Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Anak Merapi

 sahabatanak.org

Oleh Umie Wahidatun Thohiriyah

Nama lengkapku Haris Ramadhan. Umurku 11 tahun dan saat ini duduk di bangku kelas 5 SD. Orang tuaku bekerja sebagai petani. Mereka bekerja di sawah setiap hari. Meskipun orang tuaku seorang petani, aku bangga kepada mereka. Sepulang sekolah, aku selalu membantu pekerjaan mereka di sawah.

Aku tinggal Bersama keluargaku di sebuah desa yang memiliki berbagai macam keindahan alam. Aku sering mengagumi keindahan alam tersebut. Saat kecil aku belum tahu nama berbagai macam keindahan alam yang ada di desaku.

“Ayah… itu apa?” tanyaku penasaran sambal menunjuk sebuah gundukan besar menjulang tinggi. Gundukan itu terbentang luas di hadapanku.

“Oh…itu Namanya Gunung Merapi, Haris…” jawab ayah.

Aku yang masih penasaran dengan jawaban ayah yang singkat itu. Aku pun kembali bertanya.

“Mengapa disebut Gunung Merapi dan mengapa ada di daerah kita, ayah?” tanyaku lagi penuh semangat.

“Gundukan itu disebut Gunung Merapi karena gunung itu masih aktif dan dapat mengeluarkan lahar kapan pun. Gundukan itu memang sudah ada sebelum ayah lahir. Ayah juga tidak tahu pasti mengapa gunung itu ada di daerah kita. Ayah hanya tahu kalua gunung itu banyak memberikan manfaat bagi manusia.

Buktinya, ayah dapat mengolah tanah di sini menghasilkan dan mampu mencukupi kebutuhan kita sehari-hari,” jelas ayah panjang lebar. Meskipun demikian, aku masih belum puas dengan jawaban ayah.

Aku menilai bahwa jawaban ayah hanya sekedarnya saja. Ayah mungkin masih Lelah pulang dari sawah. Jadi, jawabannya belum membuatku puas.

Sejak pembicaraan sore itu, aku tidak lagi mempermasalahkan kenapa dan mengapa di daerahku terdapat gundukan tanah yang menjulang tinggi itu. Aku juga tetep tidak tahu dengan jelas alas an ayah menyebut gundukan itu dengan nama Gunung Merapi.

Bagiku sudah cukup Bahagia dapat berada di tengah-tengah keluarga yang menyayangi. Untuk hal-hal lainnya biar orang dewasa yang mengurus. Aku tinggal bersama kedua orang tua dan kedua saudaraku yang bernama Kak Hamzah dan Kak Hani, aku anak bungsu.

Sampai sekarang pun aku tak memikirkan alasan kedua orang tuaku tinggal di desa terpencil seperti ini. Hal tersebut tidak menjadi masalah besar bagiku. Menurutku tinggal di desa sangatlah menyenangkan lingkungan desa sangat nyaman dan damai.

Sampai sekarang, aku hanya bisa melihat sesuatu yang disebut kereta dan sesuatu yang disebut gedung bertingkat hanya melalui tayangan televisi saja. Aku belum pernah ke kota, jadi belum pernah melihat secara langsung benda-benda tersebut. Minimal aku sudah memiliki gambaran tentang apa yang sering ibu dan bapak guru ceritakan tentang keberadaan kota dan kehidupan di kota. Aku ingin sekali melihat kehidupan kota seperti yang diceritakan oleh teman dan guruku. Namun, bagiku hal yang terpenting sekarang hanyalah menjadi anak yang bisa diandalkan kedua orang tuaku.

Kedua kakakku yang sudah merantau keluar daerah membuat posisiku seperti anak tunggal di rumah. Aku selalu tersenyum lebar saat aku sedang membantu kedua orang tuaku menggarap sawah. Aku tidak pernah mengeluh sedikit pun. Tak ada beban meskipun aku tidak bisa bermain leluasa seperti anak sebayaku.

Terkadang masih sangat lekat dalam ingatanku akan keceriaan yang tercipta saat kedua kakakku masih tinggal bersama. Aku masih bisa bermanja-manja ria. Terkadang keceriaan itu masih terbawa dalam mimpi saat aku tertidur lelap.

“Haris...Haris...sayang kemari Kak Hani bawakan sesuatu untukmu”

Begitulah Kak Hani sering memanggilku. Saat ia pulang ke rumah, pastilah ia membawakan aku sesuatu yang bisa membuat hatiku senang. Seketika itu, aku langsung berhamburan lari menghampiri Kak Hani. Dengan sedikit manja Kak Hani membelai halus rambutku lalu bercerita apa saja yang bisa membuatku senang untuk kesekian kalinya.

Kakakku yang paling besar bernama Kak Hamzah. Meskipun ia jarang bercanda denganku, namun aku tahu rasa sayangnya begitu besar kepadaku. Kak Hamzah jaujh beda dengan Kak Hani hanya saja Kak Hamzah orangnya lebih tegas, mirip sekali dengan Ayah. Dulu sering kali aku digendongnya sepulang sekolah melewati pematangan sawah yang terhampar hijau membentang. Sesekali ia bercerita. Ia pernah bercerita tentang keinginannya untuk merantau ke kota mencari uang agar bisa membelikan aku mainan. Ia juga ingin ayah tak lagi bekerja keras membanting tulang untuk keluarga.

“Kak Hamzah mau ke mana?” tangisku saat itu.

“Kakak tidak mau kemana-mana, tidak usah menangis jaga ayah dan ibu baik-baik ya...” jawabnya sambil mengelus lembut rambutku

“Terus kenapa kakak membawa tas ransel begitu besar, seperti orang mau pergi jauh?” tanyaku lagi seraya memghapus air mata yang sesekali masih menetes.

“Iya, Kak Hamzah memang mau pergi jauh tapi nanti juga kembali kok! Haris jaga ayah ibu ya. Jangan sering menyusahkan mereka,” sambil mengedipkan satu mata ke arahku.

Percakapan itulah yang aku ingat saat Kak Hamzah akan pergi merantau. Kak Hamzah sudah bekerja merantau ke luar daerah dan tinggallah aku ayah dan ibu yang berkumpul di halaman yang tak begitu luas namun tetap menjadi tempat menyenangkan kami untuk berbincang ringan bahkan bercanda bersama.

Aku bertempat tinggal di Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang yang terletak di lereng Gunung Merapi. Kondisi deaku sangat berpotensi rawan bencana.

Seperti daerah pegunungan lainnya, desa tempat tinggalku bergelombang dan berbukit-bukit. Oleh karena itu, tak heran jika kedua orang tuaku berprofesi sebagai petani yang mengolah tanah di sekitar gunung.

Suatu sore, Pak Lurah datang ke rumahku. Pria separuh baya itu mencari ayah. “Sore, Haris... Ayahmu ada di rumah?” tanyanya ramah kepadaku.

“Oh....Ayah masih di sawah, Pak,”jawabku.

“Memang ada keperluan apa, Pak?” lanjutku.

“Kalau sangat mendesak saya panggilkan ibu saja ya...”kataku.

Pak Lurah pasti memiliki urusan yang sangat penting dengan ayah. Beliau tidak biasanya mencari ayah seperti ini.

“Wah...memang anak Pak Hadi yang satu ini sangat cakap ya!”ujar laki-laki itu sambil tertawa terbahak-bahak.

“Bapak ini bagaimana...?” dengan nada heran kataku dan mulai berpikir kalau laki-laki yang sering disebut Pak Lurah itu ternyata bisa tertawa begitu kerasnya.

“Begini Nak...besok katakan kepada ayahmu kalau ada pertemuan di balai desa untuk membicarakan sesuatu.”

“Sesuatu apa itu Pak? Apa Hris boleh tahu?”

“Oh...sesuatu itu tidak terlalu penting.”

“Tapi kenapa Bapak sendiri yang menyampaikan undangan itu? Tidak menyuuh Pak Agus saja seperti biasanya?”tukasku lagi.

“Iya...Nak...memang biasanya Pak Agus yang mengantarkan undangannya tapi hanya saja memang tadi kebetulan Bapak lewat depan rumahmu. Jadi, undangan untuk ayahmu sekalian saja Bapak sampaikan sendiri.”

“O...begitu ya...nanti saya sampaikan pesan Bapak.”

Laki-laki separuh baya tersebut kemudian berpamitan dan mengucapkan salam. Aku masih berdiri dengan segudang pertanyaan yang ada di kepalaku. Tiba-tiba kecemasan muncul dihatiku. Sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi, tapi apa? Aku tidak tahu.

Lembayung merah mulai tampak dari ufuk barat pertanda aku harus segera masuk ke rumah dan menyambut ayah pulang dai sawah. Sesaat kemudian ayah nampak berjalan dari arah timur dan setibanya ayah di rumah aku langsung menghampiri dan menyampaikan undangan dari Pak Lurah tadi.

“Yah...tadi Pak Lurah ke sinj. Beliau menyampaikan undangan untuk pertemuan besok di balai desa.”

“Ya....hanya itu pesan beliau agar ayah menghadiri pertemuan besok.”

“Baiklah besok Ayah ke sana. O...iya Haris, tolong ambilkan teh yang sudah disiapkan Ibumu ke sini. Ayah haus.”

“Iya, Yah.”

Keesokan harinya penduduk sudah berkumpul di balai desa. Mereka sengaja diundang oleh Pak Lurah karena ada sesuatu yang ingin dibahas bersama-sama. Rencananya akan diadakan upacara sesaji untuk keselamatan warga desa ini. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin pada tahun-tahun sebelumnya.

Apalagi untuk tahun ini, sepertinya upacara tersebut harus diadakan lebih awal. Hal ini dikarenakan adanya pertanda yang kurang baik dari gaunung yang berdekatan dengan desa tempat kami tinggal tersebut. Adakalanya terasa seperti gempa namun sesekali saja.

Tahun 2011 mungkin membawa semangat baru dalam kehidupan warga sekitar Gunung Merapi Jawa Tengah, terutama keluarga kami setelah terjadinya letusan Merapi ditahun 2010 tepatnya 26 Oktober 2010 mengakibatkan sekitarnya 353 orang tewas, termasuk Mbah Maridjan. Aku beranggapan bahwa Tuhan memberikan anugerah kepada kami semua.

Malam itu cuacanya di luar cukup dingin. Aku brsiap untuk tidur aku pun berdoa sebelum tidur.aku sandarkankepalaku di atas sebuah bantal. Mataku belum sepenuhnya terpejam. Ku coba mengingat-ingat berbagai kejadian yang pernah terjadi dalam keluargaku. Semua itu membuatku lebih mensyukuri arti sebuah kehidupan yang dulu tak pernah ku hiraukan sebelumnya.

Menurutku hidup ini tak dapat terlepas dari ujian. Kedatangnganya tak dapat diduga sebelumnya. Semua menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Tuhan yang tiada bandinganya di alam semesta ini.

Tuhan Maha Kuasa, hanya kepada-Nya kita kembali. Bencana yang datang selalu membawa tiga kemungkinan. Pertama, muncul pesan didalamnya. Kedua, musibah datang sebagai cobaan. Ketiga, musibah datang sebagai pembawa peringatan atau hukuman.

Musibah yang dialami oleh keluargaku juga dialami oleh banyak orang yang bermukim di sekitar lereng Gunung Merapi. Gunung Merapi yang terletak pada perbatasan 4 daerah di Jawa Tengah yaitu Semarang (utara), Kedu (Barat), Yogyakarta (Selatan) dan Surakarta (Timur), mempunyai ketinggian (±) 2968 m DPAL (Dari Permukaan Air Laut). Gunung tersebut merupakan salah satu dari 129 gunung aapi yang masih aktif di Indonesia.  

 

-Penulis adalah seorang mahasiswa dari Universitas Ngudi Waluyo Ungaran, dengan Program Studi

Pendidikan Guru Dekolah Dasar, Fakultas Ilmu Komputer dan Pendidikan. Saat ini sedang menempuh semester 1.

Label:

Posting Komentar

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget