Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Agustus 2021


Jakarta, Harianguru.com - Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI menggelar Training of Trainer (ToT) Pendidikan Inklusif berbasis Gender, Disabilitas dan Inklusi Sosial (GEDSI) Seri 6 pada Rabu (25/8/2021) via Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui Youtube GTK Madrasah Channel. 


ToT diberikan kepada para Fasilitator Nasional (Fasnas) untuk meningkatkan kualitas Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusif berbasis GEDSI yang bekerjasama dengan INOVASI dan Froum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI) seri-6 ini mengkaji Program Pendidikan Khusus/Kompensatoris pada Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusif berbasis GEDSI.


Dalam sambutannya, Ketua FPMI Pusat Supriyono, M.Pd., menyampaikan bahwa perjuangan FPMI bersama Kemenag, INOVASI dan semua stakeholders dalam memajukan pendidikan inklusif memiliki dasar teologis yang jelas. "Sedikit mengingatkan, misi perjuangan dan iktikad kita untuk terus memberikan layanan pendidikan inklusif di madrasah kita, perlu kita mengingat bahwa Islam bahkan semua agama sangat mengutamakan kesetaraan di antara sesama, tidak ada perbedaan antarkelompok, gender, disabilitas, semua sama di hadapan Allah, di hadapan Tuhan, dan yang membedakan adalah ketakwaan kita di hadapan Allah," tegasnya.


Hal itu dijelaskan Lek Pri, menyadur Al-Quran Surat Annur ayat 61. Pihaknya berharap, perjuangan yang dilakukan melalui kegiatan itu menjadi perjuangan yang sukses dunia akhir, memberikan keberkahan bagi pelaksana, keluarga, dan juga masyarakat luas. Secara eksplisit, menurutnya, bahwa ayat ini menjelaskan kesetaraan sosial, baik bagi tidak halangan tuna netra, tuna daksa, orang sakit, berhak mendapat perlakuan sama.


Penafsiran dalam hal ini jelas, bahwa Islam mengecam sikap tindakan diskrimatif terhadap penyandang disabilitas, apalagi diskriminasi berdasarkan kesombongan dan jauh dari akhlakul karimah


Narasumber pertama, Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia Dr. Kristiantini Dewi, Sp.A., menyampaikan materi bertajuk Temu Kenali Dini Disleksia. Dalam penjelasannya, pihaknya menjelaskan beberapa hal yang sering ditemukan di PAUD. Seperti rewel sekali, selalu harus dituruti keinginannya, tapi komunikasi tidak lancar, sehingga anak tantrum. Kemudian juga sikap agresif, bermainnya ‘kasar’, banyak konflik fisik dengan teman, tidak bisa duduk tenang. Lalu sikap sangat kalem, dan super lambat dalam segala hal dan masih serba kesulitan dalam aspek keterampilan bina diri.

Atas fenomena itu, banyak tanggapan yang bermunculan seperti anggapan wajar, anggapan telat berbicara, anggapan pemakluman anak PAUD tak bisa diam, anggapan bagus kalau anaknya kalem, lambat-lambat sedikit tidak masalah, dan anggapan anak PAUD masih wajar diladeni karena nanti diyakini bisa mandiri.


Selain di PAUD, ia juga menjelaskan fenomena yang terjadi di jenjang SD/MI seperti banyak bengongnya, jika diberi instruksi, tidak bersegera, masih membutuhkan pengulangan berkali-kali saat menerima instruksi, serba pelupa, kesulitan membaca, namun paham jika artikel dibacakan, masih sulit menulis, masih sulit menumpukan perhatian, banyak bicara, jahil, dan provokator.


Pihaknya juga menjelaskanm perbedaan kesulitan belajar umum dan kesulitan belajar spesifik. Kesulitan belajar umum memiliki ciri potensi kecerdasan di bawah rata-rata, kesulitan terjadi pada semua aspek perkembangan, didapatkan pada berbagai kasus: autism, palsi serebral, disabilitas intelektual, sindrom down, dan vokasional/bantu diri

lebih utama.


Kesulitan belajar khusus, yaitu potensi kecerdasan di rentang rata-rata atau di atas rata-rata, kesulitan terjadi pada aspek perkembangan bahasa dan fungsi eksekutif, didapatkan pada kasus disleksia, diskalkulia, disgrafia, dan mampu belajar di sekolah regular/inklusi


Dalam kesempatan itu, pihaknya menegaskan definisi disleksia menurut Asosiasi Disleksia Indonesia (2019). Dijelaskannya, bahwa disleksia merupakan salah satu bentuk kesulitan belajar spesifik yaitu suatu kondisi yang ditandai dengan adanya kesulitan belajar yang terjadi pada individu dengan potensi kecerdasan yang sedikitnya normal atau berada pada taraf kecerdasan rata-rata, di mana kesulitan belajar yang terjadi meliputi kesulitan di area berbahasa, termasuk bahasa lisan (yang terutama ditandai dengan adanya gangguan kesadaran fonem), bahasa tulisan, dan bahasa sosial (kesulitan memaknai bahasa tubuh, sikap dan postur lawan bicara, serta kesulitan menampilkan bahasa tubuh, sikap, serta postur tubuh yang tepat dalam merespons suatu situasi sosial), disertai adanya gangguan di area fungsi eksekutif (executive function).


Disleksia juga seringkali disertai dengan bentuk kesulitan belajar spesifik lainnya yakni disgrafia dan diskalkulia. Selain itu disleksia juga seringkali disertai kondisi penyerta lain seperti Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (Attention Deficit Hyperactivity disorder) dan Gangguan Perencanaan Motorik (Dispraksia). 


Narasumber selanjutnya, Pegiat Hak Asasi Difabel Yayasan Dria Manunggal DIY Drs. Setia Adi Purwanta, M.Pd., menyampaikan materi Program Kompensatorik Anak dengan Gangguan Penglihatan. "Di dalam Al-Quran, kata pertama adalah iqra', bacalah. Carilah informasi. Kalau kamu sudah membaca, mencari informasi, kamu bisa mengorientasikan diri. Kalau sudah demikian, kita akan tahu ke mana kita akan bergerak," tegas dia.


Dijelaskan dia, bahwa perolehan informasi melalui indera, untuk penglihatan 83 %, pendengaran 11 %, peraba 4 %, pembau 1 %, dan pengecap 1 %. Menurutnya, dari informasi, akan mempertegas orientasi, dari orientasi akan mempertegas mobilitas, dan setelah itu pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian persoalan.


Di akhir materinya, ia menegaskan bahwa belajar merupakan mengelola potensi dan kondisi pesertadidik, potensi lingkungan fisik dan sosial, serta relasi potensi dan kondisi pesertadidik dengan potensi lingkungannya untuk mencapai kesejahteraan hidupnya. Peserta didik memiliki potensi adaptasi terhadap diri sendiri dan lingkungannya.



The Litle Hijabi Homeschooling for Deaf Galuh Sukmara pemateri selanjutnya, menjelaskan Program Kompensatorik bagi Anak Berkebutuhan Khusus Gangguan Pendengaran. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa perlu perubahan paradigma dari ekslusif menjadi inklusif. "Antonim atau lawan kata dari inklusif adalah ekslusif,” bebernya.


Ia menegaskan bahwa sudut pandang ekslusif merupakan cara pandang alamiah terhadap keberbedaan dan keanekaragaman. Semua menjalani satu kehidupan bersama. Semua saling melengkapi dan saling menggenapi pemahaman. Semua sedang belajar bersama-sama. Semua memiliki cara hidupnya masing-masing yang jika disinergikan akan membuat penghayatan akan kehidupan lebih sempurna


Dalam konteks pembelajaran, inklusifitas adalah cara pembelajaran bagi semuanya. Tidak ada pemisahan, semuanya diperkenankan bertemu sesuai dengan pemberian porsi masing-masing, pemberian porsi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan masing-masing, diperuntukkan bagi semuanya bukan bagi yang sempurna, ditempuh dengan jalan yang disesuaikan kemampuannya, tapi yang "diistimewakan" Tuhan dengan alatnya different abilities, di mana kemampuannya yang digunakan untuk belajar dan mengenali kehidupannya yang berbeda dengan orang lain


Narasumber berikutnya, Spectrum Treatmen and Education Centre Diah Kartia Esti menyampaikan materi Kendala Perilaku & Emosional pada Anak. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan siklus tumbuh kembang, tentang anak berkebutuhan khusus dan dilanjutkan analisis deteksi gangguan perilaku emosional. Dalam penjelaskannya, ada beberapa hal yang didapatkan dari analisis deteksi gangguan perilaku emosional, di antaranya No health without Mental health (sehat seutuhnya adalah yang diikuti dengan kesehatan mental).


Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan strategi membantu guru. Secara umum yaitu mengatur waktu yang dapat mereka periksa beberapa kali dalam sehari, kemudian mengelola waktu: memecah tugas panjang menjadi tugas pendek dan menetapkan waktu yang singkat, mengelola ruangan dan materi: meminimalkan kesulitan dengan mengatur proses dan cara bekerja, mengelola pekerjaan: daftar periksa untuk menyelesaikan tugas bertemu guru untuk meninjau pekerjaan, dan menggunakan warna untuk menyoroti informasi penting dalam buku serta menulis tanggal tugas harus diselesaikan di bagian atas tugas.

Dalam konteks ini, pendidik harus memiliki keterampilan dasar para guru dan keterampilan tambahan para guru serta keterampilan ekstra pada guru. Keterampilan ekstra guru dapat dilakukan dengan melibatkan orang tua, berhubungan dengan masyarakat untuk membangun kerjasama bagi  siswa yang lebih tua untuk magang dan mengajarkan siswa ketrampilan umum di luar kelas.


Dewan Pakar FPMI dan Akademisi Universitas Negeri Malang Dr. Ahsan Romadlon Junaidi sebagai narasumber terakhir menyapaikan materi bertajuk Pengembangan Diri Peserta Didik Hambatan Intelektual.


Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa setiap manusia diberi anugrah kecerdasan. “Setiap individu memiliki anugrah kecerdasan. Teori kecerdasan majemuk (Gardner) mengajarkan bahwa setiap individu kapasitas untuk memiliki sembilan kecerdasan. Kecerdasan-kecerdasan tersebut ada yang dapat sangat berkembang, cukup berkembang, dan kurang berkembang. Semua anak dapat mengembangkan setiap kecerdasan hingga tingkat penguasaan yang memadai apabila ia memperoleh cukup dukungan, pengayaan, dan pengajaran,” bebernya


Pihaknya menegaskan strategi layanan pendidikan bagi peserta didik hambatan intelektual. Hal itu dimulai dari bangun kesadaran kepada guru, orang tua dan warga sekolah bahwa setiap anak memiliki kecerdasannya masing-masing, tetapkan tujuan yang jelas bahwa pendidikan tidak hanya akademik, tetapi memfasilitasi semua potensi anak, lakukan pengamatan dengan cermat untuk menemukan kecerdasan setiap anak, berikan pilihan-pilihan kegiatan belajar sehingga anak bisa menghasilkan karya atau mengaktualkan kemampuan / kecerdasannya, berikan ruang untuk memberikan apresiasi terhadap karya atau aktualisasi kemampuan anak, libatkan orang tua secara proporsional dalam memfasilitasi potensi anak.


Usai penyampaian materi, kegiatan di tiap sesi dilanjutkan dengan diskusi antara narasumber dan peserta. Selain jajaran FPMI dan narasumber, hadir juga PTP Subdit Kurikulum dan Evaluasi KSKK Madrasah Kemenag RI Dr. Imam Bukhori, M.Pd., Dra. H. Siti Sakdiyah, Kasubdit Bina Guru RA Direktorat GTK Ditjen Pendis Kemenag RI,  Kasubdit Kesiswaan Direktorat KSKK Ditjen Pendis Kemenag RI Nanik Pujiastuti, perwakilan tim INOVASI, dan panitia. (Hg99/Ibda).


Temanggung, Harianguru.com - Dalam rangka menindaklanjuti program vaksinasi dari Kodim 0706/Temanggung yang telah disampaikan Komandan Kodim 0706/Temanggung Letkol Czi Kurniawan Hartanto S.E., M.Han., beberapa waktu lalu, Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung, AKPER Al-Kaustar bekerjasama dengan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Temanggung siap menggelar vaksinasi dengan kuota 300 orang. Hal itu terungkap dalam rapat persiapan vaksinasi pada Senin (16/8/2021). 


Hadir dalam kesempatan itu Ketua BPP INISNU Temanggung Nur Makhsun, Bendahara Ipnu Haryono, Sekretaris Mahsun, Pjs Wakil Rektor I INISNU Hamidulloh Ibda, Direktur AKPER Al-Kautsar Tri Suraning Wulandari dan jajaran serta Ketua LKNU dr. Anis Mustagfirin dan tim LKNU dr. Dana.


Dalam kesempatan itu, dijelaskan Ketua BPP INISNU Nur Makhsun bahwa kegiatan itu dalam rangka menyukseskan program pemerintah dalam memutus mata rantai covid-19. Vaksinasi juga digelar dalam rangka merayakan HUT RI ke-72 dengan nama Vaksin Merdeka.


"Kemarin sudah mendapat amanat dari Kodim 0706/Temanggung terkait program vaksinasi dengan vaksin Astrazeneca. Prioritas utama untuk mahasiswa, alumni dan masyarakat umum. Maka kita rapat awal ini untuk memetakan kebutuhan dan kesiapan teknis vaksinasi besuk," jelasnya.


Pihaknya mengucapkan terima kasih kepada Kodim 0706/Temanggung yang telah memberikan amanat untuk menggelar vaksinasi tersebut. "Semoga bermanfaat bagi sivitas akademika INISNU, AKPER Al-Kautsar dan masyarakat," katanya.


Dalam laporannya, Wakil Rektor I Hamidulloh Ibda mengatakan bahwa total pendaftar melalui online sudah mencapai 233. "Setiap hari selalu bertambah. Kita target H-2 sudah selesai mencapai 300 orang," ujar dia.


Seperti diketahui, program vaksinasi tersebut sudah diumumkan secara online. Mahasiswa dan alumni INISNU dan AKPER Al-Kautsar serta masyarakat umum bisa melihat pengumuman di laman https://inisnu.ac.id/download/pengumuman-pendaftaran-vaksinasi/ dan bisa melakukan pendaftaran mandiri melalui url https://bit.ly/VAKSINMERDEKA2021. 


Pendaftar akan ditutup jika sudah memenuhi kuota. Link akan tertutup otomatis dan tidak bisa dibuka ketika sudah memenuhi kuota. (HG11).


Temanggung, Harianguru.com - Sehari menjelang hari kemerdekaan RI ke 76, INISNU Temanggung menandatangani naskah kerjasama dengan Pemkab Temanggung terkait peningkatan pembangunan daerah. Bertempat di ruang rapat Pendopo Pengayoman, Bupati Temanggung H. Muhammad Al Khadziq dan PJs Rektor INISNU Sumarjoko menyampaikan bahwa dua institusi ini harus bergandeng tangan membangun daerah. 

Acara ini dipandu oleh Gotri Wijiyanto asisten 1 Sekda Temanggung dan disaksikan perwakilan dari Bappeda, pejabat bagian hukum dan pemerintah dan unsur dari INISNU Temanggung.

Dalam sambutan pengarahannya, Bupati H. Muhammad Al Khadziq menekankan bahwa posisi perguruan tinggi harus bisa menjadi corong kemajuan daerah. Apalagi INISNU sudah berusia relatif tua dan sudah banyak menghasilkan SDM di berbagai bidang. Untuk itu tugas dari para pendiri harus dilanjutkan oleh generasi sesudahnya. "Kami melihat bahwa moment perubahan bentuk ini semakin menasbihkan diri sebagai perguruan tinggi yang bermutu dan selalu menyejajarkan dengan kebutuhan zaman," kata Bupati pada Senin (16/8/2021).

"INISNU Temanggung sebagai bagian dari stakeholders pemerintah daerah patut untuk memberikan sumbangsih kepada masyarakat secara nyata, hal itu merupakan implementasi dari tri dharma perguruan tinggi. Kami siap berkolaborasi sesuai dengan kebutuhan membangun Temanggung gandem", tutur bupati mantan aktivis ini.

Lebih lanjut dikatakan bahwa komitmen kita jangan hanya behenti pada MoU tetapi harus ditindaklanjuti dengan MoA diberbagai bidang menjadi keharusan. Banyak bidang yg harus digarap secara serius khususnya disektor peningkatan kualitas SDM unggul, tanpa pembenahan serius mustahil cita-cita dalam mewujudkan Temanggung Marem, Gandem akan tercapai 

Sementara itu Pjs Rektor INISNU Sumarjoko menyampaikan bahwa kami tidak akan membatasi diri hanya dalam hal keagamaan semata tetapi dengan SDM muda lintas disiplin ilmu, siap mengawal pembangunan diberbagai bidang.

"Rata-rata dosen kami berusia 30-45 an. Selain itu kami juga sudah memiliki 5 orang doktor dan 10 dosen on going penyelesaian program doktoral. Jadi tidak berlebihan jika kami menjadikan Temanggung sebagai ladang pengabdian yang menjadi kewajiban asasi setiap akademisi", tutur kandidat doktor UIN Sunan Kalijaga ini.

Tanpa mengurangi esensi, acara terselenggara secara lancar menyesuaikan prokes dan berakhir pukul 12.00 WIB. Hal ini sesuai dari aturan penyelenggaraan acara di masa pandemi. (Hg11).


Jakarta, Hatianguru.com - Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Ditjen Pendidikan Islam Kemenag menggelar Training of Trainer (ToT) Pendidikan Inklusif berbasis Gender, Disabilitas dan Inklusi Sosial (GEDSI) Seri 5 pada Kamis (12/8/2021). ToT diberikan kepada para Fasilitator Nasional (Fasnas) untuk meningkatkan kualitas Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusif berbasis GEDSI , program kemitraan INOVASI , Ditjen Pendidikan Islam dan Froum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI).


ToT Seri 5 dengan tema "Akomodasi Pembelajaran pada Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusif berbasis GEDSI" ini digelar secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung lewat Youtube GTK Madrasah Channel.


Dalam sambutan pengantar, Kepala Subdirektorat Bina Guru dan Tenaga Kependidikan Raudlatul Athfal Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd., mengapresiasi semua peserta yang selalu aktif dalam ToT maupun dalam diskusi via daring.


“Kami berterima kasih kepada INOVASI atas kemitraan ini, sehingga program serial GEDSI, penyusunan Roadmap Madrasah Penyelenggara Inklusi , penyusunan video PKB, Penyusunan Juknis QA & ME, Piloting PKB RA yang sudah terlalui proses AKG dan sekarang tahap penyusunan Modul PKB RA, serta penyusunan juknis PKB untuk daerah 3 T. beber Siti Sakdiyah .


Sesungguhnya kegiatan ToT ini adalah upaya pengejawantahan atas amanat Undang-undang nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, ldimana dalam pasal 10 disebutkan bahwaaa hak pendidikan untuk penyandang disabilitas meliputi hak untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur dan jenjang pendidikan , secara inklusif dan khusus mempunyai kesamaan dalam memperoleh pendidikan di satuan pendidikan. Hal ini saya kira menjadi penguat dan tantangan bagi kementerian Agama untuk dapat memberikan layanan yang terbaik atas kepercayaan masyarakat menitipkan anak-anaknya yang berkebutuhan khusus di madrasah kita,” lanjutnya.



Mudah-mudahan ToT ini ada Tindak lanjutnya untuk bisa didesiminasikan di wilayah masing-masing, Rencana Direktorat GTK akan melanjutkan penguatan kapasitas Pendamping Kebutuhan Khusus ini melalui program Short Course ke Perguruan Tinggi yang menjadi benchmarking dalam Pengelolaan Pendidikan Luar Biasa di Indonesia. Dan hasil diskusi dengan peserta ToT tentang permasalahan layanan kepada ABK belum maksimal, “Selama ini guru-guru bergerak di madrasah dengan satu lambang yaitu keikhlasan, nilai ibadah, dan jiwa kasih sayang yang dengan harapan sebagai ladang pahala. imbuh Sakdiyah 

Kami juga berterima kasih kepada Forum Pendidikan Madrasah Inklusi (FPMI) yang sudah diberikah Surat Keputusan oleh Direktur GTK atas nama Dirjen Pendis, sehingga action plan dan rencana- rencana program bisa berjalan dengan lancar dalam penguatan pendidikan inklusi di madrasah. pungkas Kasubdit Bina GTK RA yang berasal dari Jepara Jawa Tengah yang terkenal sebagai kota Kartini .


Dalam kesempatan ini, dihadirkan tiga narasumber dari berbagai instansi. Ketiga narasumber itu adalah Kabag Data Perencanaan dan Kerjasama dalam Negeri Kemenag RI Dra. Ida Nur Qosim, M.Pd., Dewan Pakar FPMI - PLB UNESA Surabaya Dr. Sujarwanto, M.Pd., dan PTP Subdit Kurikulum dan Evaluasi KSKK Madrasah Kemenag RI Dr. Imam Bukhori, M.Pd.


Dalam penyampaian materinya, Kabag Data Perencanaan dan Kerjasama dalam Negeri Kemenag RI Dra. Ida Nur Qosim, M.Pd., mengatakan bahwa dalam menerapkan pendidikan inklusif, sumber daya manusia harus siap utamanya guru dan tenaga kependidikan dan juga sarana dan prasarana.


“Guru atau tenaga kependidikan yang terlatih, jadi itu skala prioritas. Misal tidak bisa, kita bisa mengusulkan kegiatan melalui KKG dan MGMP yang telah di usung Kemenag bersama World Bank . Tahun 2022 ke depan, kita bisa mengusulkan yang penting ada regulasi, ada data, agar ketika kita mengajukan lebih pede dan mantab,” bebernya yang dimoderatori Ilham Prakoso.


Untuk sarana dan prasarana, pihaknya menyarankan madrasah baik negeri atau swasta untuk tidak terlalu ribet dalam menyiapkan pendidikan inklusif, karena menurutnya sarpras tidak harus khusus. "Namun madrasah bisa menggunakan SBSN yaitu Surat Berharga Syariah Negara, dimana desain sarana dan prasarananya di buat yang ramah anak, ramah genger dan ramah inklusi tentunya " 


Untuk sarpras, katanya, bisa memaksimalkan dana BOS. Pihaknya mengharap agar semua madrasah bisa memaksimalkan semua potensi, karena Kemenag RI sendiri juga melakukan recofusing dana sampai empat kali sehingga beberapa anggaran untuk program atau kegiatan harus dihentikan sementara di masa pandemi ini.


"Saya cerita kesemangatan saja ini. Karena kita semua harus semangat. Mari kita sama-sama menggerakkan pendidikan inklusif bersama," bebernya sembari menceritakan cerita daerah dari Madura.



Narasumber kedua, Dewan Pakar FPMI - PLB UNESA Surabaya Dr. Sujarwanto, M.Pd., menjelaskan banyak hal tentang kurikulum dan RPP pendidikan inklusif. Mengawali penyampaian materinya, pihaknya menukil ayat Alquran dalam Surat Abasa yang menjadi dasar untuk peduli dan mengurusi anak berkebutuhan khusus.


"Mengurusi anak-anak reguler dan yang sekolah luar biasa ini pekerjaan yang luar biasa," tegasnya yang dimoderatori Pengawas Madrasah Kankemenag Kota Pekanbaru Riau Hj. Azmarwati, M.Pd.


Kata Hallahan dan Kauffman, lanjutnya, guru yang baik adalah guru yang dapat mengajar semua siswa. "Kalau ada guru mengajar di sekolah regular ada anak berkebutuhan khusus itu tantangannya luar biasa," bebernya.


Pihaknya mengibaratkan RPP seperti menu restoran. Pihaknya juga melontarkan pertanyaan kepada peserta ToT yaitu mengapa kurikulum di sekolah, RPP-nya harus dimodifikasi? Setelah mengajukan pertanyaan, kegiatan dilanjutkan diskusi dan penyampaian materi.


"Kurikulum akomodatif adalah kurikulum standar nasional yang disesuaikan dengan bakat, minat, dan potensi peserta didik berkebutuhan khusus. Pengembangan kurikulum akomodatif ini dilakukan oleh masing-masing sekolah inklusi," katanya.


Komponen kurikulum itu, menurutnya ada beberapa aspek. Pertama tujuan, keadaan yang ingin dicapai setelah menjalani proses pembelajaran berupa kemampuan kognitif, afektif maupun psikomotorik. Kedua isi, materi atau substansi yang harus dipelajari oleh peserta didik supaya dapat mencapai tunuan yang diinginkan. Ketiga proses, kegiatan atau aktivitas pembelajaran yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Keempat evaluasi, proses yang dilakukan untuk mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan.


Dari komponen kurikulum itu, pihaknya mengatakan perlu diotak-atik khusus untuk anak berkebutuhan khusus yang harus disesuaikan. "Misal ada materi Penjas, apakah anak berkebutuhan khusus harus ikut olahraga atau bagaimana. Maka ini perlu diotak-atik dan mengakomodasi kurikulum harus dilakukan," tegasnya.


Alur memodifikasi itu, diawali dari informasi dari tenaga ahli, orang tua, orang tua siswa, guru pendamping lalu dilakukan tes, pengamatan, wawancara dan lainnya. Kemudian dilakukan asesmen, yang juga didapat dari identifikasi, meliputi kemampuan, gaya belajar, perilaku akademik dan nonakademik, barulah dilakukan modifikasi perencanaan pembelajaran yang di dalamnya memuat tujuan, materi, proses dan evaluasi. "Inilah alur yang harus dilalui dalam mendesain rencana pembelajaran inklusif," lanjutnya.


Selain itu, pihaknya juga menjelaskan komponen-komponen kurikulum dan dilanjutkan diskusi dengan para peserta, dan peserta diberikan lembar kerja untuk dikerjakan.


Narasumber terakhir, PTP Subdit Kurikulum dan Evaluasi KSKK Madrasah Kemenag RI Dr. Imam Bukhori, M.Pd., menjelaskan materi ini tentu sangat beririsan dengan materi yang disampaikan Dr. Sujarwanto, M.Pd. “Ada tiga hal yang akan saya sampaikan. Pertama, strategi pembelajaran diferensiasi, kemudian pembelajaran kooperatif. Kedua, penataan kelas dan media pembelajaran. Ketiga, adaptasi pembelajaran, ini tentang Program Pembelajaran Individual (PPI) dan RPP adaptasi,” katanya.

Dijelaskannya, bahwa dalam pembelajaran inklusi ada yang namanya diferensiasi. “Setiap pembelajaran itu berbeda, dan tidak boleh digebyah-uyah, karena tidak semua yang asin itu uyah (garam), kadang keringat itu juga asin,” bebernya.

Dalam pembelajaran, menurutnya, penataan kelas, media pembelajaran, mengadaptasi kurikulum sehingga menjadi proses pembelajaran yang adaptif sesuai kebutuhan peserta didik amat penting. Menurutnya, ada materi tentang tiga hal di atas, lalu refleksi dan RTL sebagai penugasan sebagaimana narasumber sebelumnya.

Pihaknya berharap, peserta ToT setelah mengikuti sesi yang ia sampaikan menguasai dua aspek. Pertama, memahami dan memiliki keterampilan terkait strategi pembelajaran melalui pendekatan diferensiasi-instruksional di kelas. Kedua, memahami dan memiliki keterampilan terkait strategi pembelajaran melalui pendekatan pembelajaran koperatif di kelas.


Pihaknya melontarkan sebuah pertanyaan, yaitu mengapa perlu pembelajaran diferensiasi? “Tentu kita tidak menginginkan perlakuan terhadap peserta didik kita, itu disamaratakan sama. Kemudian perlakuan kita, terhadap peserta didik itu tidak adil, sehingga yang terjadi yang pintar semakin pintar, yang biasa ya tetap biasa-biasa saja, kemudian yang tidak pintar akan semakin tertinggal,” ujarnya.


Hal itu menurutnya masih terjadi di madrasah dan guru-guru kebanyakan lebih suka menangani anak-anak yang pintar. “Mereka yang pintar difasilitasi sehingga melesat jauh, sementara anak-anak yang dikesankan atau dipersepsikan sebagai anak-anak yang nakal, kurang cerdas, itu tidak begitu mendapatkan layanan. Ini yang masih kita saksikan,” tegas Pengurus Pusat LP Ma’arif tersebut.


Yang ideal, menurutnya, adalah layanan inklusif. “Jadi perlakuan kita, intervensi kita terhadap peserta didik itu disesuaikan dengan kebutuhan anak. Ini yang paling prinsip, dan itu yang paling tahu adalah guru itu sendiri,” bebernya.


Maka menurutnya, guru harus memiliki pemahaman penuh terhadap karakteristik peserta didiknya, baik karakteristik dari aspek fisik, atau aspek mental, aspek psikologis, atau aspek potensi religiusitas atau akhlak anak. “Ini harus dipahami betul, kemudian mereka diperlakukan sesuai karakteristik tersebut. Itulah prinsip dari pendidikan inklusif,” tegasnya.


Karena itu, diferensiasi instrusional didefinisikan sebagai pengajaran yang responsif lebih baik dari pengajaran satu metode yang digunakan untuk semua. Sedangkan ragam Diferensiasi - Instruksional yang dimaksud itu adalah dari aspek materi, proses, produk, dan lingkungan kelas


Di akhir penyampaian materinya, pihaknya menegaskan untuk bergerak bersama, memberikan layanan pendidikan terbaik bagi siapapun, tidak boleh ada yang tertinggal dalam mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu sebagai bagian pengabdian ibadah kepada Allah SWT.


Selain ketiga narasumber dan Kepala Subdirektorat Bina Guru dan Tenaga Kependidikan Raudlatul Athfal Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd., hadir juga perwakilan dari INOVASI, Ketua FPMI Pusat Supriyono, M.Pd., panitia dan peserta dari berbagai daerah. (HG99/Ibda).

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget