan di whatsapp dengan guru kelas IV SD N Semarangan 4 Godean dan melalui mahasiswa PPG Prajab yang PPL di SD N Semarangan 4 Godean. Melalui wawancara diketahui bahwa: a) Guru-guru masih mengalami kesulitan pada saat melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terutama pada identifikasi permasalahan, analisis data, dan penulisan laporan PTK; b) Guru-guru masih mengalami kesulitan mengenai luaran penelitian yang dihasilkan terutama pada menulis artikel jurnal dan prosiding; c) Perlu adanya kegiatan workshop penelitian tindakan kelas baik penyusunan proposal sampai pada penyusunan laporan penelitian; d). Perlu kegiatan workshop mengetahui jenis-jenis luaran penelitian, misal artikel media massa, jurnal, prosiding, HAKI, buku, dll.

 

Observasi Observasi dan wawancara mengenai permasalahan yang dihadapi guru- guru kelas IV se-Kecamatan Godean melalui whatsapp pada tanggal 10 September 2021. Setelah diketahui kondisi umum guru-guru KKG Kelas IV Kecamatan Godean, tim pengabdi menyusun kegiatan Workshop Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Luaran Penelitian pada KKG Kelas IV Kecamatan Godean yang nantinya dapat diimplementasikan di kelas. Tahap analisis dilaksanakan pada tanggal 09-10 September 2021. Pada tahap ini tim pengabdi melakukan observasi karakteristik guru-guru KKG Kelas IV Kecamatan Godean.

 

Setelah itu dilaksanakan koordinasi dengan tim pengabdi, karena terkait permasalahan yang dihadapi guru-guru kelas IV se-Kecamatan Godean melalui whatsapp. Kemudian tim juga menyusun jadwal dan teknis kegiatan sesuai dengan hasil diskusi dengan guru kelas IV SD N Semarangan 4 Godean. Selain itu analisis juga berkaitan tempat pelaksanaan kegiatan terkait dengan pengaturan jaga jarak, kemudian protokol Kesehatan yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, pembatasan jumlah peserta yang ikut pada kegiatan. Kegiatan ini akan dilaksanakan di SD N Semarangan 4 Godean, kemudian juga disesdiakan sabun cuci tangan, handsanitizer, serta pembatasan jarak antar peserta saat kegiatan berlangsung.

Pada tahap demonstrasi, tim pengabdi memberikan penjelasan mengenai identifikasi masalah, penyusunan proposal, dan penyusunan laporan PTK. Identifikasi masalah dapat dilihat dari evaluasi diri guru melalui menjawab pernyataan: Apakah dalam menjelaskan materi, saya menggunakan bahasa yang cukup jelas? Apakah saya menggunakan istilah-istilah yang sulit dimengerti peserta didik? Apakah dalam menjelaskan, saya menggunakan contoh yang cukup? Apakah dalam menjelaskan, saya menggunakan alat bantu? Apakah saya memberitahukan waktu ulangan kepada peserta didik?, bertanya ke siswa, melihat dokumen, observasi temuan permasalahan yang ada di kelas.

Penyusunan proposal PTK meliputi pendahuluan, landasan teori dan hipotesis tindakan, metode penelitian, serta instrumen penelitian. Penyusunan laporan PTK meliputi pendahuluan, landasan teori dan hipotesis tindakan, metode penelitian, hasil penelitian dan pembahasan, simpulan, implikasi, saran serta instrumen penelitian. Setelah itu tim menjelaskan mengenai luaran penelitian misalnya artikel jurnal, artikel prosiding, artikel media massa, produk, HAKI, Paten dll. Setelah penyampaian materi kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab dengan guru-guru. Adapun pernyataan dari guru mengenai menyusun abstrak pada artikel jurnal/prosiding, kemudian menentukan pembatasan masalah serta menyusun indikator keberhasilan.

Kemudian dijelaskan oleh pemateri penyusunan abstrak terdiri atas tujuan penelitian, metode penelitian, dan hasil penelitian, kemudian disusun dalam satu paragraf dan spasi 1, menyesuaikan dengan template masing-masing jurnal. Kemudian untuk pembatasan masalah dipertimbangkan urgensi dari masalah tersebut dan kemampuan baik dari segi guru, tenaga, dan dana. Selanjutnya untuk indikator keberhasilan disesuaikan dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) atau kriteria skala misalnya sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, sangat rendah, dll. Pada tahap evaluasi ini dilakukan diskusi terhadap kegiatan yang telah dilakukan serta direncanakan tindak lanjut selanjutnya. Kegiatan pengabdian masyarakat dapat dilaksanakan dengan baik tanpa kendala yang berarti. Guru-guru KKG Kelas IV Kecamatan Godean mengetahui penyusunan proposal PTK, laporan PTK, dan berbagai luaran penelitian.  (Trisniawati, Siti Anafiah, Diki Darmawan, Diyah Syafitri)

 

 


Kalsel, Harianguru.com - Forum Pendidik Madrasah Inklusi (FPMI) Kalsel bekerjasama dengan beberapa Madrasah di kota Banjarbaru, kota Banjarmasin dan kabupaten Banjar  telah melaksanakan kegiatan sosialisasi  madrasah inklusi perdana di RA Al Hikam kota Banjarbaru dengan kegiatan parenting yang mengusung tema “Membangun Pengasuhan Positif Anak Usia Dini di Masa Pandemi“ pada hari selasa, 14  September 2021.

Kegiatan ini dihadiri oleh Bu Husnul khotimah,Sp  selaku praktisi Pendidikan inklusi, Bu Hj. Hernita M.Pd.I selaku pengawas Madrasah kota Banjarbaru,Khairul umatin ida cahya nirwana selaku peserta TOT FASNAS perwakilan Kalsel,Bu Siti Aisyah,S.Ag.I selaku Kepala RA Alhikam dan Bu Linda Yani Pusfiyaningsih ,S.Psi,M.Si, selaku  narasumber kegiatan parenting  kegiatan ini juga di hadiri oleh beberapa mahasiswa PKL STAI Darussalam.

Kegiatan ini di lakukan mulai pukul 09.00 WITA sampai  dengan  11.00 WITA. Sebelum kegiatan berlangsung  di bagikan form cek list tentang perkembangan anak kepada peserta parenting dalam hal ini adalah ortu /wali murid RA Alhikam. Acara ini di awali dengan pembukaan oleh Ibu Husnul khotimah selaku praktisi pendidikan inklusi . Kemudian di lanjutkan dengan sambutan yang di sampaikan Ibu Hernita selaku pengawas Madrasah kota Banjarbaru dan di lanjutkan dengan Ibu  Linda Yani Pusfiyaningsih ,S.Psi,M.Si selaku narasumber kegiatan Parenting.

Selama kegiatan berlangsung peserta parenting sangat antusias  dan aktif  berdiskusi tentang pola asuh anak terutama di masa pandemi ini dari beberapa pertanyaan hampir seluruh peserta mengeluhkan anaknya mengalami tantrum dalam mengerjakan tugas daring dari sekolah.Kegiatan ini di tutup dengan bimbingan identifikasi awal untuk  guru – guru RA  Alhikam berdasarkan form cek list perkembangan anak yang telah di bagikan.Kegiatan ini akan lanjutkan  ke madrasah – madrasah di kota banjarbaru,kabupaten Banjar dan Kota Banjarmasin.Dengan harapan Pendidikan inklusi di lingkungan madrasah mendapat respon positif dari penentu kebijakan dan masyarakat umum. (KP33).


Jakarta, Harianguru.com
- Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI menggelar Training of Trainer (ToT) Pendidikan Inklusif berbasis Gender, Disabilitas dan Inklusi Sosial (GEDSI) Seri-7 pada Rabu (8/9/2021) via Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui Youtube GTK Madrasah Channel. ToT seri-7 ini mengangkat tema Sistem Monitoring, Evaluasi Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusif Berbasis GEDSI.

 

Dalam pengarahannya, Kasubdit Kurikulum Dan Evaluasi Direktorat KSKK Madrasah Kemenag RI Dr. Ahmad Hidayatullah, M.Pd., menyampaikan peluang-peluang kebijakan kurikulum inklusif di madrasah. Pihaknya menyampaikan pengembangan kurikulum inklusif di madrasah.

 

"Tampaknya kita perlu melakukan pembahasan intensif terkait pengembangan kurikulum inklusif di madrasah. Masalah pendidikan inklusi ini sebenarnya sudah lama digaungan, namun membutuhkan upaya sendiri untuk meletakkan paradigma ini kepada semua lini level pembahasa, pengambil kebijakan di satuan pendidikan termasuk di madrasah," bebernya yang dimoderatori Dr. Yeni Sri Wahyuni Rangkuti, S.Pd., MA.

 

Dijelaskannya, bahwa target dalam pengembangan kurikulum dimimpikan pengembangan program pembelajaran yang memastikan terwujudnya Gender Equality/Kesetaraan Gender, Disability/Disabilitas and Social Inclusion/Inklusi Sosial (GEDSI) di madrasah. "Tentunya ini tidak bergerak sendiri di Direktorat KSKK, selalu melibatkan dalam kaitan sarpras, kelembagaan dan kesiswaan," lanjutnya.

 

Pihaknya menjelaskan soal cara mewujudkan GEDSI dalam perspektif pengembangan kurikulum. "Kita sudah banyak melakukan upaya-upaya penyelenggaraannya. Terkait dengan GEDSI untuk ditegakkan, ini merupakan tantangan tersendiri di tengah keragaman bangsa Indonesia. Di Kementerian Agama, konsep ini tidak beda dengan dengan moderasi beragama. Walaupun ada beragamanya, namun moderasi beragama memberikan ruang kebijakan untuk bisa mendorong bagaimana upaya-upaya yang menghormati keberagaman, kebhinekaan, dan sebagainya," lanjutnya.

 

Di dalam target pengembangan kurikulum pendidikan inklusif di madrasah hanya satu, lanjutnya, yaitu meleburkan skat-skat, perbedaan-perbedaan, diskrimasi dalam gender, geografi, kemiskinan, akses internet, migrasi, bahasa, budaya, suku bangsa, kemudian disabilitas itu bisa diatasi.

 

"Dalam bahasa saya meleburkan skat-skat tersebut dalam pembelajaran di madrasah, ini bukan bicara sederhana, namum meleburkan skat-skat untuk mewujudkan interkoneksi yang cukup luas, cukup harmonis, untuk bisa membawa anak-anak kita ke dalam pemahaman yang general di dalam menyikapi keanekaragama ini ternyata kalau kita kaji secara dalam membutuhkan kesadarana dan pehamahan kita secara jeli, pernik-perniknya begitu dalam," lanjutnya.

 

Pihaknya berharap, kepada guru dan stakeholders di madrasah untuk bisa mengimplementasikan paradigma tersebut. "Kita bisa beropini, namun dalam pelaksanaannya terkadang susah dilakukan. Mengapa? Seperti sudah saya katakan tadi, program-program pendidikan inklusi sudah lama digaungkan, namun perlu keterlibatan kita secara massif dan juga kesadaran kita," tegas dia.

 

Dalam Kebijakan Kurikulum dan Evaluasi, agar guru-guru bisa menyikapi keanekaragaman siswa, sudah ada beberapa regulasi. Mulai dari jenjang RA: KMA 792 Tahun 2018, PAI Madrasah: KMA 183 Tahun 2019, Implementasi Kurikulum: KMA 184 2019, Supervisi Pembelajaran: KMA tentang Supervisi Pembelajaran.

 

Maka dari itu, ada beberapa agenda yang dilakukan. Pertama, panduan kurikulum akomodatif dalam mengimplementasikan kurikulum yang mengarusutamakan GEDSI. Kedua, panduan identifikasi dan assesmen fungsional bagi Peserta Didik Berkebutuan Khusus (PDBK). Ketiga, pedoman program pembelajaran individual/SKS ( PPI). Keempat, pedoman pembelajaran dan penilaian akomodatif. Kelima, panduan pengembangan strategi dan media pembelajaran inklusi. Keenam,  juknis monitoring, evaluasi, pelaporan dan penjaminan mutu internal. Ketujuh, pengembangan budaya inklusif di madrasah.

 

Di akhir sambutan, ia berharap agar semua elemen konsisten menjalankan perjuangan pendidikan inklusif di madrasah. Usai sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi dari para narasumber. Pertama adalah Dewan Pakar FPMI Pusat/Ketua Umum Lintang Samudra Edukasi Yayasan MDP Indonesia Drs. Dedy Kustawan, M.Pd., yang menyampaikan materi Kebijakan Dan Konsep
Monitoring Dan Evaluasi Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Berbasis Gender, Disabiltas, Dan Inklusi Sosial. Kedua, Pengurus FPMI Kemenag Pusat Maskanah, S. Ag. M. Pd., yang menyampaikan materi Mekanisme Pelaksanaan Sistem Monitoring, Evaluasi Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusif Berbasis Gender, Disabilitas, Dan Inklusi Sosial yang dimoderatori Pengawas Madrasah Kankemeneg Kabupaten Bone Akmal, S.Ag., M.Pd.I.

 

Deputy Director Learning INOVASI Feiny Sentosa dalam kesempatan itu mengatakan selamat atas terlaksananya ToT sejak April seri-1 sampai dengan September 2021 seri-7 yang merupakan sesi akhir. "Pelatihan ToT biasanya merupakan langkah awal untuk mendiseminasikan atau meneruskan pelatihan selanjutkan diteruskan kepada praktisi, guru atau kepala madrasah yang justru akan melaksanakan apa yang dilatih di madrasah-madrasah mereka," bebernya.

 

Tugas ke depan, pihaknya berharap para Fasnas yang sudah dilatih untuk menularkan, mendampingi, dalam perjalanan, mendorong guru dan kepala untuk terus mencoba, mencoba lagi sampai berhasil. "Masa pendampingan ini sebenarnya masa yang penting bagi guru, untuk melaksanakan refleksi melalui pengamatan dengan teman sejawat, atau dengan pendamping atau dengan Fasnas sendiri," katanya.

 

Pihaknya berharap agar lokakarya atau ToT ini berjalan maksimal dengan tindaklanjut di madrasah masing-masing. “Perlu evaluasi pelaksanaan dan pendampingan, perlu apa sih yang harus dimaksimalkan ke depan,” harapnya.

 

Di akhir sesi, secara resmi ditutup oleh Direktur GTK Madrasah Kemenag RI Dr. Muhammad Zain, M.Ag. Pihaknya mengapresiasi saat kunjungan di Semarang dan bertemu dengan guru-guru inklusi yang luar biasa, yang mampu mengawal anak-anak yang memiliki keterbatasan. "Mereka punya cara tersendiri yang luar biasa, yang bisa mencari talenta dari anak-anak yang berkebutuhan khusus tersebut," paparnya.

 

Dari data EMIS, kita memiliki 43 ribu anak berkebutuhan khusus dan guru-guru kita banyak yang belum terlatih secara profesional. "Dalam konteks inilah, arti penting ToT Fasilitator Nasional ini, dan semua yang kita latih, para tutor ini bisa meneruskan para ilmu pada guru di daerah masing-masing," harapnya.

 

Pihaknya berharap, agar para Fasnas menularkan semua ilmu, praktik baik dan pengalaman yang didapat kepada semua guru di daerah masing-masing untuk memaksimalkan apa yang didapat. Pihaknya juga berharap ke dapan ada program-program yang berkelanjutan yang menyentuh pendidikan inklusi karena dari hasil wawancara dengan guru-guru, masih banyak guru yang ternyata belatihan otodidak tentang inklusi. (Ibda).


Jakarta, Harianguru.com - Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI menggelar Training of Trainer (ToT) Pendidikan Inklusif berbasis Gender, Disabilitas dan Inklusi Sosial (GEDSI) Seri 6 pada Rabu (25/8/2021) via Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui Youtube GTK Madrasah Channel. 


ToT diberikan kepada para Fasilitator Nasional (Fasnas) untuk meningkatkan kualitas Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusif berbasis GEDSI yang bekerjasama dengan INOVASI dan Froum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI) seri-6 ini mengkaji Program Pendidikan Khusus/Kompensatoris pada Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusif berbasis GEDSI.


Dalam sambutannya, Ketua FPMI Pusat Supriyono, M.Pd., menyampaikan bahwa perjuangan FPMI bersama Kemenag, INOVASI dan semua stakeholders dalam memajukan pendidikan inklusif memiliki dasar teologis yang jelas. "Sedikit mengingatkan, misi perjuangan dan iktikad kita untuk terus memberikan layanan pendidikan inklusif di madrasah kita, perlu kita mengingat bahwa Islam bahkan semua agama sangat mengutamakan kesetaraan di antara sesama, tidak ada perbedaan antarkelompok, gender, disabilitas, semua sama di hadapan Allah, di hadapan Tuhan, dan yang membedakan adalah ketakwaan kita di hadapan Allah," tegasnya.


Hal itu dijelaskan Lek Pri, menyadur Al-Quran Surat Annur ayat 61. Pihaknya berharap, perjuangan yang dilakukan melalui kegiatan itu menjadi perjuangan yang sukses dunia akhir, memberikan keberkahan bagi pelaksana, keluarga, dan juga masyarakat luas. Secara eksplisit, menurutnya, bahwa ayat ini menjelaskan kesetaraan sosial, baik bagi tidak halangan tuna netra, tuna daksa, orang sakit, berhak mendapat perlakuan sama.


Penafsiran dalam hal ini jelas, bahwa Islam mengecam sikap tindakan diskrimatif terhadap penyandang disabilitas, apalagi diskriminasi berdasarkan kesombongan dan jauh dari akhlakul karimah


Narasumber pertama, Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia Dr. Kristiantini Dewi, Sp.A., menyampaikan materi bertajuk Temu Kenali Dini Disleksia. Dalam penjelasannya, pihaknya menjelaskan beberapa hal yang sering ditemukan di PAUD. Seperti rewel sekali, selalu harus dituruti keinginannya, tapi komunikasi tidak lancar, sehingga anak tantrum. Kemudian juga sikap agresif, bermainnya ‘kasar’, banyak konflik fisik dengan teman, tidak bisa duduk tenang. Lalu sikap sangat kalem, dan super lambat dalam segala hal dan masih serba kesulitan dalam aspek keterampilan bina diri.

Atas fenomena itu, banyak tanggapan yang bermunculan seperti anggapan wajar, anggapan telat berbicara, anggapan pemakluman anak PAUD tak bisa diam, anggapan bagus kalau anaknya kalem, lambat-lambat sedikit tidak masalah, dan anggapan anak PAUD masih wajar diladeni karena nanti diyakini bisa mandiri.


Selain di PAUD, ia juga menjelaskan fenomena yang terjadi di jenjang SD/MI seperti banyak bengongnya, jika diberi instruksi, tidak bersegera, masih membutuhkan pengulangan berkali-kali saat menerima instruksi, serba pelupa, kesulitan membaca, namun paham jika artikel dibacakan, masih sulit menulis, masih sulit menumpukan perhatian, banyak bicara, jahil, dan provokator.


Pihaknya juga menjelaskanm perbedaan kesulitan belajar umum dan kesulitan belajar spesifik. Kesulitan belajar umum memiliki ciri potensi kecerdasan di bawah rata-rata, kesulitan terjadi pada semua aspek perkembangan, didapatkan pada berbagai kasus: autism, palsi serebral, disabilitas intelektual, sindrom down, dan vokasional/bantu diri

lebih utama.


Kesulitan belajar khusus, yaitu potensi kecerdasan di rentang rata-rata atau di atas rata-rata, kesulitan terjadi pada aspek perkembangan bahasa dan fungsi eksekutif, didapatkan pada kasus disleksia, diskalkulia, disgrafia, dan mampu belajar di sekolah regular/inklusi


Dalam kesempatan itu, pihaknya menegaskan definisi disleksia menurut Asosiasi Disleksia Indonesia (2019). Dijelaskannya, bahwa disleksia merupakan salah satu bentuk kesulitan belajar spesifik yaitu suatu kondisi yang ditandai dengan adanya kesulitan belajar yang terjadi pada individu dengan potensi kecerdasan yang sedikitnya normal atau berada pada taraf kecerdasan rata-rata, di mana kesulitan belajar yang terjadi meliputi kesulitan di area berbahasa, termasuk bahasa lisan (yang terutama ditandai dengan adanya gangguan kesadaran fonem), bahasa tulisan, dan bahasa sosial (kesulitan memaknai bahasa tubuh, sikap dan postur lawan bicara, serta kesulitan menampilkan bahasa tubuh, sikap, serta postur tubuh yang tepat dalam merespons suatu situasi sosial), disertai adanya gangguan di area fungsi eksekutif (executive function).


Disleksia juga seringkali disertai dengan bentuk kesulitan belajar spesifik lainnya yakni disgrafia dan diskalkulia. Selain itu disleksia juga seringkali disertai kondisi penyerta lain seperti Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (Attention Deficit Hyperactivity disorder) dan Gangguan Perencanaan Motorik (Dispraksia). 


Narasumber selanjutnya, Pegiat Hak Asasi Difabel Yayasan Dria Manunggal DIY Drs. Setia Adi Purwanta, M.Pd., menyampaikan materi Program Kompensatorik Anak dengan Gangguan Penglihatan. "Di dalam Al-Quran, kata pertama adalah iqra', bacalah. Carilah informasi. Kalau kamu sudah membaca, mencari informasi, kamu bisa mengorientasikan diri. Kalau sudah demikian, kita akan tahu ke mana kita akan bergerak," tegas dia.


Dijelaskan dia, bahwa perolehan informasi melalui indera, untuk penglihatan 83 %, pendengaran 11 %, peraba 4 %, pembau 1 %, dan pengecap 1 %. Menurutnya, dari informasi, akan mempertegas orientasi, dari orientasi akan mempertegas mobilitas, dan setelah itu pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian persoalan.


Di akhir materinya, ia menegaskan bahwa belajar merupakan mengelola potensi dan kondisi pesertadidik, potensi lingkungan fisik dan sosial, serta relasi potensi dan kondisi pesertadidik dengan potensi lingkungannya untuk mencapai kesejahteraan hidupnya. Peserta didik memiliki potensi adaptasi terhadap diri sendiri dan lingkungannya.



The Litle Hijabi Homeschooling for Deaf Galuh Sukmara pemateri selanjutnya, menjelaskan Program Kompensatorik bagi Anak Berkebutuhan Khusus Gangguan Pendengaran. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa perlu perubahan paradigma dari ekslusif menjadi inklusif. "Antonim atau lawan kata dari inklusif adalah ekslusif,” bebernya.


Ia menegaskan bahwa sudut pandang ekslusif merupakan cara pandang alamiah terhadap keberbedaan dan keanekaragaman. Semua menjalani satu kehidupan bersama. Semua saling melengkapi dan saling menggenapi pemahaman. Semua sedang belajar bersama-sama. Semua memiliki cara hidupnya masing-masing yang jika disinergikan akan membuat penghayatan akan kehidupan lebih sempurna


Dalam konteks pembelajaran, inklusifitas adalah cara pembelajaran bagi semuanya. Tidak ada pemisahan, semuanya diperkenankan bertemu sesuai dengan pemberian porsi masing-masing, pemberian porsi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan masing-masing, diperuntukkan bagi semuanya bukan bagi yang sempurna, ditempuh dengan jalan yang disesuaikan kemampuannya, tapi yang "diistimewakan" Tuhan dengan alatnya different abilities, di mana kemampuannya yang digunakan untuk belajar dan mengenali kehidupannya yang berbeda dengan orang lain


Narasumber berikutnya, Spectrum Treatmen and Education Centre Diah Kartia Esti menyampaikan materi Kendala Perilaku & Emosional pada Anak. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan siklus tumbuh kembang, tentang anak berkebutuhan khusus dan dilanjutkan analisis deteksi gangguan perilaku emosional. Dalam penjelaskannya, ada beberapa hal yang didapatkan dari analisis deteksi gangguan perilaku emosional, di antaranya No health without Mental health (sehat seutuhnya adalah yang diikuti dengan kesehatan mental).


Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan strategi membantu guru. Secara umum yaitu mengatur waktu yang dapat mereka periksa beberapa kali dalam sehari, kemudian mengelola waktu: memecah tugas panjang menjadi tugas pendek dan menetapkan waktu yang singkat, mengelola ruangan dan materi: meminimalkan kesulitan dengan mengatur proses dan cara bekerja, mengelola pekerjaan: daftar periksa untuk menyelesaikan tugas bertemu guru untuk meninjau pekerjaan, dan menggunakan warna untuk menyoroti informasi penting dalam buku serta menulis tanggal tugas harus diselesaikan di bagian atas tugas.

Dalam konteks ini, pendidik harus memiliki keterampilan dasar para guru dan keterampilan tambahan para guru serta keterampilan ekstra pada guru. Keterampilan ekstra guru dapat dilakukan dengan melibatkan orang tua, berhubungan dengan masyarakat untuk membangun kerjasama bagi  siswa yang lebih tua untuk magang dan mengajarkan siswa ketrampilan umum di luar kelas.


Dewan Pakar FPMI dan Akademisi Universitas Negeri Malang Dr. Ahsan Romadlon Junaidi sebagai narasumber terakhir menyapaikan materi bertajuk Pengembangan Diri Peserta Didik Hambatan Intelektual.


Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa setiap manusia diberi anugrah kecerdasan. “Setiap individu memiliki anugrah kecerdasan. Teori kecerdasan majemuk (Gardner) mengajarkan bahwa setiap individu kapasitas untuk memiliki sembilan kecerdasan. Kecerdasan-kecerdasan tersebut ada yang dapat sangat berkembang, cukup berkembang, dan kurang berkembang. Semua anak dapat mengembangkan setiap kecerdasan hingga tingkat penguasaan yang memadai apabila ia memperoleh cukup dukungan, pengayaan, dan pengajaran,” bebernya


Pihaknya menegaskan strategi layanan pendidikan bagi peserta didik hambatan intelektual. Hal itu dimulai dari bangun kesadaran kepada guru, orang tua dan warga sekolah bahwa setiap anak memiliki kecerdasannya masing-masing, tetapkan tujuan yang jelas bahwa pendidikan tidak hanya akademik, tetapi memfasilitasi semua potensi anak, lakukan pengamatan dengan cermat untuk menemukan kecerdasan setiap anak, berikan pilihan-pilihan kegiatan belajar sehingga anak bisa menghasilkan karya atau mengaktualkan kemampuan / kecerdasannya, berikan ruang untuk memberikan apresiasi terhadap karya atau aktualisasi kemampuan anak, libatkan orang tua secara proporsional dalam memfasilitasi potensi anak.


Usai penyampaian materi, kegiatan di tiap sesi dilanjutkan dengan diskusi antara narasumber dan peserta. Selain jajaran FPMI dan narasumber, hadir juga PTP Subdit Kurikulum dan Evaluasi KSKK Madrasah Kemenag RI Dr. Imam Bukhori, M.Pd., Dra. H. Siti Sakdiyah, Kasubdit Bina Guru RA Direktorat GTK Ditjen Pendis Kemenag RI,  Kasubdit Kesiswaan Direktorat KSKK Ditjen Pendis Kemenag RI Nanik Pujiastuti, perwakilan tim INOVASI, dan panitia. (Hg99/Ibda).


Temanggung, Harianguru.com - Dalam rangka menindaklanjuti program vaksinasi dari Kodim 0706/Temanggung yang telah disampaikan Komandan Kodim 0706/Temanggung Letkol Czi Kurniawan Hartanto S.E., M.Han., beberapa waktu lalu, Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung, AKPER Al-Kaustar bekerjasama dengan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Temanggung siap menggelar vaksinasi dengan kuota 300 orang. Hal itu terungkap dalam rapat persiapan vaksinasi pada Senin (16/8/2021). 


Hadir dalam kesempatan itu Ketua BPP INISNU Temanggung Nur Makhsun, Bendahara Ipnu Haryono, Sekretaris Mahsun, Pjs Wakil Rektor I INISNU Hamidulloh Ibda, Direktur AKPER Al-Kautsar Tri Suraning Wulandari dan jajaran serta Ketua LKNU dr. Anis Mustagfirin dan tim LKNU dr. Dana.


Dalam kesempatan itu, dijelaskan Ketua BPP INISNU Nur Makhsun bahwa kegiatan itu dalam rangka menyukseskan program pemerintah dalam memutus mata rantai covid-19. Vaksinasi juga digelar dalam rangka merayakan HUT RI ke-72 dengan nama Vaksin Merdeka.


"Kemarin sudah mendapat amanat dari Kodim 0706/Temanggung terkait program vaksinasi dengan vaksin Astrazeneca. Prioritas utama untuk mahasiswa, alumni dan masyarakat umum. Maka kita rapat awal ini untuk memetakan kebutuhan dan kesiapan teknis vaksinasi besuk," jelasnya.


Pihaknya mengucapkan terima kasih kepada Kodim 0706/Temanggung yang telah memberikan amanat untuk menggelar vaksinasi tersebut. "Semoga bermanfaat bagi sivitas akademika INISNU, AKPER Al-Kautsar dan masyarakat," katanya.


Dalam laporannya, Wakil Rektor I Hamidulloh Ibda mengatakan bahwa total pendaftar melalui online sudah mencapai 233. "Setiap hari selalu bertambah. Kita target H-2 sudah selesai mencapai 300 orang," ujar dia.


Seperti diketahui, program vaksinasi tersebut sudah diumumkan secara online. Mahasiswa dan alumni INISNU dan AKPER Al-Kautsar serta masyarakat umum bisa melihat pengumuman di laman https://inisnu.ac.id/download/pengumuman-pendaftaran-vaksinasi/ dan bisa melakukan pendaftaran mandiri melalui url https://bit.ly/VAKSINMERDEKA2021. 


Pendaftar akan ditutup jika sudah memenuhi kuota. Link akan tertutup otomatis dan tidak bisa dibuka ketika sudah memenuhi kuota. (HG11).


Temanggung, Harianguru.com - Sehari menjelang hari kemerdekaan RI ke 76, INISNU Temanggung menandatangani naskah kerjasama dengan Pemkab Temanggung terkait peningkatan pembangunan daerah. Bertempat di ruang rapat Pendopo Pengayoman, Bupati Temanggung H. Muhammad Al Khadziq dan PJs Rektor INISNU Sumarjoko menyampaikan bahwa dua institusi ini harus bergandeng tangan membangun daerah. 

Acara ini dipandu oleh Gotri Wijiyanto asisten 1 Sekda Temanggung dan disaksikan perwakilan dari Bappeda, pejabat bagian hukum dan pemerintah dan unsur dari INISNU Temanggung.

Dalam sambutan pengarahannya, Bupati H. Muhammad Al Khadziq menekankan bahwa posisi perguruan tinggi harus bisa menjadi corong kemajuan daerah. Apalagi INISNU sudah berusia relatif tua dan sudah banyak menghasilkan SDM di berbagai bidang. Untuk itu tugas dari para pendiri harus dilanjutkan oleh generasi sesudahnya. "Kami melihat bahwa moment perubahan bentuk ini semakin menasbihkan diri sebagai perguruan tinggi yang bermutu dan selalu menyejajarkan dengan kebutuhan zaman," kata Bupati pada Senin (16/8/2021).

"INISNU Temanggung sebagai bagian dari stakeholders pemerintah daerah patut untuk memberikan sumbangsih kepada masyarakat secara nyata, hal itu merupakan implementasi dari tri dharma perguruan tinggi. Kami siap berkolaborasi sesuai dengan kebutuhan membangun Temanggung gandem", tutur bupati mantan aktivis ini.

Lebih lanjut dikatakan bahwa komitmen kita jangan hanya behenti pada MoU tetapi harus ditindaklanjuti dengan MoA diberbagai bidang menjadi keharusan. Banyak bidang yg harus digarap secara serius khususnya disektor peningkatan kualitas SDM unggul, tanpa pembenahan serius mustahil cita-cita dalam mewujudkan Temanggung Marem, Gandem akan tercapai 

Sementara itu Pjs Rektor INISNU Sumarjoko menyampaikan bahwa kami tidak akan membatasi diri hanya dalam hal keagamaan semata tetapi dengan SDM muda lintas disiplin ilmu, siap mengawal pembangunan diberbagai bidang.

"Rata-rata dosen kami berusia 30-45 an. Selain itu kami juga sudah memiliki 5 orang doktor dan 10 dosen on going penyelesaian program doktoral. Jadi tidak berlebihan jika kami menjadikan Temanggung sebagai ladang pengabdian yang menjadi kewajiban asasi setiap akademisi", tutur kandidat doktor UIN Sunan Kalijaga ini.

Tanpa mengurangi esensi, acara terselenggara secara lancar menyesuaikan prokes dan berakhir pukul 12.00 WIB. Hal ini sesuai dari aturan penyelenggaraan acara di masa pandemi. (Hg11).


Jakarta, Hatianguru.com - Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Ditjen Pendidikan Islam Kemenag menggelar Training of Trainer (ToT) Pendidikan Inklusif berbasis Gender, Disabilitas dan Inklusi Sosial (GEDSI) Seri 5 pada Kamis (12/8/2021). ToT diberikan kepada para Fasilitator Nasional (Fasnas) untuk meningkatkan kualitas Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusif berbasis GEDSI , program kemitraan INOVASI , Ditjen Pendidikan Islam dan Froum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI).


ToT Seri 5 dengan tema "Akomodasi Pembelajaran pada Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusif berbasis GEDSI" ini digelar secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung lewat Youtube GTK Madrasah Channel.


Dalam sambutan pengantar, Kepala Subdirektorat Bina Guru dan Tenaga Kependidikan Raudlatul Athfal Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd., mengapresiasi semua peserta yang selalu aktif dalam ToT maupun dalam diskusi via daring.


“Kami berterima kasih kepada INOVASI atas kemitraan ini, sehingga program serial GEDSI, penyusunan Roadmap Madrasah Penyelenggara Inklusi , penyusunan video PKB, Penyusunan Juknis QA & ME, Piloting PKB RA yang sudah terlalui proses AKG dan sekarang tahap penyusunan Modul PKB RA, serta penyusunan juknis PKB untuk daerah 3 T. beber Siti Sakdiyah .


Sesungguhnya kegiatan ToT ini adalah upaya pengejawantahan atas amanat Undang-undang nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, ldimana dalam pasal 10 disebutkan bahwaaa hak pendidikan untuk penyandang disabilitas meliputi hak untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur dan jenjang pendidikan , secara inklusif dan khusus mempunyai kesamaan dalam memperoleh pendidikan di satuan pendidikan. Hal ini saya kira menjadi penguat dan tantangan bagi kementerian Agama untuk dapat memberikan layanan yang terbaik atas kepercayaan masyarakat menitipkan anak-anaknya yang berkebutuhan khusus di madrasah kita,” lanjutnya.



Mudah-mudahan ToT ini ada Tindak lanjutnya untuk bisa didesiminasikan di wilayah masing-masing, Rencana Direktorat GTK akan melanjutkan penguatan kapasitas Pendamping Kebutuhan Khusus ini melalui program Short Course ke Perguruan Tinggi yang menjadi benchmarking dalam Pengelolaan Pendidikan Luar Biasa di Indonesia. Dan hasil diskusi dengan peserta ToT tentang permasalahan layanan kepada ABK belum maksimal, “Selama ini guru-guru bergerak di madrasah dengan satu lambang yaitu keikhlasan, nilai ibadah, dan jiwa kasih sayang yang dengan harapan sebagai ladang pahala. imbuh Sakdiyah 

Kami juga berterima kasih kepada Forum Pendidikan Madrasah Inklusi (FPMI) yang sudah diberikah Surat Keputusan oleh Direktur GTK atas nama Dirjen Pendis, sehingga action plan dan rencana- rencana program bisa berjalan dengan lancar dalam penguatan pendidikan inklusi di madrasah. pungkas Kasubdit Bina GTK RA yang berasal dari Jepara Jawa Tengah yang terkenal sebagai kota Kartini .


Dalam kesempatan ini, dihadirkan tiga narasumber dari berbagai instansi. Ketiga narasumber itu adalah Kabag Data Perencanaan dan Kerjasama dalam Negeri Kemenag RI Dra. Ida Nur Qosim, M.Pd., Dewan Pakar FPMI - PLB UNESA Surabaya Dr. Sujarwanto, M.Pd., dan PTP Subdit Kurikulum dan Evaluasi KSKK Madrasah Kemenag RI Dr. Imam Bukhori, M.Pd.


Dalam penyampaian materinya, Kabag Data Perencanaan dan Kerjasama dalam Negeri Kemenag RI Dra. Ida Nur Qosim, M.Pd., mengatakan bahwa dalam menerapkan pendidikan inklusif, sumber daya manusia harus siap utamanya guru dan tenaga kependidikan dan juga sarana dan prasarana.


“Guru atau tenaga kependidikan yang terlatih, jadi itu skala prioritas. Misal tidak bisa, kita bisa mengusulkan kegiatan melalui KKG dan MGMP yang telah di usung Kemenag bersama World Bank . Tahun 2022 ke depan, kita bisa mengusulkan yang penting ada regulasi, ada data, agar ketika kita mengajukan lebih pede dan mantab,” bebernya yang dimoderatori Ilham Prakoso.


Untuk sarana dan prasarana, pihaknya menyarankan madrasah baik negeri atau swasta untuk tidak terlalu ribet dalam menyiapkan pendidikan inklusif, karena menurutnya sarpras tidak harus khusus. "Namun madrasah bisa menggunakan SBSN yaitu Surat Berharga Syariah Negara, dimana desain sarana dan prasarananya di buat yang ramah anak, ramah genger dan ramah inklusi tentunya " 


Untuk sarpras, katanya, bisa memaksimalkan dana BOS. Pihaknya mengharap agar semua madrasah bisa memaksimalkan semua potensi, karena Kemenag RI sendiri juga melakukan recofusing dana sampai empat kali sehingga beberapa anggaran untuk program atau kegiatan harus dihentikan sementara di masa pandemi ini.


"Saya cerita kesemangatan saja ini. Karena kita semua harus semangat. Mari kita sama-sama menggerakkan pendidikan inklusif bersama," bebernya sembari menceritakan cerita daerah dari Madura.



Narasumber kedua, Dewan Pakar FPMI - PLB UNESA Surabaya Dr. Sujarwanto, M.Pd., menjelaskan banyak hal tentang kurikulum dan RPP pendidikan inklusif. Mengawali penyampaian materinya, pihaknya menukil ayat Alquran dalam Surat Abasa yang menjadi dasar untuk peduli dan mengurusi anak berkebutuhan khusus.


"Mengurusi anak-anak reguler dan yang sekolah luar biasa ini pekerjaan yang luar biasa," tegasnya yang dimoderatori Pengawas Madrasah Kankemenag Kota Pekanbaru Riau Hj. Azmarwati, M.Pd.


Kata Hallahan dan Kauffman, lanjutnya, guru yang baik adalah guru yang dapat mengajar semua siswa. "Kalau ada guru mengajar di sekolah regular ada anak berkebutuhan khusus itu tantangannya luar biasa," bebernya.


Pihaknya mengibaratkan RPP seperti menu restoran. Pihaknya juga melontarkan pertanyaan kepada peserta ToT yaitu mengapa kurikulum di sekolah, RPP-nya harus dimodifikasi? Setelah mengajukan pertanyaan, kegiatan dilanjutkan diskusi dan penyampaian materi.


"Kurikulum akomodatif adalah kurikulum standar nasional yang disesuaikan dengan bakat, minat, dan potensi peserta didik berkebutuhan khusus. Pengembangan kurikulum akomodatif ini dilakukan oleh masing-masing sekolah inklusi," katanya.


Komponen kurikulum itu, menurutnya ada beberapa aspek. Pertama tujuan, keadaan yang ingin dicapai setelah menjalani proses pembelajaran berupa kemampuan kognitif, afektif maupun psikomotorik. Kedua isi, materi atau substansi yang harus dipelajari oleh peserta didik supaya dapat mencapai tunuan yang diinginkan. Ketiga proses, kegiatan atau aktivitas pembelajaran yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Keempat evaluasi, proses yang dilakukan untuk mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan.


Dari komponen kurikulum itu, pihaknya mengatakan perlu diotak-atik khusus untuk anak berkebutuhan khusus yang harus disesuaikan. "Misal ada materi Penjas, apakah anak berkebutuhan khusus harus ikut olahraga atau bagaimana. Maka ini perlu diotak-atik dan mengakomodasi kurikulum harus dilakukan," tegasnya.


Alur memodifikasi itu, diawali dari informasi dari tenaga ahli, orang tua, orang tua siswa, guru pendamping lalu dilakukan tes, pengamatan, wawancara dan lainnya. Kemudian dilakukan asesmen, yang juga didapat dari identifikasi, meliputi kemampuan, gaya belajar, perilaku akademik dan nonakademik, barulah dilakukan modifikasi perencanaan pembelajaran yang di dalamnya memuat tujuan, materi, proses dan evaluasi. "Inilah alur yang harus dilalui dalam mendesain rencana pembelajaran inklusif," lanjutnya.


Selain itu, pihaknya juga menjelaskan komponen-komponen kurikulum dan dilanjutkan diskusi dengan para peserta, dan peserta diberikan lembar kerja untuk dikerjakan.


Narasumber terakhir, PTP Subdit Kurikulum dan Evaluasi KSKK Madrasah Kemenag RI Dr. Imam Bukhori, M.Pd., menjelaskan materi ini tentu sangat beririsan dengan materi yang disampaikan Dr. Sujarwanto, M.Pd. “Ada tiga hal yang akan saya sampaikan. Pertama, strategi pembelajaran diferensiasi, kemudian pembelajaran kooperatif. Kedua, penataan kelas dan media pembelajaran. Ketiga, adaptasi pembelajaran, ini tentang Program Pembelajaran Individual (PPI) dan RPP adaptasi,” katanya.

Dijelaskannya, bahwa dalam pembelajaran inklusi ada yang namanya diferensiasi. “Setiap pembelajaran itu berbeda, dan tidak boleh digebyah-uyah, karena tidak semua yang asin itu uyah (garam), kadang keringat itu juga asin,” bebernya.

Dalam pembelajaran, menurutnya, penataan kelas, media pembelajaran, mengadaptasi kurikulum sehingga menjadi proses pembelajaran yang adaptif sesuai kebutuhan peserta didik amat penting. Menurutnya, ada materi tentang tiga hal di atas, lalu refleksi dan RTL sebagai penugasan sebagaimana narasumber sebelumnya.

Pihaknya berharap, peserta ToT setelah mengikuti sesi yang ia sampaikan menguasai dua aspek. Pertama, memahami dan memiliki keterampilan terkait strategi pembelajaran melalui pendekatan diferensiasi-instruksional di kelas. Kedua, memahami dan memiliki keterampilan terkait strategi pembelajaran melalui pendekatan pembelajaran koperatif di kelas.


Pihaknya melontarkan sebuah pertanyaan, yaitu mengapa perlu pembelajaran diferensiasi? “Tentu kita tidak menginginkan perlakuan terhadap peserta didik kita, itu disamaratakan sama. Kemudian perlakuan kita, terhadap peserta didik itu tidak adil, sehingga yang terjadi yang pintar semakin pintar, yang biasa ya tetap biasa-biasa saja, kemudian yang tidak pintar akan semakin tertinggal,” ujarnya.


Hal itu menurutnya masih terjadi di madrasah dan guru-guru kebanyakan lebih suka menangani anak-anak yang pintar. “Mereka yang pintar difasilitasi sehingga melesat jauh, sementara anak-anak yang dikesankan atau dipersepsikan sebagai anak-anak yang nakal, kurang cerdas, itu tidak begitu mendapatkan layanan. Ini yang masih kita saksikan,” tegas Pengurus Pusat LP Ma’arif tersebut.


Yang ideal, menurutnya, adalah layanan inklusif. “Jadi perlakuan kita, intervensi kita terhadap peserta didik itu disesuaikan dengan kebutuhan anak. Ini yang paling prinsip, dan itu yang paling tahu adalah guru itu sendiri,” bebernya.


Maka menurutnya, guru harus memiliki pemahaman penuh terhadap karakteristik peserta didiknya, baik karakteristik dari aspek fisik, atau aspek mental, aspek psikologis, atau aspek potensi religiusitas atau akhlak anak. “Ini harus dipahami betul, kemudian mereka diperlakukan sesuai karakteristik tersebut. Itulah prinsip dari pendidikan inklusif,” tegasnya.


Karena itu, diferensiasi instrusional didefinisikan sebagai pengajaran yang responsif lebih baik dari pengajaran satu metode yang digunakan untuk semua. Sedangkan ragam Diferensiasi - Instruksional yang dimaksud itu adalah dari aspek materi, proses, produk, dan lingkungan kelas


Di akhir penyampaian materinya, pihaknya menegaskan untuk bergerak bersama, memberikan layanan pendidikan terbaik bagi siapapun, tidak boleh ada yang tertinggal dalam mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu sebagai bagian pengabdian ibadah kepada Allah SWT.


Selain ketiga narasumber dan Kepala Subdirektorat Bina Guru dan Tenaga Kependidikan Raudlatul Athfal Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd., hadir juga perwakilan dari INOVASI, Ketua FPMI Pusat Supriyono, M.Pd., panitia dan peserta dari berbagai daerah. (HG99/Ibda).

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget