Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Januari 2021

 sahabatanak.org

Oleh Umie Wahidatun Thohiriyah

Nama lengkapku Haris Ramadhan. Umurku 11 tahun dan saat ini duduk di bangku kelas 5 SD. Orang tuaku bekerja sebagai petani. Mereka bekerja di sawah setiap hari. Meskipun orang tuaku seorang petani, aku bangga kepada mereka. Sepulang sekolah, aku selalu membantu pekerjaan mereka di sawah.

Aku tinggal Bersama keluargaku di sebuah desa yang memiliki berbagai macam keindahan alam. Aku sering mengagumi keindahan alam tersebut. Saat kecil aku belum tahu nama berbagai macam keindahan alam yang ada di desaku.

“Ayah… itu apa?” tanyaku penasaran sambal menunjuk sebuah gundukan besar menjulang tinggi. Gundukan itu terbentang luas di hadapanku.

“Oh…itu Namanya Gunung Merapi, Haris…” jawab ayah.

Aku yang masih penasaran dengan jawaban ayah yang singkat itu. Aku pun kembali bertanya.

“Mengapa disebut Gunung Merapi dan mengapa ada di daerah kita, ayah?” tanyaku lagi penuh semangat.

“Gundukan itu disebut Gunung Merapi karena gunung itu masih aktif dan dapat mengeluarkan lahar kapan pun. Gundukan itu memang sudah ada sebelum ayah lahir. Ayah juga tidak tahu pasti mengapa gunung itu ada di daerah kita. Ayah hanya tahu kalua gunung itu banyak memberikan manfaat bagi manusia.

Buktinya, ayah dapat mengolah tanah di sini menghasilkan dan mampu mencukupi kebutuhan kita sehari-hari,” jelas ayah panjang lebar. Meskipun demikian, aku masih belum puas dengan jawaban ayah.

Aku menilai bahwa jawaban ayah hanya sekedarnya saja. Ayah mungkin masih Lelah pulang dari sawah. Jadi, jawabannya belum membuatku puas.

Sejak pembicaraan sore itu, aku tidak lagi mempermasalahkan kenapa dan mengapa di daerahku terdapat gundukan tanah yang menjulang tinggi itu. Aku juga tetep tidak tahu dengan jelas alas an ayah menyebut gundukan itu dengan nama Gunung Merapi.

Bagiku sudah cukup Bahagia dapat berada di tengah-tengah keluarga yang menyayangi. Untuk hal-hal lainnya biar orang dewasa yang mengurus. Aku tinggal bersama kedua orang tua dan kedua saudaraku yang bernama Kak Hamzah dan Kak Hani, aku anak bungsu.

Sampai sekarang pun aku tak memikirkan alasan kedua orang tuaku tinggal di desa terpencil seperti ini. Hal tersebut tidak menjadi masalah besar bagiku. Menurutku tinggal di desa sangatlah menyenangkan lingkungan desa sangat nyaman dan damai.

Sampai sekarang, aku hanya bisa melihat sesuatu yang disebut kereta dan sesuatu yang disebut gedung bertingkat hanya melalui tayangan televisi saja. Aku belum pernah ke kota, jadi belum pernah melihat secara langsung benda-benda tersebut. Minimal aku sudah memiliki gambaran tentang apa yang sering ibu dan bapak guru ceritakan tentang keberadaan kota dan kehidupan di kota. Aku ingin sekali melihat kehidupan kota seperti yang diceritakan oleh teman dan guruku. Namun, bagiku hal yang terpenting sekarang hanyalah menjadi anak yang bisa diandalkan kedua orang tuaku.

Kedua kakakku yang sudah merantau keluar daerah membuat posisiku seperti anak tunggal di rumah. Aku selalu tersenyum lebar saat aku sedang membantu kedua orang tuaku menggarap sawah. Aku tidak pernah mengeluh sedikit pun. Tak ada beban meskipun aku tidak bisa bermain leluasa seperti anak sebayaku.

Terkadang masih sangat lekat dalam ingatanku akan keceriaan yang tercipta saat kedua kakakku masih tinggal bersama. Aku masih bisa bermanja-manja ria. Terkadang keceriaan itu masih terbawa dalam mimpi saat aku tertidur lelap.

“Haris...Haris...sayang kemari Kak Hani bawakan sesuatu untukmu”

Begitulah Kak Hani sering memanggilku. Saat ia pulang ke rumah, pastilah ia membawakan aku sesuatu yang bisa membuat hatiku senang. Seketika itu, aku langsung berhamburan lari menghampiri Kak Hani. Dengan sedikit manja Kak Hani membelai halus rambutku lalu bercerita apa saja yang bisa membuatku senang untuk kesekian kalinya.

Kakakku yang paling besar bernama Kak Hamzah. Meskipun ia jarang bercanda denganku, namun aku tahu rasa sayangnya begitu besar kepadaku. Kak Hamzah jaujh beda dengan Kak Hani hanya saja Kak Hamzah orangnya lebih tegas, mirip sekali dengan Ayah. Dulu sering kali aku digendongnya sepulang sekolah melewati pematangan sawah yang terhampar hijau membentang. Sesekali ia bercerita. Ia pernah bercerita tentang keinginannya untuk merantau ke kota mencari uang agar bisa membelikan aku mainan. Ia juga ingin ayah tak lagi bekerja keras membanting tulang untuk keluarga.

“Kak Hamzah mau ke mana?” tangisku saat itu.

“Kakak tidak mau kemana-mana, tidak usah menangis jaga ayah dan ibu baik-baik ya...” jawabnya sambil mengelus lembut rambutku

“Terus kenapa kakak membawa tas ransel begitu besar, seperti orang mau pergi jauh?” tanyaku lagi seraya memghapus air mata yang sesekali masih menetes.

“Iya, Kak Hamzah memang mau pergi jauh tapi nanti juga kembali kok! Haris jaga ayah ibu ya. Jangan sering menyusahkan mereka,” sambil mengedipkan satu mata ke arahku.

Percakapan itulah yang aku ingat saat Kak Hamzah akan pergi merantau. Kak Hamzah sudah bekerja merantau ke luar daerah dan tinggallah aku ayah dan ibu yang berkumpul di halaman yang tak begitu luas namun tetap menjadi tempat menyenangkan kami untuk berbincang ringan bahkan bercanda bersama.

Aku bertempat tinggal di Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang yang terletak di lereng Gunung Merapi. Kondisi deaku sangat berpotensi rawan bencana.

Seperti daerah pegunungan lainnya, desa tempat tinggalku bergelombang dan berbukit-bukit. Oleh karena itu, tak heran jika kedua orang tuaku berprofesi sebagai petani yang mengolah tanah di sekitar gunung.

Suatu sore, Pak Lurah datang ke rumahku. Pria separuh baya itu mencari ayah. “Sore, Haris... Ayahmu ada di rumah?” tanyanya ramah kepadaku.

“Oh....Ayah masih di sawah, Pak,”jawabku.

“Memang ada keperluan apa, Pak?” lanjutku.

“Kalau sangat mendesak saya panggilkan ibu saja ya...”kataku.

Pak Lurah pasti memiliki urusan yang sangat penting dengan ayah. Beliau tidak biasanya mencari ayah seperti ini.

“Wah...memang anak Pak Hadi yang satu ini sangat cakap ya!”ujar laki-laki itu sambil tertawa terbahak-bahak.

“Bapak ini bagaimana...?” dengan nada heran kataku dan mulai berpikir kalau laki-laki yang sering disebut Pak Lurah itu ternyata bisa tertawa begitu kerasnya.

“Begini Nak...besok katakan kepada ayahmu kalau ada pertemuan di balai desa untuk membicarakan sesuatu.”

“Sesuatu apa itu Pak? Apa Hris boleh tahu?”

“Oh...sesuatu itu tidak terlalu penting.”

“Tapi kenapa Bapak sendiri yang menyampaikan undangan itu? Tidak menyuuh Pak Agus saja seperti biasanya?”tukasku lagi.

“Iya...Nak...memang biasanya Pak Agus yang mengantarkan undangannya tapi hanya saja memang tadi kebetulan Bapak lewat depan rumahmu. Jadi, undangan untuk ayahmu sekalian saja Bapak sampaikan sendiri.”

“O...begitu ya...nanti saya sampaikan pesan Bapak.”

Laki-laki separuh baya tersebut kemudian berpamitan dan mengucapkan salam. Aku masih berdiri dengan segudang pertanyaan yang ada di kepalaku. Tiba-tiba kecemasan muncul dihatiku. Sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi, tapi apa? Aku tidak tahu.

Lembayung merah mulai tampak dari ufuk barat pertanda aku harus segera masuk ke rumah dan menyambut ayah pulang dai sawah. Sesaat kemudian ayah nampak berjalan dari arah timur dan setibanya ayah di rumah aku langsung menghampiri dan menyampaikan undangan dari Pak Lurah tadi.

“Yah...tadi Pak Lurah ke sinj. Beliau menyampaikan undangan untuk pertemuan besok di balai desa.”

“Ya....hanya itu pesan beliau agar ayah menghadiri pertemuan besok.”

“Baiklah besok Ayah ke sana. O...iya Haris, tolong ambilkan teh yang sudah disiapkan Ibumu ke sini. Ayah haus.”

“Iya, Yah.”

Keesokan harinya penduduk sudah berkumpul di balai desa. Mereka sengaja diundang oleh Pak Lurah karena ada sesuatu yang ingin dibahas bersama-sama. Rencananya akan diadakan upacara sesaji untuk keselamatan warga desa ini. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin pada tahun-tahun sebelumnya.

Apalagi untuk tahun ini, sepertinya upacara tersebut harus diadakan lebih awal. Hal ini dikarenakan adanya pertanda yang kurang baik dari gaunung yang berdekatan dengan desa tempat kami tinggal tersebut. Adakalanya terasa seperti gempa namun sesekali saja.

Tahun 2011 mungkin membawa semangat baru dalam kehidupan warga sekitar Gunung Merapi Jawa Tengah, terutama keluarga kami setelah terjadinya letusan Merapi ditahun 2010 tepatnya 26 Oktober 2010 mengakibatkan sekitarnya 353 orang tewas, termasuk Mbah Maridjan. Aku beranggapan bahwa Tuhan memberikan anugerah kepada kami semua.

Malam itu cuacanya di luar cukup dingin. Aku brsiap untuk tidur aku pun berdoa sebelum tidur.aku sandarkankepalaku di atas sebuah bantal. Mataku belum sepenuhnya terpejam. Ku coba mengingat-ingat berbagai kejadian yang pernah terjadi dalam keluargaku. Semua itu membuatku lebih mensyukuri arti sebuah kehidupan yang dulu tak pernah ku hiraukan sebelumnya.

Menurutku hidup ini tak dapat terlepas dari ujian. Kedatangnganya tak dapat diduga sebelumnya. Semua menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Tuhan yang tiada bandinganya di alam semesta ini.

Tuhan Maha Kuasa, hanya kepada-Nya kita kembali. Bencana yang datang selalu membawa tiga kemungkinan. Pertama, muncul pesan didalamnya. Kedua, musibah datang sebagai cobaan. Ketiga, musibah datang sebagai pembawa peringatan atau hukuman.

Musibah yang dialami oleh keluargaku juga dialami oleh banyak orang yang bermukim di sekitar lereng Gunung Merapi. Gunung Merapi yang terletak pada perbatasan 4 daerah di Jawa Tengah yaitu Semarang (utara), Kedu (Barat), Yogyakarta (Selatan) dan Surakarta (Timur), mempunyai ketinggian (±) 2968 m DPAL (Dari Permukaan Air Laut). Gunung tersebut merupakan salah satu dari 129 gunung aapi yang masih aktif di Indonesia.  

 

-Penulis adalah seorang mahasiswa dari Universitas Ngudi Waluyo Ungaran, dengan Program Studi

Pendidikan Guru Dekolah Dasar, Fakultas Ilmu Komputer dan Pendidikan. Saat ini sedang menempuh semester 1.


Temanggung, Harianguru.com - Pembangunan MTs Integrasi (Mumtas) Al-Hudlori Temanggung secara resmi dimulai pada Senin (11/1/2021) yang ditandai dengan peletakan batu pertama. Pembangunan MTs di bawah naungan Yayasan Al-Hudlori ini resmi dibangun di Kebonsari, Kecamatan Temanggung, Kabupaten Temanggung dengan luas 4.026 m2.

 

Hadir Bupati Temanggung H. Muhammad Al-Hadziq, Anggota Komisi 8 DPR RI KH Muslich Zaenal Abidin, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Temanggung Drs. Suyono, MM.,  Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Temanggung, KH. Ahamd Muhdzir, Ketua LP. Ma'arif NU Temanggung Drs H Yusuf Purwanto M.Ag., Kiai Abdul Aziz dari Temanggung, Habib Muchsin bin Abdul Qodir Al-aydrus, KH. Muhamad Ridwan Abdan Magelang, KH. Minanurrohman Ansori Payaman Magelang, Drs. KH. Usman Ridlo, Kiai Isa Bahri Temanggung, dan sejumlah tokoh masyarakat.

 

Ketua Yayasan Al-Hudlori H. Abdul Hakim Siradj Abdan mengatakan bahwa pembangunan MTs Integrasi (Mumtas) Al-Hudlori ini disiapkan dana sekitar Rp 16 miliar. Menurutnya, apa perbedaan MTs Mumtas Al-Hudlori dengan yang lain. Pertama, MTs Mumtas Al-Hudlori memiliki paradigma keilmuan integrasi, yaitu sebuah cara pandang model paradigma yang mengintegrasikan, menyatukan, meleburkan ilmu-ilmu umum dan ilmu agama atau dengan agama itu sendiri. Paradigma ini sudah didiskusikan, dikaji matang dan sudah tersusun dalam sebuah buku ilmiah. Jangankan madrasah/sekolah, perguruan tinggi saja masih banyak yang belum memiliki paradigma keilmuan yang mapan.

 

“Integrasi ini memiliki latarbelakang, selama ini banyak sekolah umum yang terlalu berkiblat pada Barat sehingga lulusan mereka cenderung sekuler, liberal, dan mendewakan akal. Di satu sisi, ada pula yang cenderung mengutamakan Islam namun menolak Barat, sehingga lulusannya cenderung kaku, konservatif, puritan, dan radikal. Maka Yayasan Alhudlori memilih jalan integrasi sebagai wujud moderasi ilmu dan moderasi beragama,” katanya.

 

Kedua, wujud integrasi itu nanti kami kembangkan lewat kurikulum, program intra dan ekstrakurikuler, serta penguatan mutu yang tidak hanya unggul dalam sains, matematik, bahasa, literasi, namun juga karakter atau akhlakul karimah sebagai ciri khas madrasah. Ketiga, MTs Mumtas Alhudlori mengembangkan program tahfiz Alquran dan Hadis yang terintegrasi dengan asrama / pesantren siswa.

 

Keempat, kita ke depan akan mengembangkan Gerakan literasi Madrasah melalui Lembaga Pers Siswa, Jurnal Ilmiah Guru, Penerbitan Al-Khudlori yang menjadi produk ilmiah siswa maupun guru melalui publikasi berbasis karya tulis jurnalistik, karya tulis ilmiah, karya sastra, dan karya digital. Kelima, penguasaan bahasa daerah, bahasa nasional, bahasa asing utamanya Inggris, dan Arab secara aktif.

 

“Dengan ikhtiar ini, semoga mampu mewujudkan pendidikan di wilayah Temanggung menjadi obor kemajuan sesuai prinsip pesantren, yaitu almuhafadatu ala qadimissalih, wal akhdu biljadidil aslah, yang berarti merawat tradisi lama yang baik, dan menerima serta mengembangkan tradisi baru yang lebih baik. Hal itulah yang kami pegang teguh dan akan kami kembangkan melalui madrasah integrasi Alhudlori yang sudah pada tahap peletakan batu pertama ini,” lanjutnya.

 

MTs Integrasi (Mumtas) Al-Hudlori ini memiliki fasilitas gedung yang bagus, pondok pesantren, kantin, musala, dan disiapkan para pakar atau guru yang hafiz Alquran dan hadis.

 

Sementara itu, Bupati Temanggung dalam sambutannya menegaskan bahwa pihaknya mengapresiasi atas pembangunan tersebut. Pihaknya juga merasa bangga dan sekaligus terima kasih kepada yayasan yang telah ikut berperan mencerdaskan generasi penerus melalui pendidikan madrasah.

 

Bupati juga berharap semoga madrasah ini nantinya akan melahirkan generasi-generasi cerdas, beriman dan bertakwa. Generasi Ahlussunnah yang mencintai Pancasila dan NKRI. (Ibda)

Ilustrasi Youtube
Ilustrasi Youtube

Oleh Jihan Nabila

Asal: Ambarawa, Semarang, Kampus: Ngudi Waluyo Ungaran

 

Pada suatu hari di desa awan ada seekor kura-kura kecil yang sedang menanam bunga matahari di halaman depan rumahnya.

Kura-kura : “hit u with that ddu du ddu du”  senandung kura-kura kecil itu sambil menanam bunganya.

Tiba-tiba ada seekor kelinci menghampirinya sambil membawa karung yang ia panggul di punggungnya.

Kelinci : “kura-kura!”

Kura-kura : “ hai kelinci, ada apa kemari? Sepertinya kau sangat keberatan. Apa yang kau bawa itu”

Kelinci : “kau tahu? Aku tadi lewat tepi sungai gangga lalu aku menemukan karung ini.”

Kura-kura : “ lalu kira-kira isinya apa ya ci?”

Kelinci: “ mana ku tahu aku aja belum  membukanya. Mari kita buka sama-sama”

Kura-kura & kelinci :  “wahh impressive”

Kura-kura : “ bagaimana bisa ini dibuang”

Kelinci : “wah ini harta karun” ucap kelinci sambil melompat lompat.

Mereka menemukan kudapan manis di dalam karung tersebut.

Kura-kura : “ kelinci aku bolehkan meminta sedikit kudapan itu”

Kelinci : “ tentu saja, kau boleh mengambil sepuasmu”

Kura-kura : “ wah terimakasih kelinci”

Kura-kura membawa kudapan itu kedalam rumah dengan hati yang riang gembira. Dengan langkah yang riang gembira dia membawa masuk semua kudapannya ke dalam kamar.

Kura-kura : “ senangnya oh senangnya”

Tiba- tiba ibu kura-kura mengetuk pintu kamar kura-kura.

Ibu kura-kura :  “ nak, kau di dalam?”

Kura-kura : “ iya bu, ada apa”

Ibu kura-kura : “ ayo cepet kita makan siang bersama”

Kura-kura : “ baik bu aku akan segera menyusul”

Ibu kura-kura : “ cepatlah, nanti makanannya keburu dingin”

Setelah makan siang keluarga kura-kura melanjutkan aktifitasnya masing-masing.

Kura-kura : “ aku akan memakan kudapannya sekarang”

Keseokan paginya saat ibu kura-kura membersihkan kamar kura-kura dia terkejut karena menemukan banyak bungkus permen, cokelat dan berbagai macam kudapan lainnya.

Ibu kura-kura : “ astaga kenapa begitu banyak sekali bungkus kudapan manis disini, dasar anak itu giginya akan sakit setelah ini 

Ibu kura-kura terus mengomel sambil membersihkan kamar. Dan dia terlihat begitu marah.

Ibu kura-kura : “ nak cepetlah kemari!”

Kura-kura : “ kenapa ibu memanggil ku? Ah padahal aku masih mau memakan permen manis ini”

Kura-kura tetap memakan kudapannya itu, dan mengiraukan panggilan ibunya.

Ibu kura-kura : “  dimana anak itu, dari tadi ku panggil tidak datang-datang “

Akhirnya ibu kura-kura bergegas mencari keberadaan anaknya itu.

Ibu kura-kura : “ oh disini kamu rupanya, dari tadi ibu panggil kenapa tidak menjawab”

Kura-kura : “ ibu mengganggu saja, aku sedang menikmati makanan ku nyamm”

Ibu kura-kura : “ jika kamu terlalu banyak makan makanan manis gigi mu itu akan sakit nak”

Kura-kura : “ tidak kok bu aku baik-baik saja”

Ibu kura-kura : “ ya sudah terserah kamu saja nanti kalau sakit jangan mengeluh pada ibu”

Kura-kura : “ apasih ibu, cerewet sekali”

Kura-kura tetap memakan mkananya itu sampai setengah makannya habis.

Sore harinya kura-kura sedang jalan-jalan ketaman sambil memakan campilannya.

Kura-kura : “ hai teman-teman”

Kucing : “ hai kura-kura, wah apa itu yang kamu makan? Sepertinya enak sekali”

Koala : “ wah iya, sepertinya enak “

Kura-kura : “ oh ini, ini sangat manis dan lezat. Kalian mau?”

Kucing : “ wah boleh, aku juga penasaran rasanya hehehe”

Mereka bertiga memakan kudapan manis tersebut dengan hatinya yang gembira.

Kura-kura : “ aduh aduh”

Koala : “ ada apa kura-kura?”

Kura-kura : “ gigi ku sakit sekali hiks”

Kucing : “ kau pasti terlalu banyak makan makanan manis”

Kura-kura : “ masa sih? Aku hanya makan sedikit”

Koala : “ sedikit mu setengah kantong platik besar ini? “

Kura-kura : “ heheheh”

Kucing : “ kau harus segera ke dokter, kalau tidak gigi akan rusak”

Koala : “ iya benar, nanti seperti kakak ku yang giginya berlubang”

Kura- kura : “ aku takut”

Koala : “ tidak apa-apa, dokter tidak semenakutkan itu “

Kura-kura : “ baiklah “

Sebenarnya kura-kura sangat takut untuk ke dokter, dia terus terbayang betapa sakitnya disuntik. Sesampainya di rumah kura-kura terus memeganggi pipi kanannya.

Kura-kura : “ aduh, sakit sekali. Sepertinya pipi ku bengkak”

Ibu kura-kura : “ kenapa nak? Gigi mu sakit ya”

Kura-kura : “ iya bu hiks hiks”

Ibu kura-kura : “ kan ibu sudah bilang jangan terlalu banyak, sekarang kau merasakannya kan. Besok kita kedokter agar gigi mu tidak semakin sakit ”

Kura-kura : “ tidak, aku tidak mau. Dokter sangatlah menakutkan ibu”

Ibu kura-kura : “ tidak anakku, jika kamu membiarkan gigimu seperti itu kau akan merasakan sakit yang lebih parah’

Kura-kura : “ tapi bu...”

Ibu kura-kura : “ sudah sana mandi dulu dan bersiaplah untuk makan malam besok kita akan tetap pergi”

Kura-kura : “ baiklah ibu”

Kura-kura : “ bagaimana ini  aku takut sekali, aku harus segera bersembunyi agar ibu tidak jadi mengajakku ke dokter “

Kura-kura memutuskan untuk pergi dari rumahnya melalui jendela kamar. Dia dengan hati-hati melompati jendela agar ibunya tidak mendengar suaranya.

Kura-kura : “ aku harus segera pergi, ibu pasti akan segera datang ke kamarku”

Kura -kura pergi ke taman untuk bersembunyi dari ibunya. Dia bersembunyi di terowongan bawah perosotan.

Kura-kura : “  aduh sakit banget gigi ku”

Kelinci : “ bwaa”

Kura-kura : “ aaaaaaaaa”

Kelinci : “ hahahahha wajahmu sangat lucu”

Kura-kura :” apa sih kamu ini bikin aku jantungan aja”

Kelinci : “ hahaha sampai air mata ku keluar saat melihat wajahmu “

Kura-kura : “ sedang apa kamu disini”

Kelinci : “ seharusnya aku yang tanya itu ke kamu kura-kura. Sedang apa kamu bersembunyi disini, ayo bermain bersama yang lain”

Kura- kura : “ tidak ahh, nanti ketahuam ibu ku , aduh aduh “

Kelinci : “ kenapa kura-kura “

Kura-kura : “ gigi ku sakit sekali, aku sampai susah tidur “

Kelinci : “ haa, pasti kamu terlalu banyak makan kudapan itu ya. Wah wah harus dibawa ke dokter itu”

Kura-kura : “ tidak, aku tidak mau”

Kelinci : “ jangan takut kura-kura. Dokter tidak menyeramkan kok”

Kura-kura : “ t-tidak siapa yang takut”

Kelinci : “ yang benar? Ya sudah ayo aku temani kedokter”

Kura-kura : “ t-tapi”

Kelinci : “ tidak apa-apa. Kamu lebih baik sakit sebentar atau sakit selamanya?”

Kura-kura : “ tentu saja aku ingin segera sembuh. Dan gigi seperti ini aku susah untuk makan. Padahal ibu ku memasak makanan kesukaan ku. “

Kelinci : “ iya kan, kalau kamu seperti ini terus siapa yang susah ? kamu sendiri kan. Ayo kita pulang dan pergi ke dokter ibu mu pasti mengkhawatirkanmu.”

 

Sesampainya di rumah, kelinci dan kura-kura bergegas keuang tamu untuk menemui ibu kura-kura.

Ibu kura-kura : “ nak kamu dari mana saja ibu mencarimu dari tadi”

Kura- kura : “ maaf ibu, aku tadi ke taman”

Ibu kura-kura : “ ya sudah ayo kita ke dokter gigi sekarang”

Kelinci : “ bibi aku boleh ikut kan”

Ibu kura-kura : “ tentu saja sayang, ayo kita bergegas”

 

Sesampainya di klinik dokter gigi, ibu kura-kura mendaftarkan kura-kura untuk diperiksa giginya.

Suster : “ kura-kura, sihlakan masuk”

Kelinci : “ kamu pasti bisa kawan”

Kura-kura : “ huff aku pasti bisa “

Dokter : “ baiklah ayo duduk disini biar saya periksa dulu ya”

Kura-kura : “ mm i-ya dok”

Dokter : “ tidak perlu tegang seperti itu, tidak apa-apa kok. Ayo buka mulutnya”

              “ wah kamu terlalu banyak makan makanan manis ya, gigi mu sampai berlubang”

             “ baiklah dokter tambal dulu ya “

Beberapa saat kemudian.

Kelinci : “ bagaimana kura-kura?”

Kura-kura : “ aakku sushusa bichara”

Kelinci : “ hah?”

Dokter : “ bu, anak ibu giginya berlubang dan kami sudah menambalnya tolong diperhatikan lagi jenis makanannya ya bu, dan jangan lupa sikat giginya 2x sehari”

Ibu kura-kura : “ baik dok, terimakasih atas bantuannya”

Dokter : “ sama-sama bu”

Ibu kura-kura : “ nak dengar kan kata dokter, kamu tidak boleh terlalu banyak makan makanan manis”

Kura-kura : “ baik bu, aku menyesal tidak mendengar perkataan ibu “

Ibu kura-kura : “ kamu boleh memkannya tapi tidak boleh berlebihan, karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik nak”

Kura-kura : “ baik bu hiks”

 

 

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget