Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Juni 2021


Jakarta, Harianguru.com
– Di penghujung bulan Juni ini yaitu Rabu (30/6/2021), berlangsung Seri ke-2 ToT Fasnas Pendidik Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusif secara virtual melalui Zoom Meeting yang diikuti puluhan peserta se Indonesia. 

Kegiatan Training of Trainer (ToT) Fasilitator Nasional (Fasnas) Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusif berbasis Gender, Disabilitas dan Inklusi Sosial (GEDSI) yang dibuka sejak 16 Juni 2021 ini digelar Kementerian Agama RI melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis). Kegiatan ini digelar secara daring, bekerjasama dengan INOVASI dan Froum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI).

Pada kesempatan ini, hadir Kepala Pusat Riset Gender (PRG) Sekolah Stratejik dan Global Universitas Indonesia Dr. Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah, S.Th.I, M.Si., sebagai narasumber yang dimoderatori Mahruf.

Dalam materi bertajuk Penguatan Perspektif Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) di Bidang Pendidikan. ”Gender itu hal-hal yang dikaitkan dengan jenis kelamin, berbeda dengan jenis kelamin,” beber Dr Iklilah.

Menurut perempuan yang lahir di Jember, 1 Januari 1977 ini menjadi perempuan dan menjadi laki laki adalah produk konstruksi gender. Hal itu dalam materinya, dikarenakan ada perlakuan, pengetahuan dan pengalaman laki laki dan perempuan berbeda. Kemudian hal yang dianggap penting bagi laki laki dan prmp berbeda, dan kebutuhan, orientasi, kepentingan laki laki dan perempuan pun menjadi berbeda.

”Pada akhirnya, laki-laki dan perempuan memiliki peran, kebutuhan yang berbeda,” beber Pengajar di Program Studi Kajian Gender SKSG Universitas Indonesia (Program Pascasarjana).

"Tidak bisa kita melihat laki-laki itu satu identitas, perempuan satu identitas. Contoh, saya Iklilah, saya Jawa, rambut sedikit keriting, tapi saya dalam konteks ini menjadi dosen, trainer, nah identitas ini menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” ujar Dewan Ahli Forum Koordinasi Nasional BLK Komunitas (FKN-BLKK) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi tersebut.

Maka dari itu, dalam konteks pendidikan perlu pengarusutamaan Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial di Madrasah. Dijelaskan pula, dasar pengarusutamaan GEDSI di pendidikan sudah jelas. Pertama, UU No.7 1984 tentang CEDAW (Convention on The Elimination of All Forms of Discrimination Against Women). Kedua, Peraturan Menteri Agama No. 11 Tahun 2006 :Penetapan Unit Pelaksana , Tugas dan Fungsi Pengarusutamaan Gender Di lingkungan Departemen Agama. Keempat, Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang PUG dalam Pembangunan Nasional.

Ketiga, Peraturan Kemendikbud Ristek No. 84 tahun 2008: pedoman pelaksanaan pengarusutamaan gender dalam pendidikan, menerapkan pedoman tersebut untuk pendidikan. Keempat, Strategi Pengarusutamaan Pembanngunan Nasional RPJMN 2020 2024 (PUG).

Kelima, Peraturan Kemdikbud Ristek No. 22 tahun 2016 dan No. 37 tahun 2018 : guru harus menghargai perbedaan siswa dan dapat menggunakan bahasa daerah untuk menyampaikan bahan ajar sebagai bagian dari inklusi sosial. Keenam, PeraturanMenteri Pendidikan Nasional Nomor 84 Tahun 2008 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan.

Urgensi GEDSI di bidang pendidikan menurutnya ada beberapa hal yang melatarbelakanginya. Pertama, kesenjangan gender dan pembedaan sosial masih terefleksi pada sistem pendidikan yang ada. Kedua, adanya formal equality belum memberi kepastian kepada praktik pendidikan yang berkeadilan bagi kelompok marginal. Ketiga, model, sistem , struktur, dan budaya pendidikan masih dijumpai diwarnai pola segregasi yang seksis.

Keempat, sangat sedikit dijumpai sistem pendidikan yang menerapkan kesetaraan substantif. Kelima, praktik dalam dunia pendidikan masih dijumpai adanya diskriminasi pada kelompok rentan. Keenam, praktik pendidikan masih dijumpai melanggengkan nilai-nilai pembakuan peran gender yang subordinatif.

Di akhir materinya, pihaknya menegaskan bahwa madrasah adalah rumah kedua. ”Masa depan bangsa bergantung pada nilai dan karakter yang ssalah satu pilar utamanya dibangun melalui bangku madrasah yang inklusif,” tegasnya.

Narasumber kedua, Gender Officer, INOVASI, Repelita Tambunan dalam materinya bertajuk Strategi Implementasi GEDSI dalam Pendidikan di Madrasah menyampaikan bahwa dimensi GEDSI yang mempengaruhi inklusi siswa dalam pendidikan meliputi kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial.

Pihaknya menegaskan bahwa INOVASI fase II memperkuat GEDSI memiliki sejumlah latar belakang. Pertama, mendukung Pemerintah Indonesia dalam memenuhi komitmen internasionalnya terhadap kesetaraan gender  (Education for All/Pendidikan untuk Semua, Sustainable Development Goals (SDGs 4)/Tujuan Pembangunan Berkelanjutan). Kedua, mendukung Kemdikbudristek dan Kemenag untuk menerjemahkan kebijakan GEDSI nasional ke dalam praktik untuk mencapai tujuan EFA & SDG 4.

Master of Science in Gender and Development Studiesfrom the  School  of  Environment  Resources  and  Development, Asian  Institute  of  Technology  (AIT),Bangkok,  Thailand ini juga memaparkan bahwa sekolah yang responsif GEDSI memiliki beberapa ciri.

Pertama, siswa perempuan dan laki-laki memiliki akses yang sama ke pendidikan. Kelima, semua anak perempuan dan laki-laki menerima perlakuan yang sama, dan kurikulum yang sama meskipun materi pembelajaran dapat diajarkan secara berbeda. Ketiga, siswa laki-laki dan perempuan mampu bekerjasama tanpa ada subordinasi dan marjinalisasi jenis kelamin tertentu.

Keempat, suru memberikan contoh-contoh keberhasilan, prestasi yang sama antara Siswa perempuan dan laki-laki. Kelima, menghindari kekerasan fisik dan non fisik kekerasan sexual terhadap siswa laki dan perempuan.

Sedangkan dari aspek sarana dan prasarana, sekolah yang responsif GEDSI dalam hal penyediaan toilet, maka jumlah toilet  proporsional  bagi pengguna peserta  didik  perempuan  dan  laki-laki, dan toilet/sanitasi terpisah bagi peserta didik   perempuan  dan laki-laki dan layanan dan pendidikan manajemen Higiene Menstruasi.

Sedangkan ruangan khusus layanan, yaitu ruang konsultasi yang nyaman; ruang ganti terpisah bagi peserta didik perempuan dan laki-laki; ruang ibadah kekusyukan untuk peserta didik perempuan dan laki-laki.

Menurutnya, langkah-langkah penerapan GEDSI pada aspek penguatan kelembagaan  dimulai dari strategi penguatan kelembagaan, pendampingan dan (advokasi) dan fasilitasi, pemetaan potensi dan Kelompok Kerja (Pokja) GEDSI, sekolah dan madrasah yang berorientasi GEDSI, pengembangan materi dan media Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) GEDSI, pengembangan jaringan/sistem informasi, menjalin komunikasi  dengan  lembaga  pemerintah    atau  institusi  lain , dan evaluasi keberhasilan  penerapan GEDSI.

”Ada tiga kunci dalam GEDSI. Pertama, kesetaraan dalam kesempatan. Kedua, akses. Ketiga, benefitnya,” demikian yang disampaikan saat menjawab pertanyaan peserta saat sesi diskusi. Usai penyampaian materi, dan diskusi bersama, kegiatan dilanjutkan dengan breakout session room 1. (hg59/Ibda).


Semarang, Harianguru.com - Melalui platform Zoom Meeting, dosen Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung Hamidulloh Ibda didapuk HMJ PGMI FITK UIN Walisongo Semarang sebagai narasumber pelatihan kepenulisan karya ilmiah, Sabtu (26/6/2021). Hadir melalui aplikasi dalam jaringan sekitar 100 peserta mahasiswa PGMI FITK UIN Walisongo.


Ketua Panitia Kegiatan Ulya Abqory Aniqoh yang diwakilkan Firman Sam Aliffian mengatakan kegiatan itu dapat menambah ilmu. "Melalui kegiatan penulisan kali ini kita dapat menambah ilmu penulisan. Saya harap peserta mengikuti acara dengan khidmah dan seksama, acara meski belum berguna, namun suatu saat akan berguna," katanya.


Ketua HMJ PGMI FITK UIN Walisongo Roy Firmansyah mengatakan

mengucapkan banyak terima kasih kepada semua partisipan yang telah bergabung dalam pelatihan kepenulisan ini.


Dalam penyampaian materi, Hamidulloh Ibda mengucapkan terima kasih kepada Rektor UIN Walisongo Semarang

Prof. Dr. Iman Taufiq, Dekan FITK UIN Walisongo Semarang Dr. Hj. Lift Anis Ma'shumah, M.Ag., Kajur PGMI FITK UIN Walisongo Hj. Zulaikha, M.Ag., M.Pd dan Sekjur FITK UIN Walisongo Semarang

Kristi Liani Purwanti, S.Si, M.Pd dan HMJ PGMI FITK UIN Walisongo yang sudah menggelar kegiatan tersebut.


Ibda juga menjelaskan materi dari pengertian artikel/esai populer, ciri-cirinya, strategi mendapatkan ide, mengenal karakter media massa, strategi dimuat di media massa, sampai pada teknik mengirim artikel ke media massa.


"Artikel atau esai populer itu adalah karya tulis yang membahas isu/tema tertentu dengan isi pendapat pribadi, pikiran, gagasan, teori, data yang dimuat di media massa," beber Ibda juga PJs Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan INISNU Temanggung tersebut.


Ibda menegaskan ada beberapa alasan mahasiswa harus menulis. Pertama, tidak ada orang besar tanpa tulisan. Kedua, wahana aktualisasi-inspirasi (kritik, curhat, berontak). Ketiga, investasi ide atau menjaga tradisi ilmiah.


Keempat, materi-imateri, kum (PAK), nama, grade akreditasi 9 kriteria pad aspek luaran. Kelima, menghidupkan budaya penelitian dan PkM. Keenam, syarat beasiswa. Ketujuh, mengabadi, dicatat dalam sejarah/ rekam jejak digital.


Ibda yang juga alumni PGMI FITK IAIN Walisongo mengajak kepada mahasiswa PGMI jangan mau kalah dengan mahasiswa prodi atau fakultas lain. "Mahasiswa PGMI memiliki potensi dan kemampuan sama dengan mahasiswa lain. Maka keunggulan itu salah satunya dengan menekuni dunia literasi," ujar Dewan Pengawas LPPL Temanggung TV tersebut.


Usai penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan tanya jawab dan penutupan yang dimoderatori Alvina Diah Ayu Failani. (Hg88).

Direktur GTK Pendis Kemenag

Jakarta, Harianguru.com  - Kegiatan ToT Fasnas Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusif berbasis Gender, Disabilitas dan Inklusi Sosial (GEDSI) oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam bekerjasama dengan INOVASI dan Froum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI) resmi dimulai pada Rabu (16/6/2021) melalui Zoom Meeting.


Dalam kesempatan itu, hadir Tenaga Ahli Kedeputian V Kantor Staf Presiden (KSP), Sunarman Sukamto, Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Prof. Dr. H. Moh. Isom M.Ag., Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, Dr. Muhammad Zain, M.Ag., Kasubdit Bina Guru dan Tenaga Kependidikan Raudlatul Athfal Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd., Direktur Program INOVASI Mark Heward, Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Daniel Woods, Ketua Forum Pendidik Madrasah Inklusi (FPMI) Supriyono, M.Pd., panitia dan peserta.


Dalam laporannya, Kasubdit Bina Guru dan Tenaga Kependidikan Raudlatul Athfal Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd. mengatakan bahwa pemerintah harus hadir dalam pendidikan dengan memberi kesempatan kepada semua kalangan untuk mendapatkan layanan pendidikan. “Terima kasih semua pihak yang memfasilitasi ToT Fasnas ini, karena ToT menjadi cara yang efektif dan efisien, sehingga para peserta ke depan dapat mendesiminasikan materi di lapangan,” katanya.


Pihaknya melaporkan bahwa kegiatan ini diikuti 50 orang dari berbagai provinsi, didampingi dari 13 FPMI yang sudah dibentuk tahun 2020 yang diharapkan dapat mendampingi para peserta. Sementara narasumber didapuk dari Kemenag, Kemdikbud, dan akademisi perguruan tinggi, praktisi dan pemerhati pendidikan.


Direktur Program INOVASI Mark Heward dalam sambutannya, menjelaskan bahwa kegiatan yang digelar Kemang dan FPMI sangat bermanfaat. “FPMI bersama Kemenag menyelenggarakan ToT Fasnas ini, kami berharap dari ToT ini madrasah dapat menyelenggarakan pendidikan inklusif dengan baik. Kita harapkan, selesai kegiatan ini dari 50 orang dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan dan pendamping dari FPMI untuk mengawalnya,” katanya.



Dilanjutkannya, INOVASI sangat senang, dan saya sebagai direktur sangat senang diberikan kesampatan untuk mendukung Kemenag dalam pendidikan inklusif. “Kegiatan ini tentu mendukung Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM) Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas untuk membangun ekonomi dan kesejahteraan di Indonesia,” tegasnya.


Pihaknya juga menegaskan bahwa perempuan dan laki-laki sama-sama berhak mendapatkan pendidikan. “Kalau tidak, sebagian penduduk di dunia tidak dapat mengakses pendidikan. Perempuan dapat menjadi dokter, insinyur, dan mengisi di beberapa posisi penting sama seperti laki-laki,” kata dia.


Ke depan, lanjutnya, kami berharap kegiatan melalui Kemenag ini menjadi pioner, melalui series kegiatan ini semoga dapat menginspirasi yang lain. “Dan saya berdoa semoga kegiatan ini sukses dari awal sampai akhir,” harap dia.



Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Daniel Woods menegaskan dalam sambutannya, bahwa setiap orang memahami nilai dan pentingnya GEDSI, serta bagaimana kebijakan pemerintah di semua tingkatan dapat menerapkannya. “Dengan demikian berbagai masalah yang berkaitan dengan GEDSI akan dapat dipertimbangkan dan ditangani di madrasah,” kata dia.



Dijelaskannya, peran Kementerian Agama sangat penting, terutama melalui madrasah, serta jaringan organisasi keagamaan terkemuka.Kami juga senang mendengar kerjasama dengan Forum Pendidik Madrasah Inklusif atau FPMI, yang memastikan para para pendidik memahami  berbagai masalah yang berkaitan dengan GEDSI dan dapat mengatasinya di kelas mereka.


“Pemerintah Australia bangga dapat bermitra dengan Kementerian Agama untuk mendukung peningkatan hasil belajar bagi semua siswa di madrasah. Kami percaya pada kekuatan kemitraan.  Bermitra dengan mitra pembangunan, masyarakat sipil, semua bagian dari sistem sekolah,  berbagai bagian dan tingkatan pemerintah di Indonesia, adalah kunci untuk memastikan bahwa pendidikan di Indonesia inklusif,” lanjut dia.



Kemitraan ini, menurut dia, bahkan lebih penting dalam mengatasi tantangan pandemi COVID-19, yang telah membuat pengajaran yang efektif lebih sulit. Kita perlu memastikan bahwa semua peserta didik mendapat akses yang setara terhadap pengajaran dan pembelajran yang efektif. “Meskipun kami telah melihat beberapa kemajuan besar dalam barbagai upaya yang didukung oleh Pemerintah Australia, masih banyak yang perlu dilakukan untuk mencapai lingkungan pendidikan inklusif di Indonesia,” papar dia.



Di sini, lanjut dia, penutupan sekolah dapat berdampak lebih besar pada siswa penyandang disabilitas. Kami mengetahui dari studi yang dilakukan oleh Jaringan DPO pada tahun 2020, bahwa hampir 70% responden, yang semuanya adalah siswa penyandang disabilitas, merasa belajar online sulit karena lingkungan rumah mereka tidak mendukung pembelajaran.



“Selain itu, mereka tidak dapat mengakses koneksi internet dan aplikasi pembelajaran yang dapat diandalkan, dan mereka tidak memiliki peralatan dan dukungan yang sesuai untuk guru dan staf pendukung. Pandemi dan penutupan sekolah juga memiliki implikasi berbasis gender bagi peserta didik di Indonesia. Misalnya, bukti anekdot dan laporan program INOVASI menunjukkan bahwa pernikahan dini meningkat selama pandemi Covid-19,” imbuh dia.



Hal tersebut, menurut dia, mungkin akan menghadirkan tantangan yang signifikan bagi Pemerintah Indonesia dalam mencapai targetnya untuk mengurangi angka dan dampak dari pernikahan anak. “Penutupan sekolah dan konsekuensi ekonomi dari pandemi dapat menempatkan anak perempuan pada risiko pernikahan paksa yang lebih tinggi. Hal tersebut dapat, berdampak pada kemampuan mereka untuk terlibat dalam pembelajaran jarak jauh atau masuk kembali ke sekolah,” kata dia.


Dilanjutkan dia, setiap pihak memiliki peran penting. Kami bersemangat, melalui program INOVASI, untuk terus mendukung para guru, tenaga kependidikan dan FPMI untuk mempromosikan hak-hak semua anak perempuan dan laki-laki atas pendidikan inklusif yang berkualitas. “Melalui rangkaian lokakarya ini, saya berharap kita akan melihat lebih banyak pengembangan dan implementasi pendidikan inklusif di madrasah yang berkualitas. Semoga rangkaian workshop ini dapat menginspirasi dan bermanfaat bagi fasilitator dan anggota Tim Pendamping dari FPMI yang hadir. Saya berterima kasih kepada Anda semua atas komitmen dan dukungan Anda yang terus berlanjut,” tandasnya.



Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, Dr. Muhammad Zain, M.Ag dalam sambutannya menegaskan bahwa pelatihan ini sangat strategis untuk melahirkan fasilitator yang dapat meningkatikan kualitas pembelajaran pada anak-anak kita.


“Sesuai filosofi Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, anak-anak difabel adalah anak-anak kita sendiri, yang berhak mendapatkan pembelajaran efektif, mereka tidak boleh ditinggalkan,” lanjutnya.


Pihaknya juga sependapat dengan Direktur Program INOVASI bahwa di Indonesia dibutuhkan membutuhkan peningkatan mutu. “Perlu peningkatan literasi dan numerasi untuk peningkatan ekonomi dan SDM di negara kita,” katanya.


Pihaknya berharap, kegiatan tersebut melahirkan fasilitator berkualitas dengan tiga indikator. “Pertama pengetahuan yang cukup, kemudian skills dan integritas,” tandasnya.


Secara resmi, kegiatan ini dibuka Dr. Muhammad Zain pukul 09.07 WIB. Kegiatan usai pembukaan dilanjutkan dengan pemaparan oleh para narasumber sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan panitia. (Hg55/Ibda).


Temanggung, Harianguru.com - Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Temanggung resmi beralih bentuk menjadi Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung. Hal itu terungkap dalam kegiatan penyerahan Surat Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 324 Tahun 2021 tentang Perubahan Bentuk STAINU Menjadi INISNU Temanggung, Selasa (15/6/2021).


Penyerahan KMA tersebut digelar di Aula KBIHU Babussalam NU yang dihadiri Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama Direktorat PTKI Kemenag RI Muhammad Adib Abdushomad, M.Ag, M.Ed., Ph.D., Bupati Temanggung yang diwakili Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan, SDM, Pendidikan, dan Kebudayaan Tri Raharjo, 

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Temanggung Agus Sujarwo, Dinas PUPR Kabupaten Temanggung Hendra Sumaryana, M.T, Kepala Kankemenag Temanggung KH. Ahmad Muhdzir, M.Si.


Hadir pula Rois Syuriah PCNU Temanggung KH. Yakub Mubarok, Ketua Tanfidziyah PCNU Temanggung KH. Muhammad Furqon, Ketua BPP INISNU H. Nur Makhsun dan jajaran pengurusnya, Pjs. Rektor INISNU Sumarjoko, dan sivitas akademika, alumni serta tamu undangan.


Dalam kesempatan itu, Ketua BPP INISNU Temanggung menyampaikan bahwa target setelah menjadi INISNU adalah penataan internal dan ke depan akan menargetkan menjadi UNISNU.


"Kami menarget ke depan INISNU akan menjadi PTNU terbaik di Jawa Tengah. Minimal kalau tidak terbaik pertama ya masih pada tiga besar," harapnya.


Ketua Tanfidziyah PCNU Temanggung menyampaikan nilai-nilai akademik yang perlu dipegang teguh sesuai kultur NU adalah Mabadi Khaira Ummah. Mulai dari ash-shidqu (benar) tidak berdusta, al-wafa bil ‘ahd (menepati janji), at-ta’awun (tolong-menolong), 'adalah (keadilan) dan istiqamah (konsistensi, keteguhan).


"Kepengurusan PCNU di bawah komando saya baru dua tahun. Alhamdulillah salah satu amanat Konferensi Cabang PCNU yang menarget STAINU menjadi universitas sudah terlaksana setengah perjalanan yaitu dengan alih bentuk menjadi INISNU," bebernya.


Sementara Bupati Temanggung dalam sambutannya yang dibacakan Tri Raharjo ke depan alih bentuk ini tidak sekadar menjadi euforia. "Namun perlu peningkatan mutu, melalui peningkatan akreditasi, kualitas penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan publikasi ilmiah," beber dia.


Dalam pembinaan kelembagaan, Muhammad Adib Abdushomad, M.Ag, M.Ed., Ph.D., menegaskan bahwa ke depan perlu pengembangan dalam bidang pendidikan yang berciri khas NU. "Perlu perkaderan para dosen untuk mendapat beasiswa ke luar negeri. Tidak cukup hanya di lingkup Temanggung saja. Ini banyak potensi yang bisa dikembangkan karena Pemerintah Kabupaten Temanggung juga sudah mendukung," ujar dia.


Pihaknya menegaskan bahwa orang-orang yang menghidupkan lembaga pendidikan yang mengusung spirit Islam rahmatallillamin akan dijamin oleh Allah Swt. "Dulu, saya bisa mendapat beasiswa sampai ke Australia dan bisa lulus doktor hanya 3,5 tahun juga karena menghidupkan kultur NU di sana. Saya selain mengandalkan rasionalitas, di sela-sela menulis tugas akhir selalu saya barengi dengan membaca Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani sebagai bentuk wasilah kepada waliyullah," beber Adib yang pernah menjadi Katib Syuriah PCINU New Zeland Australia tersebut.


Pada kesempatan itu, KMA diserahkan oleh Muhammad Adib Abdushomad, M.Ag, M.Ed., Ph.D kepada Rois Syuriah PCNU Temanggung KH. Yakub Mubarok dan Ketua Tanfidziyah PCNU Temanggung KH. Muhammad Furqon.


Selain penyerahan KMA, PCNU Temanggung juga menetapkan Pejabat Sementara (PJs) Rektor INISNU Sumarjoko, PJs Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Hamidulloh Ibda, Wakil Rektor II Bidang Keuangan, Umum dan SDM Khamim Saifuddin dan PJs Wakil Rektor III Bidang Kerjasama, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Luluk Ifadah serta pejabat struktural lainnya. (Hg99).

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget