Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

September 2021


Temanggung, Harianguru.com
- Sebagai perguruan tinggi milik Nahdlatul Ulama, Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung diharapkan dapat berkonstribusi dalam mengembangkan moderasi beragama.


Harapan tersebut disampaikan Agen Raharjo dari Badan Intelijen Negara (BIN) saat bersilaturahmi dengan pengurus dan pejabat INISNU Temanggung pada Jumat (24/9/2021) di ruang rektorat.


Dalam pertemuan tersebut juga digagas adanya Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan para pimpinan Ormas dan lembaga untuk membahas internalisasi dan implementasi gerakan moderasi di masyarakat terutama di kalangan muda. 


"Problematika berkembangnya radikalisme dan di kalangan muda disebabkan karena pemahaman keagamaan yang sempit," jelas Sekretaris Badan Pelaksana Penyelenggara INISNU H. Mahsun.


Selanjutnya dijelaskan bahwa perlu ada internalisasi nilai moderasi melalui kajian keagamaan di sekolah dan kampus dengan narasumber yang tepat.


Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Muh Syafi' di kesempatan itu juga mengharapkan agar BIN menjadi mitra strategis INISNU untuk program kewaspadaan dini.


Hal itu diperkuat lagi dengan keterlibatan dosen dan mahasiswa INISNU dalam pengawalan moderasi beragama dalam penelitian. Selain itu PJs Wakil Rektor I Hamidulloh Ibda juga aktif sebagai Ketua Bidang Media, Hukum dan Humas Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah yang selalu mengikutsertakan mahasiswa dalam kegiatan kontra narasi dan deradikalisasi. Seperti melalui webinar dan memasukkan perlombaan dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK).


"Kampus kami siap menjadi agen untuk Mendesiminasi program cegah tangkal radikalisasi," katanya.


Pihak BIN dalam kesempatan tersebut juga mengapresiasi kepada INISNU dan KBIHU Babussalam Nu yang ikut mensukseskan vaksinasi yang diselenggarakan oleh BIN dan Pemkab Temanggung. (HG44).


Temanggung, Harianguru.com
- Dosen Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah dan Kegurun INISNU Temanggung melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) hibah Diktis Kemenag RI tahun 2021 dengan Ketua Tim Hamidulloh Ibda dan anggota Andrian Gandi Wijanarko.


Pada tahap pertama ini yang mengangkat tentang Moderasi Islam melalui Webinar Penguatan Kurikulum Aswaja Annadhliyah LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah dalam Mencegah Radikalisme Agama pada Jumat, (24/09/2021) 


Turut hadir dalam kesempatan itu, Pjs Wakil Rektor I, Hamidulloh Ibda, M.Pd, Pjs Kaprodi PGMI, Andrian Gandi Wijanarko, M.Pd, Pemateri I, II, dan Guru MI, SD, Kepala MI, pengurus LP Ma'arif NU sebagai peserta Webinar.


Kegiatan tersebut menghadirkan Koordinator Tim Penyusun Kurikulum LP Maarif PWNU Jawa Tengah Abdul Khalim, M.Pd., dan Pjs Kaprodi PAI INISNU Temanggung Sigit Tri Utomo, M.Pd.I, yang menjadi pemateri dalam acara yang diikuti oleh 25 peserta yang berasal dari Temanggung, Magelang dan Purworejo. 


Dalam Sambutanya, Pjs Wakil Rektor I, Hamidulloh Ibda, M.Pd., menyampaikan tujuan kegiatan PkM. Dijelaskannya, PkM tersebut merupakan hibah dari bantuan Pengabdian kepada Masyarakat tahun 2020 yang terlaksana tahun ini karena recofusing Covid-19.


“Kegiatan ini kami harapkan mampu memberikan manfaat bagi peserta dalam menganalisis kurikulum Aswaja Annadhliyah. Setelah selesai webinar ini kami harapkan seluruh peserta dapat mengikuti rencana tindak lanjut untuk membedah kurikulum dengan pendampingan bapak Abdul Halim, M.Pd, dari LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah. Kemudian pada tahap dua nanti kita laksanakan secara tatap muka terbatas yang menghasilkan kurikulum Aswaja Annahdliyah atau Ke-NU-an jenjang MI," beber dia.


Kegiatan dilanjutkan kegiatan webinar yang dimoderatori oleh Novia Sari Melati. Dalam kesempatan itu, Pemateri I, Sigit Tri Utomo, M.Pd.I menyampaikan Telaah Kurikulum PAI MI dan Muatan Moderasi Beragama. 


Selanjutnya, Pemateri II, Abdul Halim, M.Pd Bedah Kurikulum Ke-NU-an dan Aswaja Annadhliyah LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah. Kegiatan diakhiri setelah koordinasi terkait rencana tindak lanjut setelah webinar ini yang dipandu oleh Andrian Gandi Wijanarko, M.Pd. (adm)


Lombok, Harianguru.com - Direktorat GTK Kementerian Agama RI melalui program komponen 3  MEQR (Madrasah Education Quality Reform) menyelenggarakan Pelatihan Penguatan Pendidik Inklusif di Hotel Holiday Resort Lombok Barat NTB pada tanggal 18 s.d 24 September 2021.


Hadir sebagai narasumber Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd. selaku Kasubdit Bina Guru dan Tendik RA GTK Madrasah, dengan materi regulasi pendidikan inklusif di direktorat jenderal pendidikan Islam.


Disela-sela pelatihan para peserta mendapatkan tugas observasi, wawancara dan penelitian implementasi pendidikan inklusif di MI NW Tanak Beak Narmada Lombok Barat NTB pada tanggal 23 September 2021, kegiatan ini juga didampingi oleh Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd. dan pengurus Forum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI) Pusat. Kedatangan Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd. beserta rombongan disambut meriah oleh ketua Yayasan, Kepala Madrasah, dewan Guru dan peserta didik MI NW Tanak Beak.


Kepala MI MW Tanak Beak Hj. Nurimin, S.Pd. dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang dan rasa haru yang tidak terkira atas kehadiran Kasubdit Bina Guru dan Tendik GTK beserta rombongan, beliau juga menyampaikan dalam ungkapannya bahwa pelaut yg ulung tidak berlayar di laut yang tenang, jangan sampai menolak anak yang ingin belajar, apapun latar belakangnya, apapun kondisinya, dan pahala itu tergantung jerih payahnya seseorang. setelah itu sambutan dilanjutkan oleh Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd, beliau memberikan apresiasi yang mendalam atas terselenggaranya pendidikan inklusif di MI NW Tanak Beak, beliau berpesan agar terus berjuang dalam memberikan pelayan inklusif untuk anak-anak PDBK, "sebagai seorang pelaut, jangan pernah mundur jika ada badai yang menerjang" imbuhnya.


Setelah pembukaan, Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd dan peserta pelatihan meninjau secara langsung implementasi pendidikan inklusif menuju ke ruang sumber dan beberapa ruang kelas, dalam observasi peserta dibagi menjadi tiga kelompok, 1). Kelompok Akademik, 2) Kelompok Manajerial, 3) Kelompok Layanan Komensatoris, tugas dari masing-masing kelompok membuat laporan berupa vlog durasi 5 menit. Kegiatan ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan dari Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd, Ketua FPMI Pusat dan Bendahara FPMI Pusat.


Pelatihan Penguatan Pendidik Inklusif ditutup bersamaan dengan Pengukuhan Pengurus FPMI NTB, yang dihadiri oleh Direktur GTK Madrasah Dirjen Pendis Dr. Muhammad Zain, Dewan Penasehat FPMI NTB Ir. H. Lalu Winengan, MM. dan Dewan Pakar FPMI NTB Dr. H. Lukman Hakim, M.Pd. melalui virtual, dan hadir secara langsung Kasubdit Bina Guru dan Tendik GTK RA Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd.


Pengurus FPMI NTB dikukuhkan secara langsung oleh Ketua FPMI Pusat, Supriyono, S.Pd.I., M.Pd. didampingi oleh Maskanah, MPd, selaku Ketua I FPMI Pusat, dan bertugas sebagai Pembacaan SK Erwan Hermawan, S.Pd.I., M.Pd, selaku Sekretaris II FPMI Pusat. Adapun pengurus yang dikukuhkan ketua umum Mahruf, S.Pd. M.Pd.I, wakil Ketua H. Ahmad Mujahidin, B.Ed., M.Pd., Sekretaris Ilham Prakoso, Bendahara Dr. Mira Mareta, MA. Bersama pengurus lainnya.


Berita acara pengukuhan ditandatangani oleh Ketua FPMI Pusat selaku yang mengukuhkan, ketua FPMI NTB selaku yang dikukuhkan dan Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd sebagai saksi dalam pengukuhan tersebut.


Sebagai penutup kegiatan pelatihan Penguatan Pendidik Madrasah Inklusif, Direktur GTK Dirjen Pendis, Dr. Muhammad Zain, M.Ag menyampaikan bahwa dalam mengelola madrasah terutama pendidikan inklusif harus didasarkan dengan cinta, segala sesuai yang dilakukan dengan cinta akan berbuah kebaikan. (HG44).

Suasana penyusunan modul di Surabaya

Surabaya, Harianguru.com
- Madrasah memiliki kekhasan tersendiri dalam proses pembelajaran. Kekhasan pembelajaran madrasah bukan saja terletak pada jumlah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab yang jauh lebih banyak dari pada di sekolah, namun justru pada nilai-nilai yang mewarnai proses pembelajaran dan penilaian. Nilai-nilai inilah yang akan diperkuat implementasinya dalam proses pembelajaran di madrasah. Hal ini disampaian Direktur KSKK Madrasah Moh. Ishom secara virtual jarak jauh.

"Madrasah adalah sekolah umum bercirikhas agama Islam. Jadi, dengan demikian lulusan madrasah sama dengan lulusan sekolah dengan nilai tambah tertentu. Nilai tambah tersebut berupa kedalaman pemahaman, penerapan dan internalisasi bahkan transformasinya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan sehari-hari. Cara berpikir, bersikap dan bertindak insan madrasah diwarnai dengan nilai-nilai agama Islam," imbuhnya.

Untuk memperkuat nilai-nilai tersebut dalam proses pembelajaran, Kementerian Agama RI melalui Direktorat KSKK Madrasah menyusun modul pendampingan implementasi pembelajaran PAI dan Bahasa Arab (Angkatan I) di Surabaya pada 22 sampai 24 September 2021.

Dalam sambutan laporannya, Kasubdit Kurikulum dan Evaluasi pada Direktorat KSKK madrasah, Ahmad Hidayatullah menyampaikan, bahwa  modul ini akan disusun secara berbeda sesuai karakteristik mata pelajaran. Asumsinya adalah, bahwa mengajarkan fiqih tentu berbeda dengan bagaimana mengajarkan mata pelajaran aqidah. Demikian juka berbeda cara mengajarkan akhlak, apalagi Bahasa Arab. Karena katakteristik mata pelajaran berbeda. Perbedaan ini berkonsekwensi adanya perbedaan metode, pendekatan dan teknik pembelajarannya.

Tidak hanya itu, modul juga diperkaya dengan konten yang mengimplementasikan pembelajaran abad-21, berbasis literasi dan moderasi beragama. Demikian disampaian Kasubdit Kurikulum dan Evaluasi pada Direktorat KSKK madrasah.

Kegiatan ini diikuti oleh para penyusun modul dari unsur praktisi pendidikan yaitu guru, pengawas dan kepala madrasah, serta unsur akademisi dari perguruan tinggi sesuai bidang keahlian masing-masing, baik ahli konten maupun metodologi dan teknologi pembelajaran.

Diharapkan output rangkaian kegiatan ini akan menghasilkan 22 modul sesuai mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab pada setiap jenjang madrasah. Buku-buku tersebut antara lain; Al-Qur’an Hadis, Akidah Akhlak, Fikih, SKI dan Bahasa Arab untuk jenjang MI, MTs dan MA. Adapun modul pendampingan khusus mata pelajaran MA peminatan/ program Keagamaan antara lain; Tafsir, Hadits, Akhlak-Tashawuf, Ilmu Kalam, Usul Fikih, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, Nahwu-Sharaf, dan Balaghah. Rangkaian penyusunan modul dilakukan secara bauran antara kegiatan daring dan luring dalam semua tahapannya.

Diharapkan modul pendampingan ini akan merubah suasana pembelajaran di madrasah lebih hidup, berkembang dan diwarnai nilai-nilai religiusitas. Yaitu suasana kebatinan yang diwarnai nilai-nilai agama Islam moderat dalam cara berpikir, bersikap dan bertindak para guru, kepala madrasah, pengawas, peserta didik dan warga madrasah lainnya. (Red-Hg99/ImamBk).


Yogyakarta, Harianguru.com - Kegiatan pengabdian masyarakat berjudul “Workshop Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Luaran Penelitian pada KKG Kelas IV Kecamatan Godean” telah dilaksanakan di SD N Semarangan 4 Godean Bantul pada hari Sabtu, 18 September 2021. Tahap pra-pelsksanaan dilakukan untuk mengetahui kondisi dan potensi serta permasalahan yang dimiliki guru-guru KKG Kelas IV Kecamatan Godean. Tahap ini dilaksanakan melalui percapakan di whatsapp dengan guru kelas IV SD N Semarangan 4 Godean dan melalui mahasiswa PPG Prajab yang PPL di SD N Semarangan 4 Godean. Melalui wawancara diketahui bahwa: a) Guru-guru masih mengalami kesulitan pada saat melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terutama pada identifikasi permasalahan, analisis data, dan penulisan laporan PTK; b) Guru-guru masih mengalami kesulitan mengenai luaran penelitian yang dihasilkan terutama pada menulis artikel jurnal dan prosiding; c) Perlu adanya kegiatan workshop penelitian tindakan kelas baik penyusunan proposal sampai pada penyusunan laporan penelitian; d). Perlu kegiatan workshop mengetahui jenis-jenis luaran penelitian, misal artikel media massa, jurnal, prosiding, HAKI, buku, dll.

 

Observasi Observasi dan wawancara mengenai permasalahan yang dihadapi guru- guru kelas IV se-Kecamatan Godean melalui whatsapp pada tanggal 10 September 2021. Setelah diketahui kondisi umum guru-guru KKG Kelas IV Kecamatan Godean, tim pengabdi menyusun kegiatan Workshop Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Luaran Penelitian pada KKG Kelas IV Kecamatan Godean yang nantinya dapat diimplementasikan di kelas. Tahap analisis dilaksanakan pada tanggal 09-10 September 2021. Pada tahap ini tim pengabdi melakukan observasi karakteristik guru-guru KKG Kelas IV Kecamatan Godean.

 

Setelah itu dilaksanakan koordinasi dengan tim pengabdi, karena terkait permasalahan yang dihadapi guru-guru kelas IV se-Kecamatan Godean melalui whatsapp. Kemudian tim juga menyusun jadwal dan teknis kegiatan sesuai dengan hasil diskusi dengan guru kelas IV SD N Semarangan 4 Godean. Selain itu analisis juga berkaitan tempat pelaksanaan kegiatan terkait dengan pengaturan jaga jarak, kemudian protokol Kesehatan yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, pembatasan jumlah peserta yang ikut pada kegiatan. Kegiatan ini akan dilaksanakan di SD N Semarangan 4 Godean, kemudian juga disesdiakan sabun cuci tangan, handsanitizer, serta pembatasan jarak antar peserta saat kegiatan berlangsung.

Pada tahap demonstrasi, tim pengabdi memberikan penjelasan mengenai identifikasi masalah, penyusunan proposal, dan penyusunan laporan PTK. Identifikasi masalah dapat dilihat dari evaluasi diri guru melalui menjawab pernyataan: Apakah dalam menjelaskan materi, saya menggunakan bahasa yang cukup jelas? Apakah saya menggunakan istilah-istilah yang sulit dimengerti peserta didik? Apakah dalam menjelaskan, saya menggunakan contoh yang cukup? Apakah dalam menjelaskan, saya menggunakan alat bantu? Apakah saya memberitahukan waktu ulangan kepada peserta didik?, bertanya ke siswa, melihat dokumen, observasi temuan permasalahan yang ada di kelas.

Penyusunan proposal PTK meliputi pendahuluan, landasan teori dan hipotesis tindakan, metode penelitian, serta instrumen penelitian. Penyusunan laporan PTK meliputi pendahuluan, landasan teori dan hipotesis tindakan, metode penelitian, hasil penelitian dan pembahasan, simpulan, implikasi, saran serta instrumen penelitian. Setelah itu tim menjelaskan mengenai luaran penelitian misalnya artikel jurnal, artikel prosiding, artikel media massa, produk, HAKI, Paten dll. Setelah penyampaian materi kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab dengan guru-guru. Adapun pernyataan dari guru mengenai menyusun abstrak pada artikel jurnal/prosiding, kemudian menentukan pembatasan masalah serta menyusun indikator keberhasilan.

Kemudian dijelaskan oleh pemateri penyusunan abstrak terdiri atas tujuan penelitian, metode penelitian, dan hasil penelitian, kemudian disusun dalam satu paragraf dan spasi 1, menyesuaikan dengan template masing-masing jurnal. Kemudian untuk pembatasan masalah dipertimbangkan urgensi dari masalah tersebut dan kemampuan baik dari segi guru, tenaga, dan dana. Selanjutnya untuk indikator keberhasilan disesuaikan dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) atau kriteria skala misalnya sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, sangat rendah, dll. Pada tahap evaluasi ini dilakukan diskusi terhadap kegiatan yang telah dilakukan serta direncanakan tindak lanjut selanjutnya. Kegiatan pengabdian masyarakat dapat dilaksanakan dengan baik tanpa kendala yang berarti. Guru-guru KKG Kelas IV Kecamatan Godean mengetahui penyusunan proposal PTK, laporan PTK, dan berbagai luaran penelitian.  (Trisniawati, Siti Anafiah, Diki Darmawan, Diyah Syafitri)

 

 


Kalsel, Harianguru.com - Forum Pendidik Madrasah Inklusi (FPMI) Kalsel bekerjasama dengan beberapa Madrasah di kota Banjarbaru, kota Banjarmasin dan kabupaten Banjar  telah melaksanakan kegiatan sosialisasi  madrasah inklusi perdana di RA Al Hikam kota Banjarbaru dengan kegiatan parenting yang mengusung tema “Membangun Pengasuhan Positif Anak Usia Dini di Masa Pandemi“ pada hari selasa, 14  September 2021.

Kegiatan ini dihadiri oleh Bu Husnul khotimah,Sp  selaku praktisi Pendidikan inklusi, Bu Hj. Hernita M.Pd.I selaku pengawas Madrasah kota Banjarbaru,Khairul umatin ida cahya nirwana selaku peserta TOT FASNAS perwakilan Kalsel,Bu Siti Aisyah,S.Ag.I selaku Kepala RA Alhikam dan Bu Linda Yani Pusfiyaningsih ,S.Psi,M.Si, selaku  narasumber kegiatan parenting  kegiatan ini juga di hadiri oleh beberapa mahasiswa PKL STAI Darussalam.

Kegiatan ini di lakukan mulai pukul 09.00 WITA sampai  dengan  11.00 WITA. Sebelum kegiatan berlangsung  di bagikan form cek list tentang perkembangan anak kepada peserta parenting dalam hal ini adalah ortu /wali murid RA Alhikam. Acara ini di awali dengan pembukaan oleh Ibu Husnul khotimah selaku praktisi pendidikan inklusi . Kemudian di lanjutkan dengan sambutan yang di sampaikan Ibu Hernita selaku pengawas Madrasah kota Banjarbaru dan di lanjutkan dengan Ibu  Linda Yani Pusfiyaningsih ,S.Psi,M.Si selaku narasumber kegiatan Parenting.

Selama kegiatan berlangsung peserta parenting sangat antusias  dan aktif  berdiskusi tentang pola asuh anak terutama di masa pandemi ini dari beberapa pertanyaan hampir seluruh peserta mengeluhkan anaknya mengalami tantrum dalam mengerjakan tugas daring dari sekolah.Kegiatan ini di tutup dengan bimbingan identifikasi awal untuk  guru – guru RA  Alhikam berdasarkan form cek list perkembangan anak yang telah di bagikan.Kegiatan ini akan lanjutkan  ke madrasah – madrasah di kota banjarbaru,kabupaten Banjar dan Kota Banjarmasin.Dengan harapan Pendidikan inklusi di lingkungan madrasah mendapat respon positif dari penentu kebijakan dan masyarakat umum. (KP33).


Jakarta, Harianguru.com
- Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI menggelar Training of Trainer (ToT) Pendidikan Inklusif berbasis Gender, Disabilitas dan Inklusi Sosial (GEDSI) Seri-7 pada Rabu (8/9/2021) via Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui Youtube GTK Madrasah Channel. ToT seri-7 ini mengangkat tema Sistem Monitoring, Evaluasi Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusif Berbasis GEDSI.

 

Dalam pengarahannya, Kasubdit Kurikulum Dan Evaluasi Direktorat KSKK Madrasah Kemenag RI Dr. Ahmad Hidayatullah, M.Pd., menyampaikan peluang-peluang kebijakan kurikulum inklusif di madrasah. Pihaknya menyampaikan pengembangan kurikulum inklusif di madrasah.

 

"Tampaknya kita perlu melakukan pembahasan intensif terkait pengembangan kurikulum inklusif di madrasah. Masalah pendidikan inklusi ini sebenarnya sudah lama digaungan, namun membutuhkan upaya sendiri untuk meletakkan paradigma ini kepada semua lini level pembahasa, pengambil kebijakan di satuan pendidikan termasuk di madrasah," bebernya yang dimoderatori Dr. Yeni Sri Wahyuni Rangkuti, S.Pd., MA.

 

Dijelaskannya, bahwa target dalam pengembangan kurikulum dimimpikan pengembangan program pembelajaran yang memastikan terwujudnya Gender Equality/Kesetaraan Gender, Disability/Disabilitas and Social Inclusion/Inklusi Sosial (GEDSI) di madrasah. "Tentunya ini tidak bergerak sendiri di Direktorat KSKK, selalu melibatkan dalam kaitan sarpras, kelembagaan dan kesiswaan," lanjutnya.

 

Pihaknya menjelaskan soal cara mewujudkan GEDSI dalam perspektif pengembangan kurikulum. "Kita sudah banyak melakukan upaya-upaya penyelenggaraannya. Terkait dengan GEDSI untuk ditegakkan, ini merupakan tantangan tersendiri di tengah keragaman bangsa Indonesia. Di Kementerian Agama, konsep ini tidak beda dengan dengan moderasi beragama. Walaupun ada beragamanya, namun moderasi beragama memberikan ruang kebijakan untuk bisa mendorong bagaimana upaya-upaya yang menghormati keberagaman, kebhinekaan, dan sebagainya," lanjutnya.

 

Di dalam target pengembangan kurikulum pendidikan inklusif di madrasah hanya satu, lanjutnya, yaitu meleburkan skat-skat, perbedaan-perbedaan, diskrimasi dalam gender, geografi, kemiskinan, akses internet, migrasi, bahasa, budaya, suku bangsa, kemudian disabilitas itu bisa diatasi.

 

"Dalam bahasa saya meleburkan skat-skat tersebut dalam pembelajaran di madrasah, ini bukan bicara sederhana, namum meleburkan skat-skat untuk mewujudkan interkoneksi yang cukup luas, cukup harmonis, untuk bisa membawa anak-anak kita ke dalam pemahaman yang general di dalam menyikapi keanekaragama ini ternyata kalau kita kaji secara dalam membutuhkan kesadarana dan pehamahan kita secara jeli, pernik-perniknya begitu dalam," lanjutnya.

 

Pihaknya berharap, kepada guru dan stakeholders di madrasah untuk bisa mengimplementasikan paradigma tersebut. "Kita bisa beropini, namun dalam pelaksanaannya terkadang susah dilakukan. Mengapa? Seperti sudah saya katakan tadi, program-program pendidikan inklusi sudah lama digaungkan, namun perlu keterlibatan kita secara massif dan juga kesadaran kita," tegas dia.

 

Dalam Kebijakan Kurikulum dan Evaluasi, agar guru-guru bisa menyikapi keanekaragaman siswa, sudah ada beberapa regulasi. Mulai dari jenjang RA: KMA 792 Tahun 2018, PAI Madrasah: KMA 183 Tahun 2019, Implementasi Kurikulum: KMA 184 2019, Supervisi Pembelajaran: KMA tentang Supervisi Pembelajaran.

 

Maka dari itu, ada beberapa agenda yang dilakukan. Pertama, panduan kurikulum akomodatif dalam mengimplementasikan kurikulum yang mengarusutamakan GEDSI. Kedua, panduan identifikasi dan assesmen fungsional bagi Peserta Didik Berkebutuan Khusus (PDBK). Ketiga, pedoman program pembelajaran individual/SKS ( PPI). Keempat, pedoman pembelajaran dan penilaian akomodatif. Kelima, panduan pengembangan strategi dan media pembelajaran inklusi. Keenam,  juknis monitoring, evaluasi, pelaporan dan penjaminan mutu internal. Ketujuh, pengembangan budaya inklusif di madrasah.

 

Di akhir sambutan, ia berharap agar semua elemen konsisten menjalankan perjuangan pendidikan inklusif di madrasah. Usai sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi dari para narasumber. Pertama adalah Dewan Pakar FPMI Pusat/Ketua Umum Lintang Samudra Edukasi Yayasan MDP Indonesia Drs. Dedy Kustawan, M.Pd., yang menyampaikan materi Kebijakan Dan Konsep
Monitoring Dan Evaluasi Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Berbasis Gender, Disabiltas, Dan Inklusi Sosial. Kedua, Pengurus FPMI Kemenag Pusat Maskanah, S. Ag. M. Pd., yang menyampaikan materi Mekanisme Pelaksanaan Sistem Monitoring, Evaluasi Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusif Berbasis Gender, Disabilitas, Dan Inklusi Sosial yang dimoderatori Pengawas Madrasah Kankemeneg Kabupaten Bone Akmal, S.Ag., M.Pd.I.

 

Deputy Director Learning INOVASI Feiny Sentosa dalam kesempatan itu mengatakan selamat atas terlaksananya ToT sejak April seri-1 sampai dengan September 2021 seri-7 yang merupakan sesi akhir. "Pelatihan ToT biasanya merupakan langkah awal untuk mendiseminasikan atau meneruskan pelatihan selanjutkan diteruskan kepada praktisi, guru atau kepala madrasah yang justru akan melaksanakan apa yang dilatih di madrasah-madrasah mereka," bebernya.

 

Tugas ke depan, pihaknya berharap para Fasnas yang sudah dilatih untuk menularkan, mendampingi, dalam perjalanan, mendorong guru dan kepala untuk terus mencoba, mencoba lagi sampai berhasil. "Masa pendampingan ini sebenarnya masa yang penting bagi guru, untuk melaksanakan refleksi melalui pengamatan dengan teman sejawat, atau dengan pendamping atau dengan Fasnas sendiri," katanya.

 

Pihaknya berharap agar lokakarya atau ToT ini berjalan maksimal dengan tindaklanjut di madrasah masing-masing. “Perlu evaluasi pelaksanaan dan pendampingan, perlu apa sih yang harus dimaksimalkan ke depan,” harapnya.

 

Di akhir sesi, secara resmi ditutup oleh Direktur GTK Madrasah Kemenag RI Dr. Muhammad Zain, M.Ag. Pihaknya mengapresiasi saat kunjungan di Semarang dan bertemu dengan guru-guru inklusi yang luar biasa, yang mampu mengawal anak-anak yang memiliki keterbatasan. "Mereka punya cara tersendiri yang luar biasa, yang bisa mencari talenta dari anak-anak yang berkebutuhan khusus tersebut," paparnya.

 

Dari data EMIS, kita memiliki 43 ribu anak berkebutuhan khusus dan guru-guru kita banyak yang belum terlatih secara profesional. "Dalam konteks inilah, arti penting ToT Fasilitator Nasional ini, dan semua yang kita latih, para tutor ini bisa meneruskan para ilmu pada guru di daerah masing-masing," harapnya.

 

Pihaknya berharap, agar para Fasnas menularkan semua ilmu, praktik baik dan pengalaman yang didapat kepada semua guru di daerah masing-masing untuk memaksimalkan apa yang didapat. Pihaknya juga berharap ke dapan ada program-program yang berkelanjutan yang menyentuh pendidikan inklusi karena dari hasil wawancara dengan guru-guru, masih banyak guru yang ternyata belatihan otodidak tentang inklusi. (Ibda).

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget